Perjuangan Pemuda Serang, Berhasil Lolos dari Perusahaan Scamming di Kamboja Meski Jalan Kaki 125 Km

Dari Serang, korban dijanjikan pekerjaan di Vietnam. Tapi ternyata dibawa ke Kamboja.

Diterbitkan 02 April 2026, 16:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pemuda asa Kota Serang, Banten, bernama Caderra Pasqy Naiga Prasasty, menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Selama bekerja di luar negeri, dia kerap mendapat siksaan dan baru digaji satu kali sebesar 100 USD. Setelahnya, hari-hari dilalui begitu kelam.

Beruntung, dia masih bisa menyelamatkan diri. Perjuangannya panjang selama kabur dari perusahaan itu berakhir manis. Caderra bisa kembali ke Tanah Air dan berkumpul dengan keluarga tercinta.

Kisah kelam Caderra bermula dari keinginannya membantu perekonomian keluarga dengan menjadi bekerja ke luar negeri. Awalnya dia ditawari bekerja di Vietnam, kemudian mengisi formulir pendaftaran sebagai syarat pekerja. Saat seluruh persiapan telah dianggap matang, dia kemudian diberangkatkan ke Batam oleh sebuah agensi.

Selanjutnya menyebrang ke Malaysia melalui jalur VIP Imigrasi sebelum diterbangkan ke Ho Chi Minh, Vietnam.

Nahas, setibanya di Vietnam, rombongan yang terdiri dari sekitar 25 Warga Negara Indonesia (WNI) itu dinaikkan ke dalam bus selama 18 jam. Hingga akhirnya melintasi perbatasan Kamboja secara diam-diam.

"Pas kita pada bangun tidur udah nyampe di Kamboja. Udah dikurung di perusahaan," ungkap Caderra, Kamis, (02/04/2026).

 

 

Tugas Mencari Target untuk Kejahatan Scamming

Caderra bekerja selama 8 bulan di Kamboja, dia bertugas mencari korban di Singapura, Malaysia hingga Brunei Darussalam. Selama itu, dia hanya menerima satu kali gaji, sebesar 100 dollar.

Bahkan selama di Kamboja, Caderra diperlakukan layaknya barang dagangan. Dia diperjualbelikan ke perusahaan lainnya sebesar 3.500 dollar.

Akhirnya, Caderra melawan. Dia tak sendiri, bersama 22 WNI lainnya memberanikan diri kabur dari perusahaan yang bertugas melakukan penipuan atau scamming itu.

Mereka berjalan sekitar 125 kilometer dari perusahaan yang berlokasi di daerah Prey Veng, untuk sampai ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Phnom Penh.

"Dari perusahaan di Prey Veng itu ke KBRI 125 kilo kita jalan semua, hampir 24 jam jalan, dari malam ketemu malam lagi. Soalnya kalau enggak kabur, kita disetrum lagi," tuturnya.

Kepulangan Dibantu Wali Kota

Singkat cerita, Caderra dan WNI lainnya selamat. Mereka akhirnya bisa dipulangkan ke Tanah Air. Kepulangan Caderra dan WNI lainnya dibantu penuh oleh Wali Kota Serang, Budi Rustandi, mulai pembelian tiket pesawat hingga transportasi untuk sampai ke rumahnya, pada Selasa, 31 Maret 2026.

"Saya tegaskan saya akan basmi oknum-oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa memikirkan masa depan anak cucu kita," ujar Wali Kota Serang, Budi Rustandi, Kamis, (02/04/2026).

Budi mengakui sulitnya mencari kerja di Kota Serang, karena minimnya industri dan lapangan pekerjaan. Karenanya, dia meminta dukungan banyak pihak, agar investasi bisa masuk ke Ibu Kota Banten.

Saat ini, dia akan membangun kawasan industri di Kecamatan Kasemen dan Walantaka, untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dirinya berjanji akan mengutamakan warga lokal agar bisa diterima kerja dan tanpa calo.

Jika terjadi praktek percaloan, warga bisa melapor langsung ke Pemkot Serang atau kepolisian.

"Ini dampak dari pengangguran Kota Serang tinggi. Makanya kenapa saya sibuk mencari investasi agar anak-anak kita bisa bekerja dengan layak dan baik di Kota Serang," jelasnya.

Keluarga juga berterima kasih atas bantuan pemda untuk mengembalikan warganya yang menjadi korban kejahatan di negara lain.

"Alhamdulillahnya atas bantuan Pak wali kota, bantuan Pak wakil wali kota dan semua jajarannya, aku ngucapin banyak terima kasih, sampai anakku juga bisa pulang ke sini," ujar Repeliawati, orangtua korban, ditulis Kamis, (02/04/2026).

Â