Jembatan Putus, Siswa SD di Sukabumi Berangkat Sekolah Seberangi Sungai Naik Perahu Karet

Akses utama ini lumpuh diterjang luapan sungai pada akhir Desember 2025. Tanpa jembatan sepanjang 40 meter yang kini tinggal kerangka, para pelajar harus berdesakan di atas perahu karet milik BPBD Kabupaten Sukabumi.

Diterbitkan 23 Januari 2026, 13:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jembatan di Kampung Leuwidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah Kabupaten Sukabumi putus. Kondisi ini menghambat aktivitas warga sehari-hari, termasuk bagi pelajar yang pergi ke sekolah.

Akses utama ini lumpuh diterjang luapan sungai pada akhir Desember 2025. Tanpa jembatan sepanjang 40 meter yang kini tinggal kerangka, para pelajar harus berdesakan di atas perahu karet milik BPBD Kabupaten Sukabumi.  

Derasnya arus sungai yang berwarna coklat pekat menjadi tantangan harian yang harus mereka lalui demi bisa duduk di bangku kelas. 

Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah mengungkapkan, jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses tercepat menuju sekolah. 

"Ini akses utama bagi siswa SDN Kadupugur dan SDN Leuwidinding yang mayoritas tinggal di seberang sungai. Kami sangat khawatir dengan keselamatan mereka, terutama saat cuaca buruk. Setiap hari jembatan itu tidak ada, ratusan nyawa pelajar bergantung pada seutas tali perahu di atas derasnya Cimandiri," ujar Dilah, Jumat (23/01/2026).

Kondisi ini sangat berisiko, mengingat debit air sungai bisa meningkat drastis dalam hitungan menit jika hujan deras mengguyur wilayah hulu. Hal ini membuat waktu keberangkatan sekolah menjadi penuh ketidakpastian.

Popi (35), salah satu orang tua siswa, menceritakan betapa mencemaskannya situasi ini. Dia harus memastikan anaknya sampai dan pulang dengan selamat melalui jalur sungai yang berbahaya tersebut.

"Kalau air meluap dan perahu tidak beroperasi, kami harus memutar melalui jalan alternatif yang jaraknya tiga kali lipat lebih jauh. Kasihan anak-anak, mereka sudah kelelahan di jalan bahkan sebelum mulai belajar," ungkap Popi.

Hingga saat ini, para pelajar masih harus menggantungkan keselamatan mereka pada bantuan petugas.  

Warga berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera melakukan langkah cepat untuk membangun kembali jembatan permanen agar pendidikan anak-anak di pelosok Sukabumi tidak terus berada di bawah ancaman maut.Â