Tujuh Film Asyik Berlatar Sekolah

Kami mencoba mengingat-ingat lagi film berlatar sekolah yang asyik. Dan didapatlah daftar ini. Selamat menonton film-filmnya.

Diterbitkan 16 Juni 2014, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

The Emperor's Club

The Emperor's Club (Sutr. Michael Hoffman, 2002)

Selama puluhan tahun, sebuah SMA khusus pria menggelar tradisi lomba menguji pengetahuan siswanya tentang sejarah Romawi. Pemenangnya mendapat gelar Julius Caesar. Jurinya adalah William Hundert (Kevin Kline), sang guru sejarah. Tersebutlah Sedgewick Bell (Emile Hirsch), murid baru yang sombong dan pemberontak. Siapa sangka Bell jadi finalis. Hundert awalnya bangga, tapi rasa itu tak lama. Hundert mendapati Bell curang. Ketika dikonfrontasi, Bell tak mengelak. Dua puluh lima tahun kemudian, Bell mengadakan reuni mengulang lagi pertandingan "Julius Caesar".

Catatan Akhir Sekolah

Catatan Akhir Sekolah (Sutr. Hanung Bramantyo, 2005)

Bahkan setelah Ayat-ayat Cinta, Sang Pencerah, Tanda Tanya (?), atau bahkan Soekarno, film ini, Catatan Akhir Sekolah tetaplah karya terbaik Hanung Bramantyo. Film ini punya opening sequence—kamera bergerak di sebuah SMA--yang rasanya layak disebut salah satu yang terbaik yang pernah hadir di film Indonesia. Kisahnya pun bergerak dinamis, sebuah proyek film anak SMA akhirnya mengungkap kebobrokan di sekolah.

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi (Sutr. Riri Riza, Laskar Pelangi, 2008)

Inilah film yang memulai apa yang sering disebut kisah inspiratif. Kisah from zero to hero. Kisah anak miskin, berhasil mewujudkan mimpi tingginya. Pintu menuju sukses itu adalah pendidikan. Di sebuah sekolah Muhammadiyah yang terpencil di Belitung, mimpi-mimpi itu dipupuk, disiram. Banyak yang terinspirasi berkat film ini. Hingga kini, Laskar Pelangi adalah film tersukses sepanjang masa dengan jumlah penonton 4,6 juta.

The Philosophers

The Philosophers (Sutr. John Huddles, 2013)

Film ini mungkin akan dikenang sebagai "Film Hollywood Cinta Laura". Padahal, film ini adalah sebuah film yang jarang dibuat Hollywood hari-hari ini: setting di sebuah kelas, mengajak murid-murid berbincang dan berandai-andai, apa jadinya bila dunia mengalami bencana nuklir. Siapa yang layak hidup, dan yang tidak? Persoalan filsafat yang menyenggol etika, moral, dan logika ini sejatinya sebuah eksperimen sinema yang nyaris punah dari Hollywood. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan