Sukses

Mandiri Sekuritas Ramal IHSG Sentuh 7.300 pada Akhir 2022

Liputan6.com, Jakarta - PT Mandiri Sekuritas (Mandiri Sekuritas) memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditutup di atas level 7.000 pada akhir 2022.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana menyebutkan, kendati kondisi ekonomi masih dinamis tetapi optimistis IHSG dapat mencapai 7.300 pada akhir 2022.

"Prediksi Mandiri Sekuritas masih di 7.300. Kita optimis ke depan, walaupun semua orang bilang ada resesi dan lainnya. Tapi kalau kita lihat pipeline transaksi kita ke depan, memang belum tentu semuanya jalan, tapi ini semua masalah timing market. Kita optimis market tahun depan lebih baik,” kata Oji di Jakarta, ditulis Rabu (1/12/2022).

Dari sisi sektornya, Oki menyebutkan sektor financial akan andil besar pada pergerakan IHSG. Sektor ini diminati utamanya karena memiliki likuiditas tinggi. Namun, secara umum Oki mengatakan, seluruh sektor memiliki kontribusi, termasuk sektor teknologi yang terpantau menjadi pemberat IHSG beberapa waktu terakhir.

“Dari sisi likuiditas, sektor finansial seperti bank itu selalu menjadi primadona karena likuiditasnya sangat bagus, sehingga tradingnya naiknya makin besar. Harus diperhatikan masalah likuiditas ini,” Oki menambahkan.

Adapun untuk sektor teknologi, Oki masih melihat prospek cerah di masa mendatang. Apalagi Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meluncurkan papan baru yaitu papan ekonomi baru (new economy). Secara garis besar, papan ini setara papan utama. Namun pembeda yang paling kentara adalah penggunaan teknologi pada model bisnisnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sektor Teknologi

"Sektor ini (teknologi) itu sektor yang tumbuhnya tinggi sekali. Kalau kita lihat bisnis tradisional seperti penambangan dan lainnya, dari sisi pertumbuhan itu terbatas. Sehingga ini bisa menggairahkan pasar, di mana riwayat pertumbuhan bisa lebih tinggi,” kata Oki. 

Dalam beberapa waktu terakhir sektor saham teknologi jadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam sepekan, IDX Sector Technology susut 702,15 poin atau 10,64 persen per 30 November 2022.

Oki menambahkan, efisiensi dan rasionalisasi perusahaan berbasis teknologi harus dinamis menghadapi kondisi pasar, utamanya saat ini. Pernyataan tersebut menjawab tren pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh banyak perusahaan teknologi beberapa waktu terakhir.

“Perusahaan teknologi banyak PHK massal bukan berarti fundamental dan bisnis modelnya salah. Efisiensi dan rasionalisasi mereka harus dinamis menghadapi kondisi pasar, kalau kondisi pasar tidak bagus, bukan berarti fundamental mereka jelek. Saya optimis perusahaan teknologi memiliki model bisnis yang bagus.” kata Oki.

 

3 dari 4 halaman

Pembukaan IHSG pada 1 Desember 2022

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada awal sesi perdagangan Kamis (1/12/2022).  Pergerakan sektor saham hampir berimbang antara menguat dan melemah.

Mengutip data RTI, IHSG dibuka melemah 7.081,19. Pada perdagangan pukul 09.39 WIB, IHSG tergelincir 0,44 persen ke posisi 7.049. Indeks LQ45 melemah 0,61 persen ke posisi 1.002,02. Sebagian besar indeks acuan tertekan.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 7.090,27 dan terendah 7.037,77. Sebanyak 239 saham menguat dan 250 saham melemah. 165 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 382.775 kali dengan volume perdagangan 6,2 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 4,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 15.704.

Indeks sektor saham menguat dan melemah hampir berimbang. Indeks sektor saham energi menguat 1,02 persen, sektor saham basic menanjak 0,56 persen, sektor saham industri bertambah 0,91 persen. Selain itu, sektor saham properti menanjak 0,70 persen, sektor saham infrastruktur bertambah 0,38 persen dan sektor saham transportasi menguat 1,81 persen.

Sementara itu, sektor saham non siklikal susut 0,27 persen, sektor saham siklikal tergelincir 0,32 persen, sektor saham kesehatan melemah 0,10 persen, sektor saham keuangan turun 0,92 persen dan sektor saham teknologi terpangkas 1,17 persen.

 

4 dari 4 halaman

Bursa Saham Asia pada 1 Desember 2022

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Kamis, 1 Desember 2022. Penguatan bursa saham Asia Pasifik mengikuti wall street seiring bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) beri sinyal memperlembat kenaikan suku bunga yang dimulai pada Desember 2022.

Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,13 persen, dan indeks Topix mendaki 0,25 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi bertambah 0,77 persen dan indeks ASX 200 di Australia mendaki 0,82 persen pada perdagangan Kamis pagi di Asia.

Indeks Hong Kong Hang Seng memimpin kenaikan di Asia Pasifik dengan menguat 1,9 persen. Indeks Hang Seng teknologi melonjak 4 persen. Di bursa saham China, indeks Shanghai bertambah 1,29 persen, dan indeks Shenzhen naik 2,11 persen. Demikian mengutip laman CNBC, Kamis (1/12/2022).

Di China, analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin/markit berada di 48,9 pada November yang akan menandai kontraksi bulan ketiga berturut-turut.

Semalam di Amerika Serikat (AS), indeks utama mengakhir perdagangan lebih tinggi. Indeks S&P 500 mencatat penurunan tiga hari berturut-turut dan indeks Dow Jones melonjak 700 poin setelah pernyataan ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell.

Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan direvisi untuk kuartal III 2022 sehingga konfirmasi pertumbuhan 3,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. PDB tersebut lebih tinggi dari 2,9 persen yang terlihat pada kuartal II 2022.

Ekonomi Korea Selatan alami pertumbuhan kuartalan yang melambat 0,3 persen pada kuartal III 2022, dari periode sebelumnya 0,7 persen.

Secara terpisah, Korea Selatan melaporkan defisit perdagangan sebesar USD 7,01 miliar pada November 2022, melebihi harapan sebesar USD 4,42 miliar, menandai bulan ketiga berturut-turut peningkatan defisit perdagangan seiring ekspor yang lesu. Ekspor susut 14 persen lebih rendah dari perkiraan yang susut 11 persen. Sedangkan impor tumbuh 2,7 persen, berdasarkan data awal dari badan Bea Cukai.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS