Longsor Cisarua Diduga karena Lahan Perbukitan jadi Permukiman hingga Hilangnya Tanaman Akar Keras

Mendagri mengatakan saat ini pencarian korban longsor Cisarua akan terus terus dimaksimalkan.

Diterbitkan 25 Januari 2026, 20:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dinilai perlu direhabilitasi. Karakteristik tanah subur yang gembur hingga hilangnya tanaman-tanaman keras penyangga kawasan dinilai menjadi rentetan faktor bencana longsor tersebut.

Hal tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berdasarkan hasil pengamatannya terkait penyebab longsor yang dilakukan pemerintah. Tito diketahui meninjau langsung lokasi bencana, Minggu, 25 Januari 2026.

Ia menyebut, kawasan tersebut tergolong rawan terjadinya pergerakan tanah. Sementara, daya ikat tanah kian melemah sebab kawasan perbukitan semakin dipadati permukiman, bersamaan juga dengan susutnya tanaman pelindung berakar kuat.

“Selain hujan deras, struktur tanah di sini gembur. Subur di satu sisi untuk tanaman, tapi di sisi lain rawan karena tanahnya tidak kokoh,” ujar Tito kepada wartawan di lokasi.

“Banyak permukiman dan tanaman pelindung yang akarnya menancap ke dalam banyak berganti menjadi hortikultura dan sayur-sayuran. Itu membuat sangat rentan kalau terjadi hujan keras,” imbuhnya.

Maksimalkan Pencarian Korban Hilang

Memaksimalkan pencarian korban hilang dianggap langkah jangka pendek yang mesti terus dilakukan. Hal itu, lanjut Tito, mesti diimbangi dengan pendampingan bagi warga terdampak.

"Saya lihat dukungannya banyak sekali, dari gubernur, bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, sampai pemerintah pusat, semuanya bergerak,” ujarnya.

Pemda Didesak Siapkan Lahan Relokasi

Sebelumnya, pemerintah daerah diminta segera menyiapkan relokasi bagi warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hal tersebut disampikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Ribran Rakabuming Raka, Minggu (25/1/2026).

Lahan relokasi, katanya, harus dekat permukiman asal dan diperuntukan bagi warga yang rumahnya hancur akibat longsor.

“Kalau bisa tidak terlalu jauh dari tempat asal, tidak terlalu jauh dari mata pencaharian,” kata Gibran, di Desa Pasirlangu, Cisarua, Minggu (25/1/2025).

Selain itu, pemenuhan layanan kesehatan dan logistik juga dianggap penting bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian saat ini. Pemantauan kesehatan harus dilakukan berkala.

“Saya titip pak yang di ruangan tadi, yang di ruangan ini, mohon, terutama lansia, anak-anak, ibu menyusui, kaum difabel, mohon diberikan atensi khusus, makan tiga kali sehari, kalau sakit segera ditangani,” kata Gibran.