Batavia Rilis Reksa Dana Syariah Saham Tambang Emas, Segini Minimal Investasi

Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) Eri Kusnadi memperkenalkan Batavia Gold Sharia Equity USD sebagai reksa dana yang unik.

Diterbitkan 30 September 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) Eri Kusnadi memaparkan, keunikan Batavia Gold Sharia Equity USD sebagai reksa dana yang berbeda dari Exchange Traded Fund (ETF) emas. Produk ini berisi saham perusahaan tambang emas dan logam mulia global, bukan emas fisik.

"Karena ini bukan ETF, kita cukup yakin diferensiasinya beda. Ini satu-satunya reksa dana yang isinya saham tambang emas di Indonesia," ujar Eri dalam peluncuran Batavia Gold Sharia Equity USD bersama Bank DBS Indonesia, Rabu (30/9/2026).

"Sama-sama emas, tapi ya different exposure. Menurut kita diferensiasinya cukup spesifik," ia menambahkan.

Perbedaan itu berakar pada aturan reksa dana wajib berisi efek, sehingga emas bullion belum bisa jadi underlying. "Kalau bicara reksa dana, underlying-nya harus sekuritas atau efek," ujarnya.

Sebaliknya, POJK terbaru membolehkan ETF emas berisi penyedia emas yang didukung satu banding satu. "Enggak harus bullion. Jadi itu dua hal yang berbeda," lanjutnya.

Soal komposisi, Eri menjawab terkait keseluruhan isi saham yang berbasis emas. "Betul, ya sama kayak porsi reksa dana saham biasanya," kata dia.

"Di Indonesia, POJK untuk reksa dana efek luar negeri baru yang syariah," ungkapnya mengenai label syariah yang dipilih karena regulasi.

"Investasi ke luar negeri itu buat nasabah yang punya pengetahuan lebih, terutama soal pasar global. Jadi OJK pengin filter," ia menambahkan.

 

Prospek dan Tantangan

"Nasabahnya harus lebih berhati-hati dan proses penjualannya juga harus berhati-hati," tutur Eri.

Ia menambahkan, investor perlu menyiapkan dana minimal US$ 10.000 atau Rp 178,9 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.890) sesuai ketentuan OJK.

Dari sisi prospek, Eri menyebut permintaan bank sentral menjadi penopang karena masih akan cukup tinggi ke depan. Kebutuhan diversifikasi aset terhadap dolar AS juga membuat permintaan emas tetap tinggi.

Namun, ia mengakui ada tantangan. "Permintaan tinggi bukan berarti akan selalu menghasilkan harga yang konstan ataupun stabil naik. Volatility akan tetap ada," tegasnya.

Emas juga tidak memberi imbal hasil berkala. "Dia enggak bayar kupon, nggak bayar dividen, nggak bayar apa pun. Istilah kerennya long-duration asset," kata Eri.

Bunga dolar AS yang tinggi menjadi tantangan tambahan.  "hampir enggak mungkin kita mengharapkan suatu aset itu selalu bersih, enggak pernah ada challenge-nya," tutur dia.

"Risiko ini akan saling berimbang dengan permintaan emas global yang tetap tinggi," ujarnya.

Selain itu, Ia menilai harga emas kini sudah cukup kuat support-nya, meski belum bisa dibilang "bottom".

Soal target, Batavia mengaku sudah melampaui sasaran awal. "Untuk target peluncuran sendiri, di peluncuran kemarin kita targetkan di atas 10 juta [USD] di day one, dan sudah lebih dari 10 juta di day one," kata Eri.

Untuk akhir tahun, Batavia belum mematok angka pasti. "Sampai tutup tahun mungkin kita tidak punya target spesifik, tapi kalau bisa lebih dari double daripada peluncuran, kita sudah sangat bagus sekali," ia menambahkan.