IHSG Dibayangi Isu MSCI dan BI Rate, Deretan Saham Ini Dapat Dicermati

Berikut sentimen global dan domestik yang akan membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan. Salah satunya pengumuman suku bunga BI.

Diterbitkan 18 Februari 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 3,49 persen. Kenaikan ini dinilai sebagai sinyal awal pemulihan setelah munculnya isu terkait MSCI, meski tekanan eksternal masih berlangsung.  Lembaga pemeringkat Moody's sebelumnya memangkas outlook terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk empat bank nasional, yang sempat memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Di sisi lain, FTSE Russell menunda perubahan komposisi indeks yang berkaitan dengan Indonesia karena masih menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan bursa. Peninjauan ulang dijadwalkan pada Mei mendatang dan ditegaskan tidak terkait dengan perubahan klasifikasi negara seperti yang dilakukan MSCI.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menyebut penguatan IHSG terjadi di tengah sentimen yang beragam. Kenaikan ditopang sejumlah saham konglomerasi seperti BUMI, RATU, dan BUVA. 

Namun, tekanan jual investor asing masih terlihat, terutama pada saham Bank Central Asia Tbk yang mencatatkan outflow Rp 3,8 triliun dalam sepekan dan terkoreksi 6,19 persen. Secara keseluruhan, IHSG mencatatkan outflow Rp 6,1 triliun dalam periode yang sama, mencerminkan rotasi dan selektivitas investor di tengah dinamika global dan domestik.

Pergerakan bursa global juga masih menjadi perhatian. Indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan akan dipengaruhi rilis data ekonomi dan laporan kinerja emiten. 

Pasar menanti estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (GDP), serta data belanja dan pendapatan konsumen sebagai indikator daya tahan ekonomi Amerika Serikat. Musim laporan keuangan kuartalan yang masih berlangsung juga berpotensi memicu pergeseran minat ke sektor-sektor tertentu.

"Ketakutan investor terhadap dampak negatif AI juga berpotensi membuat volatilitas Wall Street tetap tinggi, meski bias pergerakan cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas pertumbuhan,” jelas Hari.

 

Pasar Bergerak Dinamis

Di dalam negeri, pasar diperkirakan bergerak dinamis dengan fokus pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada 19 Februari. Ekspektasi stabilisasi suku bunga dan arah kebijakan moneter ke depan dinilai akan memengaruhi pergerakan aset berisiko.

Data pertumbuhan kredit perbankan yang menunjukkan ekspansi relatif sehat juga menjadi perhatian, karena mencerminkan permintaan sektor riil yang membaik. Sementara itu, perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia, termasuk peningkatan transparansi dan tata kelola, dinilai menjadi faktor yang turut diperhitungkan pelaku pasar, terutama dalam menarik kembali minat investor asing.

"Investor juga perlu memerhatikan rilis data inflasi domestik, update neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG," tegas Hari.

Sentimen Sepekan

Terkait proyeksi perdagangan 18–20 Februari 2026 setelah libur Imlek, Hari menilai pergerakan IHSG akan dipengaruhi rilis laporan keuangan tahunan 2025. Emiten dengan pertumbuhan laba dan margin yang terjaga dinilai berpotensi menjadi penopang indeks.

Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi setelah belum mampu menembus area resistance 8.300. Level support berada di kisaran 8.120. Selama resistance tersebut belum terlewati, pergerakan indeks diperkirakan cenderung sideways dengan volatilitas yang relatif terbatas.

Saham yang dapat Dicermati

Menanggapi kondisi pasar saat ini, IPOT merekomendasikan strategi perdagangan pada saham-saham yang dapat dicermati di tengah kondisi ini. Adapun rekomendasinya sebagai berikut:

BBTN

Buy BBTN (Entry: 1.365, Target Price/TP: 1.555, Stoploss/SL: 1.280). Secara teknikal, BBTN masih berada dalam tren naik, ditopang arus dana asing yang tercatat cukup besar pada pekan lalu mencapai sekitar Rp 646 miliar. 

Hari menilai saham ini dinilai masih memiliki ruang penguatan lanjutan, seiring sentimen dari pengumuman BI Rate dan data pertumbuhan kredit (loan growth) pada pekan depan.

LPPF

Buy LPPF (Entry: 1.895, TP: 1.945, SL: 1.855). Dari sisi teknikal, LPPF bergerak dalam pola uptrend channel dan saat ini berada di area higher low. 

Menurut Hari kondisi tersebut membuka peluang bagi saham ini untuk melanjutkan kenaikan dan membentuk level higher high berikutnya.

HRUM

Buy HRUM (Entry: 1.140, TP: 1.285, SL: 1.090). Secara teknikal, HRUM menunjukkan tren naik dengan pergerakan harga yang konsisten berada di atas EMA-5 hingga EMA-50. Hari menyebut dalam sepekan terakhir investor asing tercatat melakukan akumulasi, dengan posisi net buy secara year to date (YTD) mencapai sekitar Rp 83 miliar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • MSCI
  • Moody's
  • tekanan eksternal