Jani Hidup Sendirian di Kebun Sawit Kalimantan

Usia Jani diperkirakan sekitar lima tahun. Pada fase itu, anak orangutan seharusnya masih hidup bersama induk. Ketergantungan masih mutlak. Belajar makan. Belajar memanjat. Belajar membaca bahaya.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 17:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Daun kelapa sawit berdiri kaku. Tanah merah memantulkan panas. Di sela batang tanaman itu, seekor bayi orangutan (Pongo pygmaeus) duduk diam. Mata kecil menatap kosong. Tubuh mungil tak banyak bergerak. Alam seolah lupa memeluknya.

Bayi betina itu diberi nama Jani. Warga desa melihatnya selama beberapa hari. Sosok kecil itu hadir tanpa bayangan induk. Tidak ada pelukan. Tidak ada susu. Tidak ada tuntunan hidup. Sawit bukan rumah. Sawit tidak menyediakan buah hutan. Sawit tidak mengajarkan bertahan. 

Laporan warga mengalir ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi KSDA Wilayah Ketapang. Respon cepat terjadi. Tim gabungan bergerak.

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turut serta. Verifikasi lapangan dilakukan. Fakta pahit terkonfirmasi. Jani benar benar sendiri. 

Di tengah bentang lahan monokultur, bayi itu terlihat kebingungan. Dia menunggu dalam diam. Menanti induk kembali. Hari berlalu. Harapan memudar. Tidak ada tanda makanan alami. Tidak ada suara kanopi. Tidak ada jejak induk. 

Tim memilih berjaga. Bermalam. Menghindari konflik. Menjaga keselamatan satwa. Penyelamatan tidak gegabah. Prosedur diukur. Etika konservasi dijunjung. 

Ketika tim penyelamat tiba, observasi dilakukan seksama. Keputusan diambil. Tanpa sumpit bius. Mengingat usia Jani terlalu muda. Risiko terlalu tinggi. Penanganan manual dipilih. Dokter hewan serta animal keeper berpengalaman turun langsung. 

“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” ujar drh Komara, dokter hewan YIARI, Kamis 22 Januari 2026. 

Penyelamatan berlangsung lancar. Tanpa jerit. Tanpa perlawanan. Jani masuk kandang transport. Perjalanan sunyi menuju Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI dimulai.

Luka Ekologi

Hasil pemeriksaan awal membuka kenyataan getir. Usia Jani diperkirakan sekitar lima tahun. Pada fase itu, anak orangutan seharusnya masih hidup bersama induk. Ketergantungan masih mutlak. Belajar makan. Belajar memanjat. Belajar membaca bahaya. 

“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia enam sampai delapan tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup,” tutur drh Komara.

Terpisah pada usia tersebut bukan sekadar peristiwa. Itu ancaman hidup. Itu luka ekologi. Itu tanda retak relasi manusia dan hutan.

Jani kini berada di ruang karantina. Pemeriksaan lanjutan menanti. Stres harus turun. Kondisi fisiologis harus stabil. Setiap detak jantung diperhatikan. Setiap respon dicatat.

Kasus Jani bukan cerita tunggal. Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, melihat pola berulang. Tekanan habitat terus meningkat. Lanskap terfragmentasi. Koridor satwa menyempit. Ruang hidup terpotong kepentingan. 

“Kasus ini mencerminkan tekanan terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat landskap terfragmentasi,” ujar Silverius Oscar Unggul.

Dia menyampaikan apresiasi kepada warga. Laporan cepat menyelamatkan nyawa. Kolaborasi masyarakat, mitra lapangan, BKSDA, serta YIARI menjadi kunci. 

Langkah berikutnya bersifat preventif. Edukasi publik mutlak. Penyadartahuan harus merata. Sawit dan satwa perlu batas etis. Hutan bukan sekadar aset ekonomi.

“Kami bersama BKSDA Kalimantan Barat akan terus memantau kondisi Jani serta melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan penyebab terpisahnya individu ini dari induknya,” kata Silverius Oscar Unggul.

Tim diterjunkan. Area perkebunan kerap dipantau. Jejak induk dicari. Harapan tetap dijaga.

“Apabila induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke lokasi lebih aman,” ucap Silverius Oscar Unggul.

Namun realitas konservasi sering getir. Jika induk tidak ditemukan, rehabilitasi menjadi jalan panjang. Jani akan belajar ulang. Belajar memanjat. Belajar mengenal buah hutan. Hingga usia cukup, pelepasliaran baru mungkin.

Jani Seharusnya Bersama Induknya

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi. Kerja cepat menyelamatkan harapan. Ia menegaskan usia Jani masih berada dalam fase ketergantungan penuh.

Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih berada di pelukan induk. Fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Setelah beberapa hari pemantauan, individu itu tetap sendirian. Tidak ada perubahan.

Kondisi tersebut mencerminkan tekanan tinggi terhadap habitat orangutan. Fragmentasi hutan membuka konflik laten. Satwa kehilangan ruang aman. Manusia lupa batas.

“Salah satu hal penting harus kita tingkatkan bersama berupa edukasi serta penyadartahuan kepada semua pihak demi menjaga keanekaragaman hayati orangutan serta habitatnya beserta satwa liar lain,” kata Murlan Dameria Pane.

Kisah Jani menjadi cermin. Konservasi bukan slogan. Bukan pula proyek sesaat. Ini soal keberlanjutan hidup. Soal tanggung jawab lintas generasi.

YIARI hadir bukan sekadar penyelamat darurat. Lembaga nirlaba ini bergerak melalui pendekatan holistik. Penyelamatan. Pemulihan. Pelepasliaran. Pemantauan pasca lepas liar. Semua berjalan beriring.

Perlindungan primata tidak berdiri sendiri. Habitat harus aman. Manusia harus sadar. Ekosistem perlu harmoni. Kerja sama multipihak menjadi fondasi.

Di Pulau Kalimantan bagian barat ini, hutan tersisa berbicara lirih. Melalui tubuh kecil Jani, alam menyampaikan pesan. Pembangunan tanpa nurani melahirkan sunyi. Kelapa sawit tanpa koridor melahirkan yatim.

Jani kini selamat. Namun kisah belum usai. Rehabilitasi menanti. Masa depan masih rapuh. Setiap keputusan manusia hari ini menentukan nasib generasi hutan esok hari.

Di balik pagar karantina itu mata Jani masih mencari. Bukan kamera. Bukan manusia. Ia mencari pelukan induk. Pelukan hutan. Pelukan alam Kalimantan.