Perempuan Tanah Jahanam: Bukan Horor Generik Yang Mudah Ditebak!

Perempuan Tanah Jahanam horor berbasis budaya. Ia terasa dekat dengan kita.

Diterbitkan 18 Oktober 2019, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dari opening ini saja, tergambar jelas Perempuan Tanah Jahanam bukan horor kebanyakan. Dengan akar budaya dan mitos seputar adat yang berkelebatan di sekitar kita, Joko Anwar menulis naskah dengan konflik serupa dahan pohon yang bercabang-cabang. Kita tak akan bisa menyimpulkan dengan mudah kecuali mengikuti alur demi alur. Dengan begitu, terlihat jelas bentuk pohon cerita yang ditanam Joko Anwar. Ini terkait motivasi, penokohan, dan latar belakang setiap karakter yang muncul di film.

Perempuan Tanah Jahanam dimodali penokohan yang masuk akal serta dialog yang menajamkan karakter. Dan karena ini Joko Anwar, apa pun genrenya terasa relevan dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Ini tergambar jelas salah satunya di adegan mendoakan makam namun sang tokoh bingung doanya bagaimana. Ya sudah berdoa saja dalam bahasa Indonesia toh Tuhan tidak hanya memahami satu bahasa. Khas Joko, genit sekaligus satir. Tara Basro tampil natural sementara Marisa mengimbanginya dengan gaya celamitan.

Sensasi Was Was

Tokoh Dini terlihat berenergi berkat celetukannya yang kadang enggak pakai otak tapi sering benar. Ceplas-ceplos, usil, dan membuat penonton terhubung dengan sahabat model begini. Di sisi lain kita tak perlu meragukan akting Christine Hakim. Ekspresinya saat membuka pintu, berjalan, dan menatap lawan bicara (padahal belum ngomong) bikin jantung berdesir. Tanpa bicara, air muka kolektor 8 Piala Citra ini merefleksikan sesuatu yang kompleks. Mau menuduh dia jahat, rasanya kepagian. Mau berprasangka baik pun, penonton enggan. 

Itulah yang kami rasakan kali pertama berpapasan dengan Christine di layar putih. Ini membuktikan level keaktorannya. Kita patut mengapresiasi Ario Bayu yang auranya memancar saat memakai belangkon, beskap, dan keris. Juga Asmara Abigail berikut dinamika emosi dan mativasinya. Sebagai horor, Perempuan Tanah Jahanam unik. Ekspresi sejumlah pemeran pendukung mengirim sensasi waswas ke pihak penonton. 

Keseraman dibangun dari pemilihan lokasi, set, serta suasana perkampungan yang ganjil. Belum lagi tata suaranya, membuat kesan wingit terasa bulat dan utuh. Perempuan Tanah Jahanam membangun dunianya sendiri. Penonton dipersilakan masuk dan menjadi bagian dari kegilaan di desa jahanam itu bersama penduduknya. Alurnya terus mengajak kita menebak apa, siapa, dan mengapa. Film ini bukan horor generik yang mudah diterka. Kita dikondisikan mengenali para tokoh dulu dengan saksama. Bagi yang masih mengasosiasikan horor dengan teror lelembut setiap 5 atau 10 menit bisa jadi kecewa.  

Mohon maaf, Joko Anwar sudah tidak di level itu lagi. Dan rasanya memang ia tak pernah mendefinisikan horor sedangkal itu. Keseraman bukan berasal dari setan semata. Pernah mendengar istilah kesetanan? Pada akhirnya, kita ingat Pengabdi Setan melahirkan sosok ibu Mawarni Suwono yang ikonis. Bukan tidak mungkin, Perempuan Tanah Jahanam juga melahirkan sosok ikonis. Nyi Misni, Dini, Maya, atau tokoh lain? Datang dan temukan jawabannya di bioskop.  

Pemain: Tara Basro, Marisa Anita, Ario Bayu, Christine Hakim, Asmara Abigail, Rifnu Wikana

Produser: Shanty Harmayn, Tia Hasibuan, Ben Soebiakto, Aoura Lovenson Chandra

Sutradara: Joko Anwar

Penulis: Joko Anwar

Produksi: Base Entertainment, Rapi Film, CJ Entertainment, Ivanhoe Pictures

Durasi: 106 menit

 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan