Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Amerika Serikat (AS) dinilai sedang memasuki era baru di mana dominasi fiskal semakin menonjol. Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat telah menimbulkan kekhawatiran pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter.
Demikian disampaikan Chief Investment Officer (CIO) Bank DBS Hou Wey Fook dikutip dari keterangan resmi, Selasa (13/1/2026).
Ia mengatakan, setiap pelemahan kemandirian the Federal Reserve (the Fed), baik yang nyata dan yang dirasakan, dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan memaksa pasar untuk menuntut premi risiko yang lebih tinggi.
Advertisement
"Jika pelonggaran fiskal dan moneter terus berlanjut tanpa kendali, tekanan harga akan semakin meningkat,” ujar dia.
Hou Wey Fook menuturkan, hal ini karena ketidakhadiran kerangka fiskal yang komprehensif untuk mengendalikan utang publik, bukan tarif atau kendala pasokan, merupakan pendorong utama inflasi.
“Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis. Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik selama siklus inflasi, sehingga menjadi elemen yang tak tergantikan sistem strategi saat ini,” ujar dia.
Namun, inflasi dinilai bukan satu-satunya pergeseran struktural yang membentuk kembali pasar. Ia mengatakan, deglobalisasi yang dipercepat oleh kebijakan proteksionis seperti America First telah menimbulkan dua dampak negatif yakni aliran perdagangan yang melemah dan biaya produksi yang lebih tinggi.
"Namun, ini menarik. Meskipun menghadapi tantangan ini, momentum makro tetap kuat berkat siklus investasi modal yang kuat,” kata dia.
Ia mengatakan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pengeluaran pertahanan memimpin tren ini. Hyperscalers saja akan mengucurkan dana USD 1,4 triliun ke infrastruktur AI antara 2025 dan 2027. Sementara itu, anggaran pertahanan NATO akan naik dari 2% menjadi 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035.
“Komitmen ini mewakili angin segar struktural yang berpotensi mendefinisikan ulang lanskap industri dan teknologi,” kata dia.
Ia mengatakan, dengan peluang datanglah risiko. Lonjakan AI memperhatikan ciri-ciri pasar yang euforia, termasuk valuasi tinggi, risiko konsentrasi dan antusiasme spekulatif.
Aset Riil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5244922/original/072045700_1749267953-Foto_Ilustrasi_DBS__1_.jpg)
Meski demikian, berbeda dengan lonjakan dotcom, latar belakang makro dan kebijakan saat ini jauh lebih solid. Rencana belanja Big Tech, meskipun besar, tetap sebanding dengan PDB.
"Pihaknya menyadari kelengahan bisa berbahaya. Munculnya circular financing, tren di mana perusahaan mendanai pertumbuhan satu sama lain, mengingatkan pada praktik vendor financing pada akhir 1990-an, dan karenanya perlu diawasi secara ketat untuk mengidentifikasi potensi kerentanan sistemik," ujar dia.
“Seperti yang telah disinggung di atas, dengan The Fed beralih ke pemotongan suku bunga dalam lingkungan non-resesi, tekanan harga kemungkinan akan terus meningkat,” dia menambahkan.
Ia menuturkan, aset riil tetap menjadi lindung nilai paling efektif terhadap inflasi yang persisten.
“Dengan membandingkan kinerja relatif perak dan S&P 500 sebagai proxy untuk aset riil dan aset keuangan yang lebih luas masing-masing, kita melihat posisi investor telah mencapai tingkat ekstrem, menciptakan peluang untuk diversifikasi. Singkatnya, memasukkan aset riil yang tangible merupakan langkah strategis dibandingkan sekadar langkah defensif,” kata dia.
Advertisement
Alokasi Aset
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5287442/original/029771000_1752823427-Foto_3_-_Mudahkan_Transaksi_Internasional__Kolaborasi_Bank_DBS_Indonesia___Topremit_Raih_Titel____Indonesia_Partner_Experience_of_the_Year___.jpeg)
CIO Bank DBS Hou Wey Fook menuturkan, aliran modal spekulatif ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi setelah Hari Kemerdekaan telah mendorong saham-saham berisiko tinggi (high beta) ke level yang sangat tinggi, didukung oleh aliran dana ke ETF yang menggunakan leverage.
Pasar kredit juga mencerminkan kisah serupa, dengan kinerja unggul obligasi berimbal hasil tinggi (high yield) yang telah mencapai batasnya.
"Untuk kuartal-kuartal mendatang, ketahanan akan berasal dari fokus pada kualitas, yang mengarah pada rekomendasi kami untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas dan obligasi dengan peringkat investasi (investment grade)," ujar dia.
Lalu bagaimana dengan alokasi aset?
Hou Wey Fook menuturkan, menjelajahi 2026 menuntut untuk mengikuti gelombang AI, memanfaatkan aset riil sebagai pelindung inflasi, mencari nilai di pasar Asia di luar Jepang, serta tetap fokus pada kualitas di pasar saham dan kredit.
"Ini adalah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski kondisi makro telah membaik, valuasi tetap tinggi di berbagai kelas aset, termasuk saham, obligasi, dan emas,” ujar dia.
Hou Wey Fook menuturkan, dengan bank sentral kembali membuka keran likuiditas, inflasi diperkirakan kembali meningkat, sehingga bertahan di kas menjadi pilihan yang tidak lagi relevan.
4 Pendekatan Utama
Ia menuturkan, menjelajahi 2026 akan membutuhkan empat pendekatan utama. Pertama, mengikuti gelombang AI melalui perusahaan-perusahaan adaptor. Investasi AI akan terus berlanjut, namun risikonya mencakup valuasi yang tinggi dan pembiayaan yang bersifat sirkular.
"Kami mengutamakan perusahaan yang mengadopsi AI untuk efisiensi operasional, sambil menghindari risiko belanja modal besar yang tidak diimbangi oleh pendapatan. Selanjutnya, mengelola inflasi yang bersifat persisten melalui aset riil. Penurunan suku bunga The Fed dalam kondisi tanpa resesi mengarah pada inflasi yang lebih tinggi," ujar dia.
“Oleh karena itu, infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia menawarkan perlindungan terhadap inflasi,”
Ketiga, mencari nilai di pasar saham Asia di luar Jepang. Kawasan ini diperdagangkan dengan diskon 32,4% dibandingkan pasar negara maju, meskipun memiliki pertumbuhan serta momentum laba yang lebih kuat.
Terakhir, fokus pada kualitas di pasar saham dan kredit. Kinerja aset berbeta tinggi (high-beta) telah berada pada level yang ekstrem, sehingga saham berkualitas dan obligasi berperingkat investment-grade lebih diutamakan dibandingkan kredit high-yield.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7669455/original/089727000_1780463646-Ahok_cek_fakta_dana_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302208/original/030738800_1784536511-Screenshot_2026-07-20_150334.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507012/original/063330600_1771481312-baznas_ramadan_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472037/original/090072700_1768306398-Chief_Investment_Officer__CIO__DBS_Hou_Wey_Fook.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301617/original/065063300_1784505165-ar1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301608/original/075036800_1784503489-TORRES_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301667/original/044600200_1784511418-messi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302473/original/030559500_1784555002-Spain_s_Gavi__left__falls_as_he_scuffles_with_Argentina_s_Leandro_Paredes__5__and_Thiago_Almada.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258400/original/000932100_1781342638-063_2281325777.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301814/original/084260800_1784520494-simeone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5163925/original/080587200_1742089761-madrid_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293816/original/090553700_1783751992-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302437/original/062865000_1784549461-Argentina_s_Lionel_Messi__10__takes_a_corner_watched_by_Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302430/original/022838000_1784547974-FIFA_President_Gianni_Infantino__left__and_President_Donald_J._Trump__center__congratulate_Spain_s_Pau_Cubars__.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302353/original/019992900_1784542330-000_C2LP6JB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521544/original/071807800_1772692599-Foto_1_-_Ilustrasi_DBS__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521978/original/000642500_1772705274-Depositphotos_32576049_L.jpg)