Liputan6.com, Kutai Timur - Alam terkadang mengirimkan pesan kesedihan dengan cara yang paling menyesakkan. Di tengah kepungan alat berat tambang batu bara dan hamparan lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, sebuah keajaiban lahir.
Di bentang alam yang tak lagi ramah, lahir sepasang bayi kembar orangutan. Namun, keajaiban ini datang bersama sebuah tragedi sunyi. Mereka lahir di rumah yang sudah hancur.
Ini makin membuktikan, alam Kalimantan Timur, rumah alami orangutan morio baru saja menyuguhkan sebuah anomali yang menggetarkan hati. Di satu sisi, ada binar harapan, bahkan seharusnya menjadi perayaan kemenangan populasi, dari lahirnya sepasang bayi kembar orangutan.
Advertisement
Sebuah fenomena yang sangat langka di dunia konservasi. Namun di sisi lain, kenyataan pahit menampar. Mereka lahir dan dipaksa bertahan hidup di sisa-sisa hutan yang telah hancur dan terfragmentasi.
Kisah ini bermula pada pertengahan Februari 2026, ketika sebuah video singkat mendadak viral. Rekaman itu memperlihatkan sosok induk orangutan yang berjalan gontai di atas tanah terbuka, menjauhi tajuk pohon yang seharusnya menjadi pelindung utamanya.
Direktur sekaligus Founder Conservation Action Network (CAN) Paulinus Kristanto menceritakan, bagaimana awal mula timnya terjun ke lapangan setelah menerima laporan masyarakat. Berdasarkan laporan masyakarat, mereka berangkat memantau untuk memastikan laporan itu.
"Kita dapat laporan ada video viral ibu dan bayi orang utan di lokasi terbuka, semacam areal konsesi begitu. Kami kirim tim monitoring untuk cek. Jujur saja, biasanya banyak laporan masuk tapi pas dicek orang utannya sudah hilang. Tapi kali ini beda," kata Paulinus kepada Liputan6.com, Rabu (4/3/2026).
Pencarian tidak langsung membuahkan hasil. Baru pada hari kedua, tim menemukan sosok induk tersebut. Namun, ada yang ganjil saat tim mengamati melalui lensa kamera.
"Pas dicek, ternyata bayinya ada dua. Kita sempat bingung, ini bayi orangutan lain atau memang kembar? Setelah dilihat ukuran tubuhnya sama, akhirnya kami ambil kesimpulan ini kembar. Sangat jarang ada orangutan lahir kembar, mungkin satu dari sekian ratus ribu kasus," tuturnya dengan nada takjub.
Habitat yang Rusak
Namun, kegembiraan Paulinus segera berganti kecemasan saat ia menerbangkan drone dan menganalisis citra satelit di lokasi penemuan. Hutannya tidak lagi mendukung.
"Apalagi kondisinya ibu dengan bayi kembar, artinya si induk harus kerja ekstra. Istilahnya kalau biasanya dia makan satu kilo sehari, sekarang harus dua kilo, dobel, untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya. Tapi kondisi habitat tidak memungkinkan. Akhirnya kami putuskan mereka harus diselamatkan, harus ditranslokasi," tegasnya.
Yang paling menyentuh hati Paulinus adalah momen saat evakuasi berlangsung. Biasanya, orang utan liar akan bertahan di pucuk pohon tertinggi saat merasa terancam. Namun keluarga kecil ini justru menunjukkan perilaku yang tak lazim.
"Ada keajaiban," cerita Paulinus penuh semangat mulai merekonstruksi cerita upaya penyelamatan itu.
Biasanya, dalam perencanaan penyelamatan orang utan, gambaran rumitnya upaya penyelamatan pasti menghantui tim evakuasi. Sebab, membius orang utan di pohon tinggi adalah perkara rumit yang berisiko fatal bagi bayi yang digendongnya.
Di sinilah keajaiban itu tiba menghapus kekhawatiran seluruh anggota tim. Bahkan ini bisa jadi peristiwa pertama paling menyentuh yang pernah tim penyelamatan orang utan lakukan.
"Mungkin orangutan ini memang pengen banget diselamatkan. Biasanya mereka jarang mau turun dari pohon tinggi, tapi ibu dan anak ini seperti menyerahkan diri. Turun ke tempat rendah, bahkan sampai ke tanah. Pasrah," kata Paulinus.
Paulinus dan tim penyelamatan yang terdiri dari BKSDA Kaltim, CAN, dan pihak perusahaan seperti melihat gambaran perasaan keluarga kecil ini. Induk orang utan seperti merasa ini adalah jalan keluar terbaik agar bisa hidup layak.
"Bayangkan, ibu-ibu punya anak kembar, tapi tempat cari makan tidak ada. Istilahnya sudah jadi gelandangan. Makanya evakuasinya cepat sekali, si bayi tidak rewel dan terus menempel di dekapan ibunya meski sang induk sudah dibius. Ini benar-benar keajaiban," kata Paulinus.
Paulinus juga menyoroti lokasi penemuan yang berada di perbatasan perkebunan sawit dan pertambangan batu bara."Hutannya terfragmentasi sekali,” sebutnya.
Saat video itu viral, Paulinus menyebut orang utan turun ke tanah itu merupakan pertanda ada yang tidak baik-baik saja. Sesuatu yang janggal bagi satwa arboreal (penghuni pohon) sampai harus berjalan jauh di tanah.
"Mereka turun ke tanah itu indikator kuat bahwa mereka berusaha menyeberang ke hutan lain demi cari makan. Mungkin saja bisa bertahan di hutan yang ada, tapi sampai kapan? Itu yang menyentuh banget. Coba bayangkan kalau itu terjadi pada kita, punya anak kembar tapi tidak punya rumah dan makanan," pungkasnya.
Advertisement
Ancaman di Balik Sekat Habitat
Setelah tim CAN memastikan kondisi lapangan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur segera mengambil komando untuk tindakan penyelamatan terukur. M Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim, memberikan pandangan teknis mengenai urgensi penyelamatan ini.
"Kami mendapatkan informasi terkait adanya induk orang utan bersama dua anaknya di lokasi yang terfragmentasi. Itu sangat riskan sekali. Satu betina dengan dua anak pada lokasi seperti itu bisa berakibat fatal, karena itu kami memutuskan melakukan rescue bersama mitra," jelas Ari.
Ari memaparkan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan sangat ketat karena memprioritaskan keselamatan fisik satwa. Tim bahkan harus menginap untuk memastikan posisi pohon sarang mereka.
"Pagi hari kami sudah pastikan pohon sarangnya, lalu mengikuti gerakannya. Begitu mereka turun, kami langsung lakukan aksi. Setelah dicek, kesehatannya masih baik, meski mereka tampak sangat lelah," tambahnya.
Menanggapi istilah "fragmentasi" yang menjadi penyebab utama penderitaan keluarga orang utan ini, Ari memberikan penjelasan yang lugas.
"Terfragmentasi artinya habitat yang masih layak itu sudah sangat sempit atau kecil. Kiri-kanannya sudah ada kegiatan pembangunan ekonomi dan aktivitas manusia lainnya. Jadi hutan itu tidak lagi tersambung dengan hutan yang lain. Kemungkinan mereka untuk bertahan hidup secara layak itu sangat diragukan karena ruang geraknya terputus," urai Ari.
Keputusan BKSDA untuk melakukan translokasi ke area High Conservation Value (HCV) di Kecamatan Bengalon juga didasari pertimbangan medis. Sebuah kawasan berhutan yang masuk dalam konsesi sebuah perusahaan perkebunan menjadi pilihan paling masuk akal saat itu.
"Kami tidak bisa melakukan pemeriksaan terlalu detil karena menyangkut keselamatan bayi-bayinya yang masih sangat kecil. Kami juga tidak bisa melepasliarkan mereka ke lokasi yang jauh karena kondisi mereka sudah cukup lelah akibat keterbatasan pakan dan air di habitat yang rusak itu. Keselamatan adalah prioritas, maka lokasi terdekat yang masih layak secara fisik dan biologi adalah pilihan terbaik," papar Ari.
Ibu dan bayi kembar orang utan itu telah berada di "rumah baru" yang lebih aman. Namun, kisah mereka tetap menjadi pengingat bagi manusia, bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi, ada nyawa-nyawa langka yang sedang berjuang di sisa-sisa hutan yang kian terhimpit.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521832/original/070297800_1772701187-Orang_Utan_Kembar__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8899597/original/014754500_1782943656-Belgian_players_celebrate_youre_tieleman_s_goal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263358/original/034169000_1781903942-063_2282397014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8860259/original/052842500_1782927734-063_2284210517.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8566533/original/022742400_1782517134-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8857137/original/028052200_1782926603-000_B8XV4GC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8853200/original/078672700_1782925162-063_2284202015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521767/original/092060400_1772699758-Foto_dan_nama_Kajati_NTT_dipakai_untuk_modus_penipuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521750/original/030483000_1772699116-1001724343.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521737/original/084101000_1772698700-kecelakaan_pejabat_sultra.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521532/original/093826500_1772692334-1001726015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5400328/original/025896800_1762084153-WhatsApp_Image_2025-11-02_at_18.46.56.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521573/original/082556800_1772693707-1002468196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3214280/original/070000600_1597909186-IMG_20200820_143042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458366/original/038352700_1767077924-IMG_20251230_123004_818.jpg)