Liputan6.com, Gunungkidul - Kisah Ahmad Tri Efendi, bocah yang merawat ibunya yang lumpuh dan buta, menjadi perhatian warga di Padukuhan Jeruken, Desa Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Kepala Dukuh setempat, Winarsih, mengatakan keluarga tersebut sudah cukup lama tinggal di wilayahnya dengan kondisi ekonomi yang sederhana.
Rumah yang mereka tempati berada di tengah lingkungan permukiman warga. Namun kondisi bangunannya cukup memprihatinkan. Rumah itu berdinding batako yang belum diplester dengan lantai semen sederhana.
Advertisement
Menurut Winarsih, rumah tersebut dibangun oleh ayah Fendi ketika masih bekerja sebagai buruh bangunan.
“Rumah itu dibangun dari hasil kerja ayahnya saat masih menjadi buruh bangunan,” kata Winarsih.
Namun setelah beberapa waktu, kondisi kesehatan ibunya mulai menurun hingga akhirnya mengalami kebutaan dan stroke. Kondisi keluarga semakin berat ketika sang ayah juga mulai mengalami gangguan penglihatan dan tidak lagi bisa bekerja seperti dulu. Sejak saat itu, Fendi yang masih kecil mulai membantu merawat ibunya di rumah.
Winarsih mengatakan, warga sekitar sebenarnya sudah beberapa kali mencoba membujuk Fendi agar kembali ke sekolah. Namun bocah tersebut tetap memilih berada di rumah karena khawatir meninggalkan ibunya sendirian.
“Dia sangat sayang dengan ibunya. Dia takut kalau ibunya tidak ada yang menjaga,” ujar Winarsih.
Meski hidup dalam keterbatasan, Fendi juga berusaha membantu ekonomi keluarga dengan mencari rumput untuk neneknya dengan upah seadanya. Warga sekitar juga sering memberikan bantuan semampunya untuk membantu keluarga tersebut.
Menurut Winarsih, Fendi dikenal sebagai anak yang baik dan rajin membantu orang tuanya. Ia berharap ke depan ada perhatian lebih dari berbagai pihak agar Fendi tetap memiliki kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan.
“Anaknya sebenarnya pintar. Kami berharap dia bisa kembali sekolah dan masa depannya tetap terjaga,” katanya.
Berhenti Sekolah
Fendi, begitu ia biasa dipanggil, bocah kelahiran 2015 itu seharusnya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Namun sejak sekitar empat tahun lalu, ia memutuskan berhenti sekolah demi merawat ibunya, Siaminah (46), yang mengalami kebutaan dan stroke.
Hari-hari Fendi kini dihabiskan di rumah sederhana yang ditempatinya bersama keluarganya. Rumah tersebut berdinding batako yang belum diplester dengan lantai semen sederhana.
Rumah itu dibangun oleh ayahnya, Slamet (54), saat masih bekerja sebagai buruh bangunan. Dari hasil kerja kerasnya sebagai buruh, sebuah rumah sederhana berhasil berdiri untuk keluarganya.
Namun tak lama setelah rumah tersebut selesai diperbaiki, kondisi kesehatan sang ibu mulai menurun.
Awalnya, Siaminah hanya mengalami sakit migrain yang cukup sering. Lambat laun penglihatannya mulai kabur hingga akhirnya tidak dapat melihat sama sekali.
Kondisinya semakin memburuk ketika ia juga mengalami stroke dan kini lebih banyak terbaring di rumah. Sejak saat itulah Fendi mulai membantu ayahnya merawat sang ibu.
Namun cobaan tidak berhenti di situ. Sang ayah yang sebelumnya masih sehat, kini juga mengalami gangguan kesehatan. Penglihatannya mulai kabur hingga harus meraba-raba saat beraktivitas.
Di tengah kondisi tersebut, Fendi akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih berhenti sekolah agar bisa membantu merawat ibunya.
Fendi merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya, Wahyu Adi Saputra (23), kini bekerja setelah lulus dari sekolah menengah pertama dan menjadi tulang punggung keluarga.
Sementara kakak keduanya, Ayu Ambarwati (14), masih bersekolah di tingkat SMP.
Meski masih kecil, Fendi juga berusaha membantu ekonomi keluarga. Ia sesekali bekerja mencari rumput untuk neneknya, Wakinem, dengan upah seadanya.
Uang yang didapatkannya memang tidak seberapa, namun cukup membantu untuk kebutuhan sehari-hari keluarga.
Meski para guru dan warga sekitar sudah beberapa kali membujuknya agar kembali ke sekolah, Fendi tetap memilih tinggal di rumah.
Rasa khawatir meninggalkan ibunya sendirian membuat bocah itu bertahan dengan keputusan tersebut.
Di usia yang masih sangat muda, Fendi menjalani kehidupan yang jauh dari kata ringan. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan tanggung jawab besar, merawat ibunya sambil sesekali membantu pekerjaan kecil untuk keluarga.
Advertisement
Bantuan Sosial
Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani, mengatakan pihaknya telah beberapa kali mengunjungi rumah keluarga tersebut di Desa Girisekar untuk melihat langsung kondisi yang mereka alami.
Menurut Sri Muryani, kondisi kesehatan ibunya, Saiminah, awalnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Ia hanya mengeluhkan sakit migrain yang cukup sering.
Namun seiring waktu, penglihatannya mulai kabur hingga akhirnya mengalami kebutaan dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir.
“Awalnya hanya migrain, kemudian penglihatannya semakin kabur sampai akhirnya tidak bisa melihat sama sekali,” ujar Yani.
Setelah mengalami kebutaan, kondisi kesehatan Saminah kembali menurun karena terserang stroke. Sejak saat itu ia lebih banyak terbaring di rumah dan membutuhkan perawatan dari keluarga.
Keluarga sempat membawa Saminah memeriksakan diri ke dokter. Dari hasil pemeriksaan diketahui kadar leukositnya cukup tinggi.
Namun pengobatan lanjutan tidak berjalan maksimal karena keterbatasan biaya serta tidak adanya anggota keluarga yang dapat mendampingi secara terus-menerus.
Sri Muryani menjelaskan pemerintah kapanewon sebenarnya telah berupaya membantu keluarga tersebut agar Saminah mendapatkan pengobatan yang lebih baik.
“Kami sudah beberapa kali datang ke rumahnya dan mencoba membantu pengobatan. Tapi keluarga menyampaikan selain biaya, juga kesulitan karena tidak ada yang bisa menunggui,” jelasnya.
Selain upaya pengobatan, keluarga ini juga telah menerima berbagai bantuan sosial dari pemerintah.
Bantuan tersebut antara lain BPJS Kesehatan, Program Keluarga Harapan (PKH), serta Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Meski demikian, kondisi ekonomi keluarga masih cukup berat karena hanya satu orang yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga.
Sri Muryani menilai kondisi Fendi juga memerlukan perhatian khusus. Di usia yang masih sangat muda, ia harus memikul tanggung jawab besar untuk membantu merawat ibunya.
Menurutnya, selain bantuan ekonomi, pendampingan psikologis juga penting agar Fendi tetap memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan di masa depan.
“Masa depan anak ini masih panjang. Ia perlu didampingi agar tetap memiliki semangat belajar,” pungkasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530501/original/036936100_1773455030-IBU_FENDI_TERBARING_DI_TEMPAT_TIDUR.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530501/original/036936100_1773455030-IBU_FENDI_TERBARING_DI_TEMPAT_TIDUR.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530730/original/096604800_1773473669-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4401674/original/056918100_1681909694-20230419-Mudik-Jalur-Pantura-Angga-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3946198/original/019246500_1645790475-ilustrasi-polisi_20180719_104759.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530651/original/019682400_1773468139-1001767837.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2154679/original/046645700_1525418239-resfbdhzvcb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530522/original/066333700_1773458533-1001767630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530496/original/048634000_1773453962-IMG_4037.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530472/original/033171700_1773450181-1001082806.jpg)