Citi Soroti Peran Danantara sebagai Penggerak Baru Pasar Modal Indonesia

Citi menilai Danantara berperan untuk mendorong pendalaman pasar modal Indonesia.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembentukan Danantara dinilai menjadi salah satu perkembangan paling signifikan bagi pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Konsolidasi kepemilikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah satu payung diyakini akan mengubah pendekatan penggalangan dana, baik melalui obligasi maupun instrumen pasar modal lainnya.

Head of Debt Capital Markets South and Southeast Asia Citi, Nitesh Dugar, menilai pembentukan Danantara akan berdampak besar terhadap perkembangan pasar modal Indonesia.

Menurut dia, konsolidasi BUMN dalam satu holding akan memengaruhi secara langsung strategi penggalangan dana.

"Dari perspektif pasar modal, pembentukan Danantara merupakan perkembangan besar. Konsolidasi kepemilikan BUMN di bawah satu payung akan berdampak signifikan terhadap strategi penggalangan dana anak usaha," kata Nitesh Dugar dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026, Kamis (15/1/2026).

Ia menyebut Danantara diproyeksikan memainkan peran kunci dalam mendorong pendalaman pasar modal nasional. Tidak hanya sebagai alat konsolidasi aset negara, tetapi juga sebagai katalis pembiayaan proyek-proyek besar dan transisi ekonomi Indonesia.

Dalam konteks ini, keterlibatan lembaga keuangan global seperti Citi menunjukkan meningkatnya minat dan keyakinan investor terhadap masa depan pasar modal Indonesia.

"Kami melihat Danantara akan memainkan peran penting dalam pengembangan pasar modal Indonesia, dan Citi ingin menjadi mitra strategis dalam proses tersebut," ujarnya.

Citi Perhatikan Perekonomian Indonesia

Dugar mengatakan Indonesia merupakan negara yang kami liput dan perhatikan secara sangat aktif. Secara pribadi, ia mengaku telah lama terlibat dan berinvestasi di Indonesia.

Jika menelusuri perkembangannya, Indonesia telah berevolusi dari ekonomi yang didominasi minyak dan gas, kemudian batu bara termal, menjadi negara dengan sumber daya mineral strategis berbiaya rendah seperti nikel, tembaga, emas, dan molibdenum.

"Peran Citi adalah menjadi mitra dalam transisi tersebut bagi perekonomian dan korporasi Indonesia," ujarnya.

Citi Soroti Pendanaan Sumber daya Indonesia

Dia menuturkan, dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ESG, pendanaan untuk batu bara termal menjadi semakin menantang, sehingga banyak perusahaan tambang besar di Indonesia beralih ke komoditas seperti tembaga, emas, dan nikel.

"Keunggulan Indonesia tidak hanya terletak pada cadangan sumber daya, tetapi juga pada biaya produksi yang rendah, yang menjadi faktor krusial dalam persaingan global," pungkasnya.

Citi: Aktivitas IPO Indonesia Masih Dibayangi Tantangan Likuiditas

Sebelumnya, pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia diperkirakan masih menghadapi tantangan pada tahun ini. Head of Asia Equity Capital Markets Syndicate Citi, Rob Chan, menilai aktivitas pasar modal Tanah Air belum menunjukkan pemulihan signifikan dalam jangka pendek.

Menurutnya, sepanjang tahun lalu, aktivitas equity capital market (ECM) di Indonesia tercatat sekitar USD 1 miliar. Angka tersebut relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan menurun jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya ketika kondisi pasar global masih lebih kondusif.

"Saya pikir dalam hal Indonesia, tahun lalu kita melihat aktivitas ECM sekitar satu miliar dolar yang relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya dan tentu saja mengalami penurunan dibandingkan dua tahun lalu," kata Rob Chan dalam Asia South Investment BankingOutlook 2026, Kamis (15/1/2026).

Salah satu faktor utama yang masih menjadi perhatian investor terhadap pasar saham Indonesia adalah likuiditas perdagangan. Rob Chan menyebut, isu likuiditas kerap menjadi pertimbangan krusial bagi pelaku pasar sebelum memutuskan untuk masuk dalam aksi penggalangan dana melalui IPO maupun penerbitan saham lanjutan.

"Saya pikir secara keseluruhan, salah satu pertimbangan utama yang dimiliki orang-orang untuk Indonesia masih akan berpusat pada likuiditas perdagangan saham di sana," ujarnya.

 

Sektor Komoditas

Meski aktivitas IPO secara umum masih terbatas, Citi melihat peluang tetap terbuka bagi perusahaan dari sektor tertentu. Industri berbasis komoditas dinilai berpotensi mencuri perhatian investor, seiring dengan kinerja harga komoditas yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan penguatan signifikan.

"Saya pikir sejauh ada perusahaan di industri tertentu seperti komoditas, yang telah mengalami kenaikan yang sangat kuat, perusahaan-perusahaan tersebut mungkin akan mendapat manfaat dari peningkatan perhatian investor untuk melihat potensi peluang penggalangan modal ekuitas tambahan," ujarnya.

Namun demikian, Rob Chan menegaskan bahwa untuk jangka pendek, khususnya pada semester pertama tahun ini, aktivitas IPO di Indonesia belum diharapkan berlangsung ramai. Sejumlah perusahaan yang semula merencanakan IPO kemungkinan akan menunda aksi korporasinya ke paruh kedua tahun ini atau bahkan menggesernya ke tahun berikutnya, sambil menunggu kondisi pasar yang lebih mendukung.

Â