BCA Siapkan Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham

PT Bank Central Asia Tbk atau disebut BCA telah menunjuk BCA Sekuritas untuk melakukan buyback saham.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA akan membeli kembali atau buyback saham maksimal Rp 5 triliun. Buyback saham dilakukan BCA untuk mendukung stabilitas pasar modal Indonesia 2026.

Selain itu, buyback saham dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi pemegang saham. Perseroan akan melakukan pengalihan saham hasil Buyback dengan memperhatikan ketentuan POJK No. 29/2023 dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. Demikian mengutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, (29/1/2026).

Adapun jumlah saham yang akan di-buyback oleh perseroan tidak akan melebihi 10% dari dari modal disetor perseroan dan jumlah saham yang beredar atau free float usai perlaksanaan buyback tidak akan menjadi kurang 7.5% dari jumlah saham tercatat.

"Periode share buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang rencananya akan dilaksanakan pada 12 Maret 2026, kecuali di akhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F.Haryn dalam keterangan resmi.

Buyback akan dilakukan di BEI lewat pasar regular dan hanya akan dilakukan melalui PT BCA Sekuritas. Buyback akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Pelaksanaan Buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam POJK No. 11/2016.

"Pelaksanaan buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha Perseroan. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, BCA senantiasa mematuhi prinsip Corporate Governance (GCG) dan mematuhi peraturan/ketentuan yang berlaku," kata dia.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 28 Januari 2026, harga saham BBCA turun 6,33% ke posisi Rp 7.025 per saham. Harga saham BBCA dibuka melemah 450 poin ke posisi Rp 7.050 per saham. Saham BBCA berada di level tertinggi Rp 7.400 dan level terendah Rp 6.925 per saham. Total frekuensi perdagangan 273.709 kali dengan volume perdagangan saham 10.518.523 saham. Nilai transaksi Rp 7,5 triliun.

Kinerja 2025

Sebelumnya,  PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% secara tahunan atau Year on Year menjadi Rp 57,5 triliun pada 2025.

"Rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp 57,5 triliun," kata Presiden  Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja FY 2025 PT Bank Central Asia (BBCA), Selasa (27/1/2026).

BCA dan entitas anak mencatat pertumbuhan total kredit 7,7% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.

Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah  tangga. Hal ini selaras dengan komitmen perseroan mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia. Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun.

"BCA berterima kasih kepada seluruh nasabah atas kepercayaan dan dukungannya kepada kami. Hal tersebut menjadi motivasi kami terus bergerak dan berkontribusi bagi ekonomi di seluruh penjuru Tanah Air. Dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu kami melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif," ujar Hendra.

Adapun kredit usaha yang disalurkan BCA tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp 756,5 triliun per Desember 2025.  Penyaluran ini sejalan dengan komitmen BCA dalam mendukung perkembangan dunia usaha nasional.

 

Pembiayaan Konsumer

Hendra menyampaikan, BCA mencatat pembiayaan konsumer terjaga sebesar Rp 224,1 triliun, didukung KPR hingga Rp 142,3 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp 56,6 triliun.

Disisi lain, BCA juga mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025. Outstanding pinjaman konsumer lain (mayoritas kartu kredit) tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp 25,2 triliun.

"Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali di 1,7% dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%," ujarnya.

Adapun per Desember 2025, total DPK BCA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp 1.249 triliun. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% YoY mencapai 42 miliar.

"Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari. Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY," ujarnya.

Selain itu, pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY. Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4%.

 

 

DPK BCA

Disisi lain, BCA juga mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025. Outstanding pinjaman konsumer lain (mayoritas kartu kredit) tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp 25,2 triliun.

"Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali di 1,7% dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%," ujarnya.

Adapun per Desember 2025, total DPK BCA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp 1.249 triliun. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% YoY mencapai 42 miliar.

"Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari. Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY," ujarnya.

Selain itu, pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY. Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4%.

Â