Danur 3 Sunyaruri, Terpikat Rasa Takut dan Sinematografi yang Dirajut  

Danur 3 Sunyaruri adalah sekuel yang memang harus dibuat. Posisinya penting, beralasan, tak sekadar mengulang sukses.

Diterbitkan 27 September 2019, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Visual Apik

Akting Prilly Latuconsina lebih berkembang jika dibandingkan dengan dua jilid sebelumnya. Aura jatuh cinta dan kegelisahan akibat dilema tergambar jelas via gestur dan tatap matanya. Lalu kita melihat bagaimana teror menyerang fisik khususnya mata Risa. Rasa takut yang semula datang dari satu arah (yakni makhluk halus yang belum jelas motivasinya di pertengahan film) berubah jadi dua. Pasalnya transformasi mata Prilly memantik kengerian tersendiri. Ia tampak total.

Di sisi lain, Dimas di tangan Rizky Nazar adalah perihal karisma dan kenyamanan. Dari caranya memperlakukan pasangan hingga senyuman membuat kita paham mengapa Risa jatuh cinta.

Yang khas dari horor Awi Suryadi, gambar-gambar yang terbingkai indah. Beberapa di antaranya tampak puitis. Sejak Sunyi dan Asih, Awi Suryadi makin ciamik menembak gambar. Ini kentara di adegan Risa duduk di atas batu, menulis naskah, dengan latar bukit berselimut kabut tipis menyerupai asap.

Atau tengok shot Risa berkomunikasi dengan seorang perempuan di bukit itu. Wajah perempuan ini ditampilkan closeup. Memungkinkan kita melihat detail makeup maupun pori-pori kulit mukanya. Ia berbicara dengan Risa yang begitu indah dalam format siluet. Ini membuat gambar-gambar Danur 3 Sunyaruri tampak lebih ciamik.

Danur 3 Sunyaruri membuat penonton terpikat oleh rasa takut juga sinematografi yang indah terajut. Ini bisa dijadikan ciri khas bagi film-film Danur Cinematic Universe berikutnya.

Kekuatan dan Kelemahan

Tiga per empat film ini terjalin rapi dengan teknik penuturan yang komunikatif. Namun titik lemah film ini terletak di sekitar 20 menit terakhir, khususnya motivasi sang penebar teror. Latar belakang penokohannya terasa agak instan dan buram. Selain itu, motivasinya terlalu sederhana untuk rentetan teror yang bikin jantung mau copot sejak menit awal. Khusus untuk aspek yang satu ini, Sunyaruri tidak lebih kuat dari I Can See Ghosts dan Maddah.

Namanya juga film. Ada kelemahan dan kelebihan. Terlepas dari plus minusnya, harus diakui waralaba Danur dan Pengabdi Setan berjasa besar dalam memulihkan marwah horor lokal.

Tugas berikutnya, memastikan agar genre populer ini tak terjerembab ke jurang esek-esek, sistem kerja “yang penting setannya nongol tiap lima menit,” atau “pokoknya musik harus bikin orang kaget.” Omong-omong soal musik, ilustrasi musik dan score Sunyaruri layak diapresiasi. Tebal di beberapa adegan, sukses mengantar aura wingit.

 

 

 

Pemain: Prilly Latuconsina, Rizky Nazar, Syifa Hadju, Sandrinna Michelle, Umay Shahab, Steffi Zamora, Chicco Kurniawan

Produser: Manoj Punjabi

Sutradara: Awi Suryadi

Penulis: Lele Laila

Produksi: MD Pictures

Durasi: 1 jam, 30 menit

 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan