5 Film Berlatar Tragedi & Reformasi 1998, Mana yang Terbaik?

Kami mencatat baru lima film yang secara khusus mengangkat seputar peristiwa di tahun 1998. Apa saja?

Diterbitkan 20 Januari 2015, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ada mahasiswa, tentara, pegawai istana, pemulung, dan warga etnis Tionghoa. Sebagai sebuah karya doku-drama yang berjarak dengan peristiwa 1998, karya Lukman Sardi ini terbilang baik. Namun, bila merujuk pada judulnya yang gagah, film ini tak menawarkan apa pun untuk menerangkan makna Di Balik 98 kecuali hal-hal yang sudah diketahui umum.

No. 3

3. Student Movement in Indonesia (2002)

Tino Saroengallo, sineas dokumenter kawakan itu, mengabadikan peristiwa 1998 dalam gambar yang totalnya berdurasi 50 jam. Lalu, film dokumenter yang semula diberi judul `The Army Forced Them to be Violence` ini harus menunggu selama tiga tahun lebih untuk bisa masuk bioskop. Durasi 50 jam kemudian diringkas jadi sekitar 45 menit yang fokus pada perjuangan mahasiswa meruntuhkan rezim Orde Baru, Suharto. Di laman sinopsis film ini di situs jaringan group bioskop 21, inilah film dokumenter Indonesia pertama yang bisa disaksikan di bioskop komersil.

No. 2


2. 9808, Antologi 10 Tahun Reformasi (2008)

Sepuluh orang pembuat film muda--antara lain Edwin, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, dan Ucu Agustin--mengumpulkan film-film pendek mereka yang membicarakan peristiwa penting tahun 1998. Apa yang mereka sodorkan tentu saja bukan versi resmi dari peristiwa 1998. Dalam analisisnya, pengamat film Eric Sasono menulis, "Beberapa cara pandang terasa amat sangat permukaan, bahkan sketsais... Beberapa karya mencoba mendekati Peristiwa Mei 1998 sebagai sesuatu yang pesonal dengan cara pandang yang jujur. Satu dua karya membicarakan satu aspek latar belakang dan akibat peristiwa ini sehingga membuka sebuah dimensi yang dalam tentang proses pembentukan bangsa ini... Masa depan juga dibahas oleh antologi ini untuk memberi semacam tutupan (closure) yang menegaskan sikap optimis antologi ini secara keseluruhan."

No. 1

1. May (2008)

Hingga sekarang, May adalah film terbaik yang mengangkat seputar tragedi Mei 1998. Viva Westi, sutradaranya, memfilmkan peristiwa itu tidak dari jarak yang aman. Viva tak perlu bergenit ria menyuguhkan pergolakan tingkat elit masa itu sebagaimana dilakukan Lukman Sardi lewat Di Balik 98. Namun, `May` mengarah langsung pada rakyat jelata yang jadi korban di hari naas itu. Kita mengetahui May jadi korban perkosaan. Tapi, film ini tak hanya berpusat soal perkosaan maupun akibatnya. Kita juga melihat sosok lain, pasangan suami-istri yang mengambil untung dari kerusuhan Mei 1998 dan kemudian bertemu dengan kikuk korban tragedi itu. May lebih unggul karena ia bercerita tentang kita, bukan tentang mereka. (Ade/Mer)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan