Berburu Saham Pilihan saat Musim Dividen 2025

Pengamat pasar modal yang juga founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, memilih saham dengan dividen tinggi memerlukan riset yang cermat.

Diterbitkan 27 April 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saat musim dividen tiba, para investor mulai berburu saham yang menawarkan imbal hasil menarik melalui pembagian dividen. Musim dividen yang biasanya berlangsung antara April hingga Juni menjadi momen yang tepat bagi para investor untuk meraih keuntungan pasif.

Namun, memilih saham yang tepat di tengah banyaknya pilihan di pasar bisa menjadi tantangan tersendiri. Pengamat pasar modal yang juga founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, memilih saham dengan dividen tinggi memerlukan riset yang cermat.

Beberapa sektor yang memiliki emiten dengan kebijakan dividen yang menarik antara lain sektor perbankan, telekomunikasi, tambang, properti, dan barang konsumsi.

Sektor Perbankan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dikenal memiliki fundamental yang kuat dan kebijakan pembagian dividen yang konsisten. Selain itu, sektor telekomunikasi, dengan emiten besar seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL), juga menawarkan dividen yang menarik bagi investor.

"Bank-bank besar di Indonesia umumnya memiliki fundamental yang kuat dan secara rutin membagikan dividen. Kita bisa mempertimbangkan saham-saham dari bank BUMN maupun bank swasta yang memiliki rekam jejak pembayaran dividen yang baik dan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio/DPR) yang stabil," kata Wahyu kepada Liputan6.com, Jumat (25/4/2025).

Di sektor tambang, terutama bagi emiten batu bara seperti PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dividen yang dibagikan seringkali cukup tinggi, meskipun sektor ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas.

Perhatikan Faktor Fundamental

Begitu pula dengan sektor properti dan REITs (Real Estate Investment Trusts), yang menawarkan dividen menarik karena beberapa perusahaan memiliki kewajiban untuk membagikan sebagian besar laba sebagai dividen.

Penting bagi investor untuk tidak hanya fokus pada yield dividen yang tinggi, tetapi juga memperhatikan faktor-faktor fundamental lainnya, seperti rasio pembayaran dividen (DPR), kesehatan keuangan perusahaan, serta prospek bisnis yang dimiliki perusahaan.

"Penting untuk melakukan analisis lebih lanjut terhadap masing-masing emiten. Termasuk riwayat pembayaran dividen, rasio pembayaran dividen (DPR), kesehatan keuangan perusahaan, prospek bisnis, yield dividen," ujar Wahyu.

Strategi Investasi saat Musim Dividen

Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan investor saat musim dividen. Antara lain seperti strategi buy and hold, yang melibatkan pembelian saham emiten yang memiliki rekam jejak dividen yang baik jauh sebelum cum date, dan kemudian menahan saham tersebut untuk jangka panjang.

Tujuan dari strategi ini adalah untuk mendapatkan dividen secara rutin serta potensi kenaikan harga saham dalam jangka panjang.

Bagi investor yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek, strategi dividend capture dapat menjadi pilihan. Strategi ini melibatkan pembelian saham beberapa hari atau minggu sebelum cum date, dan kemudian menjual saham setelah ex date untuk mendapatkan keuntungan dari dividen. Namun, strategi ini memiliki risiko tinggi karena harga saham sering turun setelah ex date.

"Strategi ini melibatkan pembelian saham emiten yang memiliki rekam jejak pembayaran dividen yang baik jauh sebelum cum date (tanggal terakhir investor tercatat berhak atas dividen). Tujuannya adalah untuk mendapatkan dividen secara rutin dan juga potensi kenaikan harga saham dalam jangka panjang," jelas Wahyu.

Jika memungkinkan, investor juga bisa mempertimbangkan reinvestasi dividen (Dividend Reinvestment Plan/DRIP), di mana dividen yang diterima digunakan untuk membeli kembali saham perusahaan yang sama. Ini dapat meningkatkan kepemilikan saham seiring waktu dan memperbesar potensi keuntungan.

"Kita bisa mengaktifkan DRIP, di mana dividen yang kita terima secara otomatis digunakan untuk membeli kembali saham perusahaan yang sama. Ini memungkinkan kita untuk melakukan compounding dan meningkatkan kepemilikan saham seiring waktu," ujar Wahyu.

Menghindari Kerugian karena Dividend Trap

Setelah cum date, harga saham acap kali mengalami penurunan yang wajar, yang dikenal dengan istilah dividend discount. Penurunan harga ini terjadi karena aset perusahaan berkurang setelah pembayaran dividen.

Untuk meminimalkan risiko kerugian karena dividend trap, investor disarankan untuk memilih perusahaan dengan fundamental yang kuat dan fokus pada prospek bisnis jangka panjang.

Selain itu, membeli saham jauh sebelum cum date dapat mengurangi risiko, karena investor tidak hanya mendapatkan dividen tetapi juga potensi kenaikan harga saham dalam jangka menengah hingga panjang.

Bagi investor yang menggunakan strategi dividend capture, sangat penting untuk memperhitungkan biaya transaksi, karena biaya trading yang tinggi bisa mengurangi keuntungan yang didapatkan dari dividen.

"Penurunan harga saham setelah cum date adalah fenomena yang wajar dan sering disebut sebagai dividend discount. Secara teoritis, harga saham akan berkurang sebesar nilai dividen per saham karena aset perusahaan berkurang setelah pembayaran dividen," kata Wahyu.

 

Investor Harus Bagaimana?

Bagi investor yang baru memulai investasi di saham dividen, Wahyu memberikan beberapa saran penting. Pertama, pelajari konsep dividen, cum date, ex date, serta rasio-rasio keuangan yang terkait dengan dividen. Memulai dengan modal kecil untuk memahami dinamika pasar saham juga merupakan langkah yang bijak. Diversifikasi portofolio ke beberapa saham dari sektor yang berbeda dapat mengurangi risiko.

Selain itu, investor juga disarankan untuk berinvestasi dengan perspektif jangka panjang, tidak terpengaruh fluktuasi harga jangka pendek, dan secara berkala memantau kinerja saham yang dimiliki.

"Jangan terburu-buru menginvestasikan seluruh dana kita. Mulailah dengan modal kecil untuk belajar dan memahami dinamika pasar saham dividen... Jangan menaruh seluruh telur dalam satu keranjang. Diversifikasikan portofolio kita ke beberapa saham dari sektor yang berbeda untuk mengurangi risiko," tutur Wahyu.

 

Emiten-Emiten dengan Dividen Menarik

Menurut Wahyu, beberapa emiten yang diketahui rutin membagikan dividen dan layak diperhatikan antara lain:

- Sektor Perbankan:

PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (BBNI).

- Sektor Telekomunikasi:

PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT XL Axiata (EXCL).

- Sektor Tambang:

PT Bukit Asam (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG).

- Sektor Lainnya:

PT Astra International (ASII), yang merupakan konglomerasi besar dengan berbagai lini bisnis yang stabil dan dikenal rutin membagikan dividen.

Investor disarankan untuk memantau kalender dividen yang disediakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengetahui emiten yang sedang dalam musim dividen. Riset fundamental yang mendalam serta memahami tujuan investasi akan membantu investor membuat keputusan yang tepat.

"Untuk mengetahui emiten mana yang aktual saat ini sedang dalam musim dividen dan layak dikoleksi, kita perlu melakukan beberapa langkah. Pantau kalender dividen, riset fundamental, pertimbangkan tujuan investasi, analisis teknikal (opsional)." kata Wahyu.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, investasi saham dividen bisa menjadi strategi yang menguntungkan bagi investor yang ingin membangun kekayaan dan mendapatkan penghasilan pasif. Namun, penting untuk selalu ingat bahwa investasi saham mengandung risiko, dan tidak ada jaminan keuntungan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.