Sukses

Lagi, Scarlett Johansson di Ghost in the Shell Banjir Kritikan

Liputan6.com, Jakarta Kehadiran Scarlett Johansson di Ghost in the Shell terus menuai kontroversi. Scarlett Johansson, artis Hollywood berkulit putih dianggap tak cocok memerankan karakter utama Motoko Kusanagi yang terdengar sangat kental dengan budaya Jepang.

Tak hanya dari penggemar Ghost in the Shell saja, kritikan pedas tersebut juga keluar dari media besar Media Action Network for Asian Americans (MANAA). Scarlett Johansson dianggap pembohong, mengingat wawancaranya beberapa waktu lalu.

Saat diwawancarai Good Morning America, Scarlett Johansson pernah mengatakan, "aku tidak akan memerankan karakter dari ras lain," diwartakan FoxNews, Minggu (2/4/2017).

 Scarlett Johansson (Jasin Boland/Paramount Pictures and DreamWorks Pictures via AP)

Kenyataannya, Scarlett Johansson memainkan karakter wanita yang seharusnya digambarkan berasal dari Asia. Hal itu digaris bawahi Robert Chan, CEO MANAA, menyatakan, "kami tidak melihat persamaan antara Scarlett Johansson dengan gambaran identitasnya saat jadi manusia di karakter tersebut."

Kemunculan Scarlett Johansson sangat disayangkan oleh MANAA, seolah artis Asia tidak bisa memerankan karakter Motoko Kusanagi dengan baik.

Dia melanjutkan, "Hollywood selalu memberikan pembelaan. Dengan cara menggandeng artis yang dianggap ternama akan bisa mendongkrak popularitas film tersebut. Sungguh menyedihkan."

 Scarlett Johansson dalam Ghost in the Shell (2017).

Namun kehadiran Scarlett Johansson justru mendapatkan pujian dari Mamoru Oshii, sutradara film anime pertama yang rilis pada 1995. Menurut Oshii, penampilan Johansson sebagai karakter utama versi Hollywood, melebihi perkiraannya.

"The Major (karakter utama yang dimainkan Johansson) adalah cyborg dan bentuk fisiknya secara keseluruhan dianggap satu. Nama 'Motoko Kusanagi' dan tubuhnya saat ini bukanlah nama asli dan tubuh aslinya, sehingga tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa aktris Asia harus memerankan dirinya. Bahkan jika tubuh aslinya (anggap saja hal seperti itu ada) adalah orang Jepang, itu masih akan diterapkan."