Urat Nadi yang Rapuh: Kisah Warga Sukabumi Bergantung pada Jembatan Berbahaya

Di atas aliran Sungai Cimahi, Sukabumi, sebuah jembatan besi sepanjang 30 meter berdiri dalam kondisi memprihatinkan.

Diterbitkan 31 Maret 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di atas aliran Sungai Cimahi, sebuah jembatan besi sepanjang 30 meter berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Bagi warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, jembatan selebar satu meter itu bukan sekadar penghubung, melainkan jalur harian yang harus dilalui, meski penuh risiko.

Jembatan ini menghubungkan Kampung Karang Lodaya Hilir dengan Kampung Kamandoran. Namun, setelah sekitar satu dekade tanpa perbaikan, kondisinya kian rapuh.

Struktur besinya berkarat dan tampak miring di beberapa bagian. Lantai jembatan yang seharusnya kokoh kini hanya menyisakan balok kayu lapuk, dengan lubang-lubang besar yang ditutup bambu seadanya.

Yang paling mengkhawatirkan, tidak ada pagar pengaman yang memadai. Warga yang melintas hanya bisa berpegangan pada besi rendah yang sudah reyot. Saat hujan turun, permukaan bambu menjadi licin, mengubah jembatan itu menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang menapakinya.

Namun bagi warga, pilihan hampir tidak ada. Jembatan tersebut menjadi urat nadi aktivitas, mulai dari bekerja hingga sekolah. Jalur alternatif memang tersedia, tetapi harus memutar sejauh dua kilometer dengan biaya transportasi lebih besar.

Adin (47), warga Kampung Kamandoran, termasuk yang setiap hari bergantung pada jembatan itu. Ia mengaku tak punya pilihan lain meski rasa takut selalu menghantui.

"Takut sih takut, cuma gimana lagi. Ini satu-satunya jalan terdekat. Kalau lewat jalan lain harus memutar sekitar 2 kilometer. Istri saya bahkan sampai tidak berani lewat sini dan lebih pilih pesan ojek online. Tapi kalau saya, ya terpaksa lewat sini terus," ujar Adin saat ditemui, Selasa (31/3/2026).

 

Pelajar Hampir Jatuh

Selain sebagai akses utama warga, jembatan ini juga menjadi jalur penting menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) bagi warga Sekarwangi Karang Tengah, menambah urgensi keberadaannya meski dalam kondisi berbahaya.

Risiko yang lebih besar justru dihadapi anak-anak. Ardian (13), pelajar SMP yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, pernah hampir terjatuh akibat licinnya permukaan jembatan, terutama saat musim hujan.

"Pernah mau jatuh karena licin. Sekarang mendingan karena sudah ada tambahan bambunya, dulu lebih parah. Saya tetap lewat sini karena ongkosnya lebih murah, cuma Rp 2 ribu. Kalau muter lewat jalan atas bisa Rp 4 ribu dan takut kesiangan sekolah kalau naik angkot," ungkap Ardian.

Selama 10 tahun terakhir, petani, pedagang, hingga pelajar terus bergantung pada akses darurat ini. Di tengah kekhawatiran yang terus membayangi, harapan warga tetap sederhana: adanya perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah.

"Semoga cepat diperbaiki sama pemerintah. Di sini kan jalan umum, banyak anak sekolah yang lewat. Kasihan kalau harus muter jauh terus," kata Mitit, pedagang keliling yang juga rutin melewati jembatan rusak itu.