Film Anna Gambarkan Agen Rusia yang Cantik dan Mematikan

Anna berhasil menjadi film yang merangsang penonton untuk terus bertanya-tanya.

Diterbitkan 30 Juni 2019, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dibuka dengan adegan genting, yakni penangkapan sejumlah agen CIA saat bertugas di Rusia, Anna berhasil menjadi film yang merangsang penonton untuk terus bertanya-tanya. Alur Anna bekerja dengan melahirkan pertanyaan baru setelah sebuah jawaban didapat penonton. Ia memaparkan akibat, lalu mencari tahu penyebabnya lewat kilas balik yang acapkali membuat kita tak habis pikir. Anna jelas lebih baik daripada Lucy (2014) yang menempatkan Scarlett Johansson sebagai tokoh utama. 

Anna mengisahkan perempuan Rusia bernama Anna Poliatova (Sasha), putri petinggi angkatan laut yang kini hidup sebatang kara. Ia hidup di sebuah apartemen kumuh bersama pacarnya, Piotr (Sasha Petrov), pemuda labil yang tengah merencanakan perampokan di mesin ATM. Rencana perampokan gagal. Anna yang pulang ke apartemen kedatangan tamu tak diundang, Alex (Luke). Alex bermaksud merekrut Anna sebagai agen KGB dengan misi khusus. 

Rencana Alex semula ditentang atasannya, Olga (Helen). Pikiran Olga berubah setelah Anna berhasil menyelesaikan misi dalam waktu kurang dari sejam berbekal pistol tanpa peluru. Kemampuan Anna dilirik ketua KGB, Vassiliev (Eric). Yang diinginkan Anna dari KGB hanyalah kebebasan setelah mengabdi selama 5 tahun. Kebebasan itulah yang ditawarkan agen CIA, Lenny Miller (Cillian). Anna pun berada di persimpangan jalan, memilih kesetiaan atau kebebasan. 

Daya tarik Anna terletak pada adegan pembuka yang heboh dan digambarkan sangat genting. Luc kemudian melanjutkan kegentingan dengan berbagai konfirmasi seputar mengapa ini bisa terjadi dan apa sangkut pautnya dengan Anna sebagai poros cerita. Di sisi lain, Sasha Luss mampu menjawab kepercayaan yang diberikan Luc. Sebagai karakter utama, Sasha mendefinisikan frasa cantik namun mematikan. Penokohan Anna dibangun lewat transformasi yang lumayan detail.

 

 

Mirip Red Sparrow

Air muka Sasha di fase awal mempresentasikan kerapuhan, kelam, dan tanpa harapan. Ia kemudian berkembang dengan menyerap kemampuan beberapa karakter pendukung khususnya, Alex, Lenny, dan Olga. Transformasi ini juga didukung oleh profesi tokoh utama sebagai model. Rambut palsu, teknik riasan, dan pergantian baju yang dikenakan membuat Sasha bagaikan bunglon. Wajar jika beberapa tokoh pendamping kerap lengah dan tak berdaya. Ini membuat Anna sebagai film tampak amat menarik. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sepintas, Anna mengingatkan kita pada Red Sparrow (2018) yang dibintangi Jennifer Lawrence. Bedanya, Anna tidak lebih rumit meski konfliknya berlapis dan dituturkan lewat alur maju mundur. Rahasianya terletak pada penataan konflik yang dibuat menanjak, disisipi selera humor tanpa merusak alur utama. Momen Anna diminta tetap berpose sementara fotografer sibuk mengobrol lewat ponsel salah satu favorit kami. Anna yang hilang kesabaran lantas melakukan hal tak terduga.  Menarik melihat Luc mengemas Anna sebagai drama aksi yang tak mudah ditebak. Bahkan, memasuki menit akhir, Luc masih memberi kejutan yang mengambarkan bahwa sang tokoh utama tak hanya terampil memperlakukan cowok tapi juga lihai saat berhadapan dengan sesama perempuan. Momen ini menggarisbawahi apa yang disampaikan Alex pada Anna kali pertama mereka bertemu, “Jangan percaya pada laki-laki, percayalah pada dirimu sendiri.” Dan jika Anda sering menonton film agen mata-mata, tentu kenal asas: trust no body.    

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan