YPAS: Harga Bahan Baku Melonjak 100% Imbas Perang di Timur Tengah

Manajemen Yanaprima Hastapersada (YPAS) menyatakan, konflik di Timur Tengah mempengaruhi rantai pasokan bahan baku.

Diterbitkan 16 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan tajam harga bahan baku plastik menjadi tekanan berat bagi pelaku industri, termasuk PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS). Lonjakan harga yang mencapai hingga 100 persen pada kuartal pertama 2026, terutama pada Maret, memicu tekanan berlapis dari sisi produksi hingga permintaan pasar.

Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, mengungkapkan kondisi global menjadi pemicu utama lonjakan tersebut. Konflik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik, baik di tingkat domestik maupun global.

"Telah terjadi peningkatan harga bahan baku plastik yang cukup tajam selama triwulan pertama khususnya di bulan Maret tahun 2026 ini yang mencapai peningkatan di kisaran 80-100 persen, khususnya untuk bahan baku lokal," kata Rinawati dalam Public Expose YPAS, Kamis (16/4/2026).

Menurut Rinawati, kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga memperburuk kondisi pasokan. Keterbatasan bahan baku menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan, yang pada akhirnya mengganggu rantai pasok global.

"Selain harga juga adanya keterbatasan bahan baku yang mana menimbulkan ketidakseimbangan demand dan supply bahan baku plastik.Hal ini berakibat terganggunya rantai pasok global," ujarnya.

Di sisi hilir, kondisi tersebut memaksa produsen untuk menaikkan harga jual produk, termasuk karung plastik, secara bertahap. Namun, tidak semua konsumen dapat menerima kenaikan tersebut, sehingga permintaan mengalami tekanan.

"Kondisi ini berdampak terhadap peningkatan harga jual karung plastik secara bertahap. Namun, banyak konsumen yang belum atau tidak bisa menerima kondisi kenaikan harga tersebut," ungkapnya.

 

Laba YPAS Melonjak 220% meski Produksi Turun

Sebelumnya, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,5 miliar atau mencapai 220% dari target yang telah ditetapkan.

"Dari segi profitabilitas, peningkatan pendapatan perseroan yang diiringi dengan pencapaian efisiensi biaya-biaya berpengaruh terhadap pencapaian profit perseroan sebesar 220% dari target yang telah ditetapkan, yaitu terdapat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 5,5 miliar," kata Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, dalam Public Expose, Kamis (16/4/2026).

Kinerja tersebut tidak lepas dari strategi perseroan yang lebih selektif dalam menentukan pasar dan harga jual, dengan fokus pada segmen produk bernilai tinggi (high value). Langkah ini terbukti mampu menjaga profitabilitas di tengah dinamika permintaan pasar.

Rinawati mengungkapkan perseroan secara aktif mengarahkan penjualan ke segmen dengan margin lebih tinggi, termasuk produk untuk kebutuhan food grade dan ekspor.

"Sepanjang tahun 2025, perseroan merambah ke pasar yang memiliki high value untuk fasilitas food grade," ujarnya.

Sepanjang 2025, penjualan perseroan mencapai Rp 362,4 miliar atau 101% dari target Rp 360 miliar. Angka ini juga tumbuh 5,4% dibandingkan realisasi 2024.

Penopang Peningkatan Pendapatan YPAS 2025

Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh penyesuaian harga jual sepanjang tahun serta pergeseran fokus ke pasar dengan nilai tambah lebih tinggi. Dari sisi segmen, penjualan karung plastik mencatat kenaikan 13,5% menjadi Rp 159,2 miliar. Selain itu, segmen roasted dan sandwich melonjak signifikan hingga 147% seiring ekspansi pasar ekspor.

Sebaliknya, segmen kantong semen mengalami penurunan 21,2% menjadi Rp 131,9 miliar akibat melemahnya permintaan domestik. Namun, perseroan tetap menjaga kinerja dengan mengalihkan fokus ke segmen yang lebih menguntungkan.

"Dari segmen kantong semen, tahun 2025 mengalami penurunan 21,2% atau sebesar Rp 131,9 miliar dibandingkan tahun 2024 yang mencatat penjualan sebesar Rp 167,4 miliar," ujarnya.

Efisiensi Biaya

Selain strategi penjualan, peningkatan laba YPAS juga ditopang oleh efisiensi biaya dan penurunan harga bahan baku. Hal ini mendorong margin laba kotor perseroan naik sebesar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar Rp 32,4 miliar, meningkat dari Rp 24,7 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha juga mengalami kenaikan sebesar 2,1%.

"Sepanjang tahun 2025 laba kotor perseroan tercatat Rp 32,4 miliar dan Rp 24,7 miliar. Laba usaha perseroan juga mengalami kenaikan 2,1% di tahun 2025. Sehingga perolehan laba tahun terjalan mencapai Rp 5,5 miliar," pungkasnya.