Film Hong Kong Dulu dan Kini

Bagaimana film Hong Kong merajai sinema dunia dulu dan kini, dan di mana posisi perfilman kita?

Diterbitkan 15 September 2014, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta "Hotel Borobudur pertengahan bulan Juni 1975. Dan tempat mewah di tengah kota Jakarta itu mendadak berubah jadi 'kompleks Tionghoa', ketika pesta film Asia ke-21 sedang sibuk-sibuknya berlangsung.

"Di tengah-tengah seorang tua yang masih kelihatan kukuh, tersenyum kesana kemari. Itulah Run Run Shaw, si pemilik Shaw Brothers, orang kaya yang seluruh hidupnya berkisar di sekitar film. Kepada dialah terutama popularitas aktor-aktris Mandarin itu harus dipulangkan. Bukan cuma bintang-bintang tamu dari negara lain yang merasa iri kepada orang-orang yang datang dari HongKong dan Taiwan itu, pihak tuan rumah pun merasa kematian angin."

Keterangan foto: Majalah Tempo edisi laporan utama tentang film Mandarin. (dok. Tempo)

Demikianlah majalah Tempo edisi 26 Juli 1975 mengawali penggambaran serbuan film Mandarin—sebuah sebutan generik untuk film-film dari Hong Kong, Taiwan, maupun Tiongkok daratan—di Indonesia pada tahun 1970-an. Majalah Tempo menyebut kedatangan bintang-bintang serta produser film Mandarin sebagai “tamu kita yang gemerlapan” di laporan utamanya.

Dan Run Run Shaw, Anda mungkin sudah tahu, adalah ikon dari serbuan film Mandarin ke wilayah di luar Asia timur jauh. Di pertengahan tahun 1970-an itu, boleh dikata, Run Run Shaw adalah penguasa bumi dan langit jagat sinema Hong Kong. Studio film yang didirikannya tahun 1957, pada pertengahan 1970-an sedang mengalami puncak kepopuleran. Shaw Brothers (SB) miliknya memiliki studio layaknya sebuah kota kecil seluas 850 ribu hektar dan ribuan karyawan.
Hingga pertengahan 1970-an, SB memiliki 230 bioskop, satu stasiun TV dan sekitar 1,7 juta orang menonton film-film keluaran SB saban minggu. Dari studio SB lahir film-film kungfu populer yang kini dikatakan klasik seperti Come Drink with Me (1966) karya King Hu serta The One Armed Swordman (1967) karya Chang Cheh.

g src="http://cdn1-e.production.liputan6.static6.com/medias/737155/big/060981200_1410757396-run2shaw12e.jpg" alt="">

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Keterangan foto: Run Run Shaw semasa hidup. (dok. istimewa) Tak ayal, saat Run Run Shaw bertandang ke hotel Borobudur, Jakarta di saat perayaan Festival Film Asia ke-21 banyak orang mengelu-elukannya. Pertanyaannya, bagaimana film Hong Kong bisa demikian populer hingga ke luar negeri? "Duta besar pertama sinema Hong Kong adalah Bruce Lee," tulis Tom Vick, penulis buku Asian Cinema: A Field Guide dalam artikelnya di majalah Asian Geographic edisi khusus seni pertunjukan No.54, edisi 4/2008. Bruce Lee yang membuat mata dunia melirik pada sinema Hong Kong. Putra pelakon opera Tiongkok ini terkenal di dalam dan luar negeri lewat film-film Fists of Fury (1971) hingga Enter the Dragon (1973). Selanjutnya >>

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan