Review MARS: Cerita Tupon, Perempuan Kuat dari Gunung Kidul

Acha Septriasa dan Kinaryosih memainkan tokoh sentral dalam Film MARS.

Diterbitkan 04 Mei 2016, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Poster Film Mars

Gunung Kidul yang dijadikan latar MARS, berbicara banyak dalam film ini. Fakta bahwa Gunung Kidul adalah daerah miskin di Indonesia, sangat terlihat dalam film ini, namun tak terasa terlalu dilebih-lebihkan. Lihat saja bagaimana Tupon yang nyeker alias berjalan tanpa alas kaki ke mana pun ia pergi. Atau kala Tupon harus menjual kambing yang ditukar dengan setumpuk uang lecek, modalnya membeli seragam sekolah untuk Sekar. Hal ini terlihat begitu kontras dengan setting lain film MARS, yakni London.

Film MARS menandai debut penyutradaraan Sahrul Gunawan. Ia berhasil membawa Gunung Kidul dan segala permasalahannya menjadi begitu dekat dengan penonton. Ia juga sudah memiliki visi yang jelas mengenai visualisasi yang diinginkannya dalam film ini. Hasilnya, gambar-gambar cantik bertebaran di MARS.

Acha Septirasa saat syuting film Mars di London. Foto: Film Mars

Hanya saja, ada satu masalah mendasar dalam MARS. Film ini kerap mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan problem dalam plot cerita. Contohnya saja, saat Sekar tak bisa mendaftar sekolah. Di puncak ketegangan ini, saat penonton mengantisipasi bagaimana Sekar bisa bersekolah, tiba-tiba saja di adegan selanjutnya masalah ini selesai hanya dengan satu kalimat dari Tupon. Yakni bahwa mereka banyak dibantu oleh seorang ustad di desanya.

Ada beberapa kasus lain dalam MARS, di mana sebuah persoalan diselesaikan lewat jalan yang mudah, yakni pemaparan. Terutama lewat dialog.

Padahal dalam sebuah storytelling, ada satu kunci emas yang ada baiknya dipegang erat setiap penutur dalam karyanya—baik dalam bentuk tertulis atau sinema—yakni show, don’t tell. Perlihatkan, jangan dijelaskan. Pengalaman penonton dalam menginterpretasi setiap laku dan emosi aktor, akan membuat mereka merasa lebih terlibat, dibanding dengan langsung disuapi dengan isi cerita.

Acha saat syuting film Mars di London. Foto: Film Mars

Meski begitu, MARS masih berhasil memagut hati penonton. Terutama, di bagian akhir cerita, kala tokoh Sekar bertemu dengan seorang mbok tua di kampungnya. Di sini, Sahrul berhasil mengaktifkan kunci show, don’t tell dengan baik. Hasilnya, adegan ini menjadi gong yang sangat manis dan emosional dalam film MARS.

Diri

lis berdekatan dengan Hari Pendidikan Nasional, yakni 4 Mei 2016, film MARS adalah sebuah film yang ramah untuk seluruh anggota keluarga, dan mampu menginspirasi tentang pentingnya nilai edukasi. Siapa tahu, penonton akan tergerak untuk bisa sekuat Tupon, atau menjadi Sekar berikutnya. (Rtn/fei)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan