Siapkan Tisu, 6 Film Klasik Indonesia Ini Dijamin Bikin Nangis

Jalan ceritanya menyedihkan, beberapa film klasik Indonesia ini bikin penonton menangis.

Diterbitkan 10 Januari 2018, 22:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bundaku Sayang

Bundaku Sayang, film yang menyentuh hati ditayangkan 1973 silam. Film ini juga menampilkan sederet artis ternama di Tanah Air yaitu Muchsin Alatas, Titiek Sandhora, Aedy Moward dan Rahayu Effendi. Lagi-lagi mengisahkan tentang anak yang disiksa ibu tiri. Lewat film ini, juga mengajarkan mengenai kerja keras yang akhirnya berbuah hasil yang tak disangka.

Ceritanya mengenai seorang gadis bernama Tini yang terus mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tirinya. Suatu hari, Tini berkenalan dengan seorang pemuda bernama Herman yang langsung jatuh cinta kepadanya. Cinta Herman bertepuk sebelah tangan.

Herman dan Tini tetap berteman baik. Herman mengenalkan Tini dengan temannya, Muchsin yang ternyata seorang musisi. Tini mengalami kecelakaan hingga membuatnya dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh, Tini tidak mau pulang ke rumah.

Beruntung, sebuah keluarga bersedia menampung Tini karena kasihan. Roda kehidupan berputar, Tini menjadi penyanyi yang sukses karena kerja keras dan usahanya berkat bimbingan Muchsin.

Setelah Tini pergi, kondisi rumahnya ternyata menjadi kacau. Ayahnya ditangkap karena korupsi. Sementara, ibu tirinya sakit keras.

Anjing-Anjing Geladak

Anjing Anjing Geladak tayang 1972 silam disutradarai Nico Pelamonia, dianggap sebagai karya terbaiknya. Anjing Anjing Geladak menggambarkan kondisi sosial mengenaskan, banyak terjadi hingga saat ini.

Film ini diperankan oleh Sandy Suwardi Hassan, WD Mochtar, Sjuman Djaya dan Widyawati. mengisahkan tentang organisasi kriminal yang seperti lingkaran setan hingga sulit diurai. Melibatkan Maulana dan Makbukl, kakak-beradik mengubah nasib dengan merantau ke Jakarta.

Niat awal kakak-beradik itu ingin membahagiakan ibunya di kampung halaman, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia. Namun kerasnya kota Jakarta membuat mereka menjadi terjerumus ke dalam dunia kegelapan.

Awalnya hanya menjadi tukang parkir. Sayangnya, iming-iming duit yang menggoda menjadikan mereka terlibat dalam organisasi narkotika dan obat-obatan terlarang.

Selain itu, film ini juga mengisahkan tentang gadis polos bernama Muali yang bekerja di Jakarta, harus menghadapi mimppi buruknya. Dia menjadi asisten rumah tangga. Namun atasannya justru melakukan kekerasan seksual hingga membuat Mauli menjadi trauma.

Titienku Sayang

Titienku Sayang, film yang tayang 1972 silam ini memberikan pelajaran mengenai perselingkuhan yang membuat semua pihak tersakiti. Filmyang diperankan oleh Astri Ivo, Mila Karmila, Ida Abdi dan Anny Kusuma sempat gagal tayang karena memilih karyawan asing asal Hongkong untuk pengawas sutradara.

Film Titienku Sayang mengisahkan tentang Yusuf (Rully Harsono) yang berselingkuh dengan Mila (Ida Abdi). Padahal, Yusuf telah memiliki istri. Perselingkuhan tersebut menghasilan seorang anak yang diberi nama Titien.

Akhirnya hubungan terlarang Yusuf dan Mila tercium oleh istrinya, Yanti. Karena Yusuf dan Yanti tidak memiliki anak, Titien pun akhirnya dirawat oleh pasangan tersebut. Istri Yusuf, Mila mengaku sebagai ibu kandung Titien.

Sementara, Mila, sang ibu kandung, diperbolehkan tinggal Yusuf untuk menjaga Mila. Namun tidak boleh mengakui identitasnya, mengenalkan dirinya sebagai tante. Tanpa alasan, Titien sangat membenci Mila. Akhirnya, Mila yang tidak tahan pun pulang ke rumahnya.

Rupanya Titien mengetahui identitas Mila sebagai ibu kandungnya. Namun Mila tidak langsung mengakui itu semua. Titein menyusul Mila. Namun kejadian tidak menyenangkan justru terjadi.

Salah Asuhan

Salah Asuhan, film ini dianggap menjadi salah satu karya terbaik di Indonesia, diadaptasi dari karya sstra berjudul sama oleh Abdul Moeis. Salah Asuhan kala itu terbit di Hindia Belanda pada 1928 silam, dianggap sebagai karya sastra modern pertama.

Film Salah Asuhan dirilis 1972 silam, disutradarai oleh Asrul Sani, dibintangi sederet artis legendaris Tanah Air yaitu Ruth Pelupessy, Dicky Zulkarnaen, Rima Melati dan Fifi Young. Istilah 'kacang lupa kulitnya" cocok menggembarkan cerita di film ini yang telah dimodifikasi dengan setting saat itu di era 1970-an.

Ceritanya mengenai Hanafi, pemuda Sumatra Barat yang mengenyam pendidikan di Eropa. Saat pulang ke kampung halaman, Hanafi sempat kesulitan beradaptasi dengan gaya hidup dan adat istiadat setempat.

Rupanya Hanafi jatuh cinta dengan Corrie du Bussee (Ruth Pelupessy). Cinta antara Hanafi dan Corrie ditentang kedua orangtua masing-masing. Hanafi pun dijodohkan hingga dinikahkan dengan Rapiah (Rima Melati).

Rupanya terungkap, Hanafi memiliki perangai yang buruk. Hanafi juga kerap kali melakukan kekerasan terhadap istrinya. Akhirnya, keduanya pun memilih bercerai.

Hanafi menyusul Corrie ke Jakarta, akhirnya menikah. Namun rumah tangganya dengan Corrie tak seindah yang ada di bayangannya.

 

Ratapan Anak Tiri

Film legendaris Ratapan Anak Tiri tayang 1973 silam sempat membuat imej ibu tiri terlihat sangat kejam. Film ini diperankan oleh sederet artis legendaris Indonesia, Soekarno M. Noor sebagai Pak Yuwono. Faradilla Sandy menjadi Sussy, Tanty Yosepha memerankan Ningsih. Selain itu, Dewi Rosaria Indah menjadi Netty, serta karakter antagonis yang dimainkan Bambang Irawan sebagai Harun.

Ceritanya mengenai Yuwono yang sempat terjebak dan dijadikan kambing hitam oleh teman sekantornya, Harun. Padahal, Yuwono baru saja kehilangan istrinya yang meninggal setelah melahirkan.

Tak lama, Yuwono yang telah menjadi duda beranak dua ternyata menikah lagi dengan Ningsih, gadis cantik yang menjadi bawahannya. Rupanya Harun punya dendam terhadap Yuwono, sakit hati karena Ningsing lebih memilih duda.

Ningsih pun ternyata menjadi ibu tiri yang kejam, suka menyiksa dua anak Yuwono. Dua gadis kecil dipaksa bekerja mengurus rumah. Akibat tak tahan disiksa, mereka pun melarikan diri.

Kesuksesan Ratapan Anak Tiri membuat film ini dibuat dalam beberapa series, termasuk yang diperankan oleh Rano Karno.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Desika Pemita, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan