Edge of Tomorrow, Bermain Video Game Menjadi Tom Cruise

Bukan Tom Cruise, tapi bintang utama film ini adalah kisahnya yang membuat penontonnya merasa disuguhi tontonan cerdas.

Diterbitkan 29 Mei 2014, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Oke, ternyata ini bukan film perang melawan alien biasa yang meminjam metafora Perang Dunia II. Film ini mengambil unsur yang ada di film Source Code (2011), tentang tentara yang mengulang lagi kejadian sebelum sebuah pemboman demi mengungkap si pelaku, atau juga Groundhog Day (1993), film komedi unik yang dibintangi Bill Murray, tentang penyiar TV yang "dikutuk" terbangun menjalani hari yang sama terus-menerus.

Sutradara Doug Liman dengan penulis skenario Christopher McQuarrie bersama duo bersaudara Jez dan John-Henry Butterworth (mengadaptasi novel ringan penulis Jepang Hiroshi Sakurazaka, All You Need Is Kill) menyuguhkan tontonan yang menjanjikan.

Musim panas tahun lalu kita disuguhi Elysium, film fiksi ilmiah karya Neil Blomkamp (sebelumnya membesut District 9). Dalam Elysium, Blomkamp membayangkan di masa depan jurang perbedaan si kaya dan si miskin di Bumi sangat lebar. Sebanyak 99 persen penduduk tinggal di Bumi yang penuh polusi, kelebihan penduduk, dan miskin; sedangkan 1 persen sisanya—bahkan mungkin lebih kecil dari jumlah itu—tinggal di atas Bumi dalam sebuah stasiun ruang angkasa bernama Elysium.

>Di Elysium penduduk Bumi yang super kaya hidup sangat mewah. Tidak hanya kehidupan mereka terjamin, namun juga Elysium memiliki ranjang ajaib yang cukup tiduran di situ, maka akan ada sinar yang memindai tubuh menjadi muda dan segar kembali. Ranjang ajaib ini juga bisa menyembuhkan segala penyakit. Segala sel yang rusak, akibat kanker misalnya, akan diganti sel baru.

 

Metafora kehidupan si kaya dan si miskin versi Blomkamp terasa janggal ketika persoalannya bisa dipecahkan dengan amat sederhana, misalnya, kenapa "ranjang ajaib" tak juga dibuat di Bumi dan dengan begitu persoalan si kaya-si miskin usai dan seluruh dunia bisa hidup damai, tak ada lagi yang jatuh sakit. Namun, Blomkamp membuat persoalan lebih ruwet dengan memasukkan tokoh yang diperankan Matt Damon sebagai "Sang Juru Selamat" atau Messiah.

Liman (membuat Mr. & Mrs. Smith dan The Bourne Identity) sepertinya belajar dari kesalahan `Elysum`. Memang bagus membuat komentar sosial zaman kiwari berwujud metafora fiksi ilmiah, tapi bila metafora tersebut terkesan hanya menyederhanakan persoalan atau bikin solusi yang ruwet, pesan kritik sosialnya tak sampai.

`Edge of Tomorrow` tak hendak sok pintar menyuguhkan pesan tersirat di balik film. Filmnya hanya hendak bermain-main dengan bentuk cara bertutur baru. Menontonnya, kita seperti sedang memainkan sebuah game di komputer, handphone, atau console game. Kita seolah menjadi Tom Cruise di film ini di mana kita memainkan game yang tokohnya mati di tengah permainan dan harus mulai main dari awal lagi. Saat kita semakin sering memainkannya, kita makin pintar dan pada akhirnya, syukur-syukur menang sampai tamat.

Menonton `Edge of Tomorrow` kita tak hendak dibuai oleh Tom Cruise yang kian matang dan tampan. Sejatinya, bukan Cruise bintang utama film ini, ataupun Emily Blunt yang cantik dan perkasa yang jadi lawan mainnya. Saya bersyukur Cruise tak memperlihatkan egonya ingin terlihat yang paling menonjol di film ini. Bintang utama film ini adalah kisahnya yang membuat penontonnya merasa disuguhi tontonan cerdas. Lain tidak.(Ade/Feb)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan