Bursa Saham Asia-Pasifik Bergerak Beragam Hari Ini 7 Januari 2026

Bursa saham Asia-Pasifik bergerak beragam pada hari Rabu karena investor menunggu data inflasi Australia.

Diterbitkan 07 Januari 2026, 08:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta -  Bursa saham Asia-Pasifik bergerak beragam pada hari Rabu karena investor menunggu data inflasi Australia.

Dikutip dari CNBC, Rabu (7/1/2026), Australia dijadwalkan akan merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan November pagi ini. Indeks acuan ASX/S&P 200 negara itu naik 0,37%. Analis Citi memperkirakan inflasi utama bulan November akan mencapai 3,6% dan inflasi rata-rata yang disesuaikan sebesar 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Indeks saham acuan Jepang, Nikkei 225.Indeks saham turun 0,45%, sementara Topix kehilangan 0,63%. Indeks saham Kospi Korea Selatan melonjak 1,89%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun tipis 0,12%.

Indeks Hang Seng Hong Kong juga diperkirakan akan dibuka lebih lemah, dengan kontrak berjangka diperdagangkan pada 26.685, dibandingkan dengan penutupan indeks sebelumnya di 26.710,45. 

Kontrak berjangka ekuitas AS sedikit berubah pada awal jam perdagangan Asia.

Semalam di AS, S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average  mencapai level tertinggi baru karena investor melupakan serangan AS baru-baru ini terhadap Venezuela.

Indeks pasar saham secara luas naik 0,62%, mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa di 6.944,82. Indeks ini juga  mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang masa  selama sesi perdagangan.

Dow Jones, indeks saham unggulan, naik 484,90 poin, atau 0,99%, juga mencapai  rekor tertinggi intraday  dan ditutup pada rekor 49.462,08.  Nasdaq Composite  naik 0,65% dan berakhir di 23.547,17.

Harga Emas dan Perak Menguat, IHSG Cetak Rekor Tertinggi

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) seiring dengan menguatnya harga komoditas logam di tingkat global.

IHSG ditutup menguat 74,41 atau 0,84 persen ke posisi 8.933,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,28 poin atau 0,61 persen ke posisi 865,05.

“Berlanjutnya penguatan pada mayoritas harga komoditas logam dan adanya beberapa insentif dari pemerintah menjadi faktor positif pada pergerakan indeks,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Dari mancanegara, harga komoditas emas dan perak terpantau menguat di tingkat global, pasca Amerika Serikat (AS) melakukan serangan terhadap Venezuela.

Selain mencermati perkembangan geopolitik, Ratna mengatakan pelaku pasar tengah menantikan sejumlah data ekonomi yang akan dirilis dari Eropa dan AS.

Dari Jerman, akan dirilis data retail sales dan pasar tenaga kerja, sedangkan dari Euro Area akan dirilis data inflasi. Kemudian, pelaku pasar akan mencermati indeks ISM Services dan JOLTS Job Openings dari AS.

Dari dalam negeri, pemerintah berlanjut memberikan beberapa insentif untuk mendorong daya beli masyarakat, yang diharapkan dapat memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Melalui PMK 105/2025, pemerintah memberikan insentif pembebasan pajak penghasilan (PPh) 21 selama tahun 2026 untuk karyawan dengan gaji di bawah Rp10 juta/bulan yang bergerak di sektor industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, industri kulit dan turunannya, serta pariwisata.

Melalui PMK 90/2025, pemerintah menetapkan PPN ditanggung pemerintah sebesar 100 persen untuk harga jual rumah sampai dengan Rp2 miliar untuk rumah tapak dan Rp5 miliar untuk rumah susun selama tahun 2026. Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji aturan insentif untuk industri otomotif.

 

 

IHSG Betah di Teritori Positif

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 2,81 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor teknologi yang naik masing-masing sebesar 1,51 persen dan 1,28 persen.

Sedangkan, dua sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik dan sektor keuangan yang masing-masing turun sebesar 1,40 persen dan 0,12 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BIPI, GSMF, INPC, PADI, dan NICL. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KLAS, CPRO, YOII, PNLF, dan MBSS.