Sukses

Insto dan Nia Dinata Buat Film Mini Dokumenter dengan Snapchat Spectacles. Penasaran?

Liputan6.com, Jakarta Brand tetes mata Insto dari PT Combiphar bersama sutradara Nia Dinata mempersembahkan film mini dokumenter pertama di Indonesia berjudul Buka Mata, Buka Cerita. Film yang dibuat Nia bersama sembilan co-director muda lainnya dengan snapchat spectacles ini bertujuan untuk mengedukasi generasi muda Indonesia tentang kesehatan mata dengan cara yang kreatif dan menghibur.

Insto ingin mengingatkan para anak muda yang aktif dan produktif bahwa gaya hidup sehari-hari dapat menyebabkan iritasi mata. Dahulu, risiko iritasi mata dianggap hanya menghantui pengendara sepeda motor. Namun, tenyata aktivitas apapun bisa berbahaya bagi mata.

"Faktanya sembilan dari 10 orang Indonesia pernah mengalami iritasi mata ringan. Namun, sayangnya baru satu dari sembilan orang yang menggunakan tetes mata. Banyak dari masyarakat yang tidak menyadarinya bahwa kegiatan mereka sehari-hari dapat menyebabkan iritasi pada mata, diantaranya adalah paparan gadget, layar komputer, ruangan ber-AC, menyetir dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan mata lelah dan kering. Sedangkan mata merah dapat disebabkan oleh asap, debu, dan polusi akibat berkendara motor, penggunaan transportasi umum, dan beberapa aktivitas olahraga," ujar Vice President Consumer Healthcare & Wellness and International Operations PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, dalam acara penayangan perdana Buka Mata, Buka Cerita di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/3/2018).

Selain ingin melakukan edukasi tentang kesehatan mata, Insto juga ingin ikut andil dalam kebijkan pemerintah untuk mendukung industri kreatif. Karena itu, brand obat tetes mata ini dan Nia Dinata menggandeng sembilan anak muda Indonesia sebagai co-directors film tersebut.

Sembilan co-directors tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu Solo, Pontianak, Yogyakarta, Subang, Bandung, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Mereka merekam kehidupan sehari-hari dan keindahan daerahnya masing-masing dengan durasi satu menit, lalu dirangkum menjadi satu film Buka Mata, Buka Cerita.

Uniknya, film mini dokumenter tersebut dibuat oleh snapchat spectacles, yaitu kamera berbentuk kaca mata. Jadi, sang co-director mengambil gambar benar-benar dari sudut pandang mereka.

"Saya sangat antusias atas kesempatan kerja sama yang diberikan Insto untuk terlibat dalam proyek ini. Konsep dari proyek pembuatan film mini dokumenter ini adalah mengajak anak-anak muda untuk secara jujur dan kritis menyampaikan apa yang terjadi di sekitar mereka dan apa yang mereka almi dari sudut pandang mata mereka masing-masing," ucap sutradara, Nia Dinata.

Ia menceritakan, awalnya ada sekitar 1.000 peserta yang mendaftar proyek tersebut. Selanjutnya, dipilih 20 semifinalis yang berkesempatan mengikuti workshop bersama Nia. Hingga akhirnya terpilih sembilan co-director.

Menurut Nia, sembilan anak muda tersebut berhasil terpilih karena cerita mereka tidak dibuat-buat dan terlihat hasil perkembangannya selama workshop.

"Dua puluh (semifinalis) kita undang, baru pada saat itu kita pilih. Kenapa kita bisa memilih? Karena mereka udah kita kasih tahu cara bikin loc line, ok lo bikin loc line-nya, technicalities presentation, cara technicalities giving strength of their field. Mereka harus bisa dong ngejual filmnya dan rasa percaya diri saat presentasi. Jadi, dalam seharian itu, di akhir sesi mereka presentasi setelah mendengar pelajaran-pelajaran yang didapat. Setelah presentasi itu, kita lihat mana yang paling otentik, mana yang paling kelihatan sekali perubahannya, dan yang tadinya idenya masih ngambang-ngambang tiba-tiba dia langsung bisa dapetin dan fokus. Di situlah yang akhirnya aku memilih," kata dia.

Selanjutnya, dalam acara penayangan perdana Buka Mata, Buka Cerita, diumumkan tiga co-directors dengan cerita terbaik. Mereka adalah Ghafara Difa Harashta asal Bandung sebagai juara I berkat karyanya yang berjudul Yang Berdiri Sejak Lama, Yudhistira Tegar Hermawan dengan karya Di Bawah Fly Over sebagai juara II, dan Juara III diraih oleh Sri Sulistyani dengan film Pohaci.

Menurut Ghafara sang pemenang, dirinya tidak hanya menekankan gambar tempat, tetapi juga sisi emosional cerita di dalam filmnya. Dalam Yang Berdiri Sejak Lama, ia menceritakan pola komunikasi yang telah berubah. Dulu, Ghafara terbiasa menelepon ibunya melalui wartel, kini berkomunikasi dengan ibunya saja pun sudah menjadi lebih jarang. Cerita emosional ini yang ingin disampaikan olehnya.

Jika ingin melihat karya Ghafara secara lengkap dan delapan kisah lainnya, silakan kunjungi laman ini. Yuk, buka mata dan jaga kesehatan matamu!

 

 

(Adv)