Pretty Boys, Romantika Para Artis yang Kadang Tak Semewah di Televisi

Tema besar romantika program layar kaca dihadirkan Pretty Boys dengan akar drama keluarga.

Diterbitkan 21 September 2019, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika YouTube menjadi populer, punya banyak kanal, dan melahirkan sejumlah YouTuber yang merambah layar kaca, situs berbagi video ini dianggap musuh besar televisi. Inilah tema besar film Pretty Boys, karya perdana Tompi.

Ide cerita Tompi dikembangkan Imam Darto dengan pendekatan keluarga, dilapisi belasan momen jenaka, dan tetap berakar pada isu senjakala media konvensional. Jadilah Pretty Boys kuda hitam film lokal tahun ini. Pretty Boys menghibur? Pastilah. Namun apakah Pretty Boys sudah sesuai harapan?

Tema besar romantika program layar kaca dihadirkan Pretty Boys dengan akar drama keluarga. Adalah Jono (Roy) anggota militer yang mengutamakan tugas negara. Di era pergantian orde baru ke reformasi, Jono nyaris tak punya waktu untuk keluarga.

Ia ditinggalkan istri sementara anaknya, Anugerah (Vincent) tumbuh menjadi remaja kurang kasih sayang. Satu-satunya orang dekat Anugerah adalah Rahmat (Desta), yatim piatu yang tinggal di masjid dan hidup dari santunan warga kampung. Bosan hidup sudah, keduanya ke Jakarta.

Di Ibu Kota, Anugerah dan Rahmat jadi penonton bayaran program Kembang Gula. Ndilalah, presenter Kembang Gula hengkang karena honor tidak naik. Anugerah dan Rahmat yang baru jadi co-host kini jadi tuan rumah Kembang Gula. Di tangan mereka, rating dan share Kembang Gula meroket.

Dimanajeri Roni (Onadio), keduanya jadi anak emas produser Kembang Gula, Bayu (Imam). Rahmat lupa daratan, ia sering berganti cewek meski sudah punya Asty (Danilla). Popularitas ada harganya. Persahabatan Anuerah dan Rahmat dipertaruhkan.

Naskah yang Detail

Daya tarik Pretty Boys terletak pada hasil pengembangan cerita menjadi naskah yang detail. Imam (penulis sekaligus pemain) meletakkan fondasi mengapa tokoh utama harus pergi dari kampung hingga berkenalan dengan ingar bingar industri televisi.

Mungkin, kita tak paham secara utuh mengapa kedua orang tua Anugerah pisah. Benarkah murni faktor pekerjaan atau ada percik konflik lain yang tak terjelaskan? Namun lubang kecil ini ditebus detail di balik pertunjukan layar kaca. Sentilan Imam lewat sejumlah dialog terasa spontan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Mulai potongan bayaran 50 ribu rupiah, hadiah kuis yang baru cair 3 bulan lagi, hingga gunjingan soal rating di ruang rias. Di tengah jalan, Imam Darto dan Tompi merentangkan Pretty Boys menjadi kisah yang letur. Dari romantika acara layar kaca menjadi protret sosial dan bianglala Ibu Kota. Kita melihat para waria di trotoar, istri yang menerima fakta suaminya hidup di “dua alam”, manajer yang diperbudak gaya hidup, dan betapa status sosial bisa berubah dalam hitungan menit. Imam dan Tompi menyentil dengan genit fenomena hijrah dari soal musik haram hingga boleh menikahi beberapa. Dengan meminjam mulut aktor cilik, lagi-lagi ini terdengar polos dan spontan. Tentu, Tompi harus berkompromi bahwa cerita layar lebar tanpa cinta akan dianggap kesalahan besar. Kisah cinta segitiga di Pretty Boys memang agak menjemukan. Namun, penting untuk melihat seberapa erat pertalian kedua karakter utama. Asty umpan sekaligus materi penguji yang diluar dugaan dilahap dengan cekatan oleh Vincent dan Desta.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan