Pariban, Idola Dari Tanah Jawa: Romantika Usia 30-an dan Pertanyaan “Kapan Kawin?”

Tema kapan kawin sebenarnya bukan hal baru di industri film Indonesia.

Diterbitkan 13 Mei 2019, 12:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sensasi serasa belajar geografi dan antropologi di layar lebar tak terhindarkan. Agar tidak terasa berat, beberapa materi humor ditabur. Sayangnya, sutradara dan penulis naskah belum berani beranjak sepenuhnya dari humor seputar WC dan persepsi alat kelamin. Andai mau konsisten soal perangai, gaya bicara, dan gegar budaya Halomoan di kampung leluhurnya, Pariban berpotensi menjadi komedi yang lebih berkelas. 

Akting Ganindra dan Atiqah asyik. Atiqah dalam banyak adegan tampak tak berjarak dengan para pemeran pendukung termasuk figuran di pasar tradisional. Sementara Ganindra dengan gaya narsistik dan gestur yang terlalu percaya diri terlihat menarik. Performanya membuat kami percaya bahwa Halomoan orang sukses. Kami pun maklum jika ia punya banyak pacar.  

Sayangnya, setelah menanti 1,5 jam lebih, tak ada akhir yang melegakan dari cerita cinta segitiga ini. Sang produser percaya diri untuk melanjutkan kisah ini di masa mendatang. Yang dibutuhkan mayoritas penonton adalah kisah cinta dengan akhir mengesankan. Perkara mau ada sekuel, pasti ada saja celah cerita yang bisa dikembangkan dari Pariban ini. (Wayan Diananto)

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan