8 Film Indonesia yang Sukses Mendunia

Ada banyak film Indonesia yang berprestasi di tingkat internasional. Apa saja?

Diterbitkan 30 Maret 2016, 22:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mirror Never Lies yang dibintangi oleh Gita Novalista, Atiqah Hasiholan, dan Reza Rahadian ini, bercerita tentang seorang gadis muda yang mencari ayahnya yang hilang di laut lewat sebuah cermin.

 

Daun di Atas Bantal

 Daun di Atas Bantal

Daun di Atas Bantal, adalah salah satu film fenomenal yang diarahkan oleh Garin Nugroho, yang memberikannya sejumlah pengakuan internasional. Film ini diputar di Festival Film Cannes dan Singapore International Film Festival, mendapat Special Jury Prize di Tokyo International Film Festival, Film Terbaik di Festival Film Asia Pasifik di Taipei.

Daun di Atas Bantal adalah film yang berangkat dari realitas anak jalanan yang begitu menggigit. Film ini bercerita tentang tiga anak jalanan, Heru, Kancil, dan Sugeng yang diasuh oleh Asih (Christine Hakim).

Pintu Terlarang

Pintu Terlarang

Pintu Terlarang, adalah film garapan sutradara Joko Anwar yang dibintangi oleh Fachri Albar dan Marsha Timothy. Lewat film ini, Joko Anwar memenangkan penghargaan Film Terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival, dan mendapat nominasi untuk Piala Golden Kinnaree di Bangkok International Film Festival.

Film slasher ini juga dibawa berkeliling ke sejumlah festival internasional, seperti Toronto After Dark Film Festival, Vancouver Internasional Film Festival, dan London International Film Festival.

Pintu Terlarang bercerita tentang kisah pematung sukses, Gambir (Fachri Albar) yang memiliki rahasia kelam di balik kehidupannya yang terlihat sempurna.

Senyap

Senyap

Film Senyap (The Look of Silence), tahun ini mengguncang Indonesia karena berhasil masuk dalam nominasi Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik. Meski tak berhasil membawa pulang Piala Oscar, sejauh ini Senyap merupakan pencapaian tertinggi sineas Indonesia dalam Academy Awards.

Di luar Piala Oscar, Senyap juga berhasil melaju dalam sejumlah penghargaan, seperti Berlin International Film Festival, Busan International Film Festival, Spirits Award, dan tak kurang dari 70 penghargaan dunia lain.

Senyap adalah film lanjutan dari film selanjutnya, Jagal (The Act of Killing). Film produksi bersama sineas Denmark, Indonesia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris ini, mengikuti perjalanan Adi Rukun, mendatangi para algojo pembantai orang-orang yang dianggap PKI.

Rumah Dara (Macabre)

Rumah Dara (Macabre)
Salah besar bila menganggap Indonesia hanya jago membuat film horor hantu-hantuan. Rumah Dara (Macabre), garapan Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel, membuktikan sineas Indonesia juga mampu menghasilkan fim slasher dengan serius.

Rumah Dara diputar di sejumlah festival dunia seperti Puchon International Fantastic Film Festival, Fantastic Fest di Amerika Serikat dan Fantastic Film Festival di Jerman. Film ini juga dirilis di pasar luar negeri seperti Amerika Serikat, Swedia, Prancis, Jepang, dan Belanda. Film yang dibintangi oleh Shareefa Daanish dan Julie Estelle ini berkisah tentang sekelompok muda-mudi yang terjebak di rumah milik seorang perempuan misterius bernama Dara.

The Raid: Redemption dan The Raid 2: Berandal


The Raid: Redemption dan Berandal

Koreografi pertarungan The Raid: Redemption dan The Raid 2: Berandal yang cantik sekaligus brutal, berhasil mencuri perhatian penggemar film internasional. Dua film yang disutradarai oleh Gareth Evans ini, juga sukses memperkenalkan pencak silat pada publik luas.

Kedua film yang dibintangi oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan ini diputar di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Jerman, Korea, Cina, Kanada, Inggris, dan lainnya. Sejumlah kritikus dunia juga memberikan penilaian positif terhadap film ini. Los Angeles Times, misalnya, menyebut bahwa film ini memiliki salah satu koreografi pertarungan terbaik di atas layar.

What They Don’t Talk When They Talk About Love


What They Don’t Talk When They Talk About Love (2013)

What They Don’t Talk When They Talk About Love, adalah sebuah film yang bercerita tentang cerita cinta para difabel. Fitri (Ayushita) yang buta sejak lahir, jatuh cinta pada Edo (Nicholas Saputra), pria tuli yang ia sangka seorang dokter hantu.

Film garapan Mouly Surya yang rilis tahun 2013 ini, adalah film Indonesia pertama yang berlaga di Festival Film Sundance. Film ini juga memenangkan NETPAC Award di Rotterdam Film Festival tahun 2013.

> 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan