Masih Perlukah Anda Nonton Film Inferno?

Inferno menampilkan sejumlah hal yang serupa tapi tak sama dengan film-film pendahulunya.

Diterbitkan 13 Oktober 2016, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kali ini, Robert Langdon berusaha memecahkan teka-teki peninggalan miliuner eksentrik Bertrand Zobrist sebelum meninggal. Zobrist, ternyata punya pandangan mengerikan soal cara mengatasi ledakan populasi manusia di bumi.

Menurut Zobrist, KB telah ketinggalan zaman. Terinspirasi dari Wabah Hitam (Black Pague) di abad ke-14, ia ingin menyebar virus yang mengurangi setengah populasi manusia. Zobrist menyembunyikan petunjuk soal virus berbahaya ini di balik sajak “Inferno” dari Divine Comedy karya penyair Dante Alighieri dan lukisan "Map of Hell" dari Boticelli.

Cuplikan film Inferno

>Kesamaan elemen dalam Inferno dengan film-film sebelumnya, memang tak terelakkan. Alasannya tentu karena novel aslinya pun seperti ini. Untungnya, meski pola usang ini kembali dipakai, film besutan sutradara Ron Howard ini tak lantas jatuh jadi tontonan yang membosankan. Kekuatan utama film ini, adalah twist demi twist yang terurai sepanjang plot, yang mampu memaku penonton di kursinya. 

Begitu juga dengan penggambaran halusinasi yang dialami Robert Langdon, terasa cukup mengerikan. Karakter bos pembunuh "The Provost" pun dimainkan dengan sangat apik oleh Irrfan Khan. Kemolekan tempat-tempat bersejarah seperti Palazzo Vecchio di Firenze dan Sophia Hagia di Istanbul, juga ditampilkan dengan sangat cantik—meski terasa seperti tempelan belaka. Setidaknya, hal-hal ini membuat Inferno masih menyenangkan untuk ditonton. 

Cuplikan film Inferno

Inferno versi film sendiri memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan bukunya. Sejumlah plot, memang diubah di sana-sini. Namun yang paling penting, filmnya telah menggusur wacana mengenai masalah populasi dunia. Dalam buku—meski kadang terasa bertele-tele—Dan Brown mengajak penontonnya memikirkan soal hal ini, yang bahkan membuat tindakan Zobrist terasa masuk akal.

Sementara

dalam film, wacana soal ledakan populasi dunia hanya diposisikan sebagai plot device, atau motif belaka bagi Bertrand Zobrist. Hasilnya, Inferno terasa seperti film generik tentang seorang pria yang berusaha menyelamatkan dunia. Mungkin, memang film seperti ini yang lebih disukai penonton film blockbuster Hollywood. 

Jadi, dengan semua pertimbangan ini, masih perlukah Anda menonton Inferno? Silahkan Anda menjawabnya sendiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Nilam SuriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan