Pemuda Tewas Tertembak Saat Tawuran di Makassar, Propam Periksa 7 Polisi

Pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap anggota kepolisian, tetapi juga sejumlah warga berada di sekitar lokasi saat peristiwa tersebut.

OlehFauzan
Diterbitkan 28 September 2026, 16:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Selatan terus mendalami kematian Rafli Ramadhani alias Pingky (19) saat bentrok antarkelompok di Kecamatan Tallo, Kota Makassar pada Minggu (27/9/2026). Tujuh polisi diperiksa secara intensif terkait tawuran berujung seorang pemuda tewas.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap anggota kepolisian, tetapi juga sejumlah warga berada di sekitar lokasi saat peristiwa tersebut.

"Anggota yang diperiksa sebanyak tujuh orang. Termasuk kapolsek yang bertugas di wilayah tersebut. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap saksi-saksi dari masyarakat," kata Didik di Mapolda Sulsel, Senin (28/9/2026).

Menurut Didik, proses pendalaman masih berlangsung sehingga jumlah saksi maupun pihak dimintai keterangan masih berpotensi bertambah.

"Proses pemeriksaan masih berjalan. Jadi belum selesai dan masih terus didalami oleh tim," ujar Didik.

Di tengah penyelidikan tersebut, kepolisian juga telah mengantongi hasil autopsi terhadap jenazah Rafli dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga korban. Dari hasil pemeriksaan forensik, ditemukan luka menembus tubuh korban dari bagian kiri belakang hingga ke bagian kanan tubuh.

"Berdasarkan hasil autopsi, korban meninggal akibat luka di bagian tubuh sebelah kiri. Luka tersebut berada di area punggung atau rusuk ketiga sebelah kiri dan menembus hingga ke bagian pundak kanan," ujar Didik.

Kendati begitu, kepolisian belum dapat memastikan jenis proyektil maupun senjata menyebabkan luka tersebut. Kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan balistik dilakukan Laboratorium Forensik.

"Hasil uji balistik nantinya diharapkan dapat mengungkap karakteristik proyektil, termasuk ukuran dalam milimeter dan jenis peluru yang digunakan," kata dia.

Selain mengusut penyebab kematian Rafli, Polda Sulsel juga menangani kasus perusakan dan pembakaran pos mitigasi terjadi dalam rangkaian bentrokan di wilayah Tallo.

Saat ini, kepolisian masih mendata kerugian material serta mengidentifikasi pihak-pihak diduga terlibat perusakan tersebut.

Untuk mencegah bentrokan susulan, Polrestabes Makassar bersama Polda Sulsel meningkatkan pengamanan di sejumlah titik dianggap rawan konflik. Sejumlah polsek di wilayah tersebut juga mendapat tambahan personel.

"Patroli skala besar ditingkatkan. Selain itu fungsi intelijen dan Binmas terus melakukan penggalangan untuk mencegah konflik kembali terjadi dan menjaga situasi keamanan masyarakat tetap kondusif," ujar Didik.

Warga Serang Polisi

Selain itu, ratusan warga menyerang personel kepolisian yang melakukan pengamanan pasca-tawuran antar kelompok di Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (27/9/2026) malam. Aksi tersebut diduga terjadi lantaran warga setempat marah setelah tewasnya Rafli karena luka tembak.

Dari pantauan di lokasi, kericuhan terjadi sekitar pukul 20.30 Wita malam tadi. Saat itu personel Sabhara Polrestabes Makassar tengah melakukan pengamanan di kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi tawuran antarwarga.

Pengamanan itu dilakukan agar bentrokan susulan tak terjadi. Namun situasi kembali memanas ketika ratusan warga melakukan penyerangan menggunakan lemparan batu, anak panah, hingga petasan ke arah petugas.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengatakan kericuhan bermula setelah prosesi pengantaran jenazah korban selesai dilakukan.

"Jadi, yang dari tadi habis ada sebenarnya ada mengantarkan jenazah. Setelah itu, yang mengantarkan ini terus ribut dengan warga," kata Arya di lokasi, Minggu (27/9/2026).

Merespons situasi tersebut, kepolisian langsung melakukan mitigasi dengan menambah jumlah personel di dua wilayah yang bertikai. Polisi juga berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk meredam ketegangan dan mencegah bentrokan meluas.

"Kami melakukan mitigasi dengan menambah personel di kedua wilayah serta berkoordinasi dengan RT, RW, camat, dan lurah untuk mencari akar permasalahan dan meredam situasi," ujar Arya.

Meski demikian, kondisi sempat kembali memanas. Sejumlah warga terus melakukan pelemparan batu, petasan, dan panah busur ke arah aparat yang berjaga di lokasi.

Untuk membubarkan massa, polisi akhirnya menembakkan gas air mata. Langkah tersebut dilakukan setelah upaya pengendalian situasi secara persuasif dinilai tidak lagi efektif.

Arya memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan rumah warga dalam insiden penyerangan terhadap petugas tersebut.

"Untuk saat ini tidak ada korban, alhamdulillah. Tidak ada juga rumah-rumah yang terbakar atau terkena imbas. Memang ada lemparan batu, petasan, serta panah busur, tapi alhamdulillah situasi sekarang sudah bisa dikendalikan," kata Arya.

Menurut Arya, bentrokan susulan itu dipicu isu yang berkembang di tengah masyarakat terkait tawuran yang terjadi sebelumnya. Sebagian warga diduga terprovokasi oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

"Selalu ada isu-isu demikian dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka percaya dengan isu itu, padahal sebenarnya mungkin tidak ada," jelas Arya.

Dalam penanganan kericuhan tersebut, polisi sempat mengamankan tiga anak yang diduga terlibat melakukan pelemparan ke arah petugas. Namun ketiganya kemudian dipulangkan karena tidak ditemukan unsur pidana maupun laporan yang berkaitan dengan tindakan mereka.

"Ada kita amankan yang melakukan pelemparan-pelemparan. Tetapi karena memang tidak ada pidana dan tidak ada laporan, sehingga kami kembalikan ke orang tuanya lagi. Tiga orang anak-anak tadi," kata dia.

Situasi baru berangsur kondusif sekitar pukul 23.30 Wita setelah pasukan gabungan dari Polrestabes Makassar dan Polda Sulsel melakukan pengamanan di lokasi. Hingga Minggu malam, aparat masih disiagakan di kawasan Tallo untuk mengantisipasi bentrokan susulan serta menjaga keamanan warga.

Kronologi Bentrok hingga Rafli Tewas

Sebelumnya, bentrok antarwarga pecah di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Minggu (27/9/2026) dini hari. Dalam insiden tersebut, sebuah sepeda motor dilaporkan terbakar dan seorang pemuda bernama Rafli (19) meninggal dunia setelah mengalami luka tembak.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan peristiwa diketahui setelah personel Polsek Tallo menerima laporan adanya pertikaian antarwarga sekitar pukul 02.50 Wita.

"Peristiwa dini hari tadi dimulai dengan adanya informasi yang diterima Polsek Tallo sekitar pukul 02.50 Wita bahwa terjadi pertikaian antarwarga," kata Didik di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Minggu (27/9/2026).

Menindaklanjuti laporan tersebut, lima personel Polsek Tallo yang dipimpin Ipda Andi Syahrir mendatangi lokasi. Saat tiba di tempat kejadian, petugas mendapat serangan berupa lemparan batu dan panah busur dari massa yang terlibat bentrokan.

"Lima personel Polsek Tallo yang dipimpin Ipda A. Syahrir mendatangi lokasi. Saat tiba di TKP, personel diserang menggunakan batu dan busur," ujarnya.

Dalam situasi tersebut, salah seorang personel melepaskan tembakan peringatan hingga massa membubarkan diri.

"Kemudian dari salah satu personel yang mendatangi TKP memberikan tembakan peringatan. Kemudian massa membubarkan diri," kata Didik.

Sekitar pukul 04.50 Wita, polisi menerima informasi adanya seorang warga yang menjadi korban. Korban diketahui bernama Rafli dan telah dibawa warga ke Rumah Sakit Angkatan Laut.

"Pada pukul 04.50 Wita diperoleh informasi bahwa ada seseorang yang menjadi korban. Diketahui korban atas nama Rafli dan sudah dibawa oleh salah satu warga ke Rumah Sakit Angkatan Laut," ujarnya.

Kapolsek Tallo AKP Aswada bersama anggota kemudian mendatangi rumah sakit dan memindahkan korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk penanganan lebih lanjut.

"Pukul 06.00 Wita korban sudah berada di Biddokkes. Kemudian dilakukan pemeriksaan visum et repertum dan atas persetujuan keluarga dilakukan otopsi," ujar Didik.

Selain menewaskan seorang pemuda, bentrokan yang melibatkan lebih dari 100 orang tersebut juga mengakibatkan sebuah sepeda motor terbakar. Polisi masih menyelidiki rangkaian peristiwa yang terjadi serta menunggu hasil pemeriksaan forensik dan uji balistik terkait kematian korban.