Akses Jalan Mulai Terbuka, Ada Secercah Harapan dari Aceh Tamiang

Usai terisolasi berhari-hari, akses jalan ke Aceh Tamiang sudah mulai terbuka, bantuan pun mulai berdatangan menjangkau daerah terdampak.

Diterbitkan 26 Desember 2025, 21:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Aceh - Sempat terisolasi berhari-hari akibat banjir dan longsor, wilayah Aceh Tamiang, sebagai salah satu daerah paling terdampak banjir Sumatera, kini jalannya sudah bisa diakses. Berbagai bantuan kemanusiaan pun mulai berdatangan menjangkau wilayah-wilayah terdampak.  

Dari cerita para penyintas bencana, selama masa terputusnya akses, warga bertahan dalam keterbatasan. Makanan, pakaian, dan perlengkapan seadanya menjadi tumpuan hidup sehari-hari. Seiring mulai berdatangannya bantuan pangan pokok dan obat-obatan, masyarakat berangsur kembali untuk membersihkan rumah serta lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya pemulihan. Mereka membuktikan sendiri bahwa harapan itu masih ada.

Apalagi di tengah kondisi sulit tersebut, anak-anak Aceh Tamiang saja masih semangat dan mencerminkan ketangguhan masyarakat. Mereka menyambut para relawan dengan senyum dan pesan penuh harapan, seakan menegaskan bahwa mereka sanggup melewati cobaan ini bersama.

"Untuk teman-teman Aceh yang juga terkena bencana, tetap semangat ya," ujar anak-anak saat direkam relawan. 

Salah satu bantuan yang hadir datang dari Holding Industri Pertambangan MIND ID, yang menyalurkan tiga truk bantuan berisi sekitar 100.000 item kebutuhan, meliputi vitamin, obat-obatan, serta perlengkapan dasar masyarakat.

Bantuan tersebut mencakup multivitamin anak dan dewasa, susu, madu, obat batuk, demam, maag, alergi, flu, diare, obat topikal, serta kebutuhan kebersihan seperti popok bayi dan dewasa, tisu basah, dan tisu kering. Distribusi bantuan difokuskan ke Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang.

Selain bantuan logistik, MIND ID bersama seluruh Anggota Grup juga menjalankan program Employee Volunteering. Program ini memaksa para karyawan untuk terlibat langsung sejak proses evakuasi, penyaluran bantuan, hingga pendampingan pemulihan masyarakat di berbagai wilayah terdampak bencana di Sumatera.

Koordinator Posko Paya Awe, Akhiruddin, bercerita bahwa desanya sempat terendam banjir hingga setinggi dua meter.

"Kami hanya bisa mengungsi di balai pengajian. Tidak ada makanan sama sekali, bahkan untuk anak-anak. Dampaknya bagi kami seperti tsunami kedua," ujarnya.

Akhiruddin mengatalan, bantuan relawan dari MIND ID sangat menolong masyarakat yang mencoba bangkit kembali usai bencana.

"Sekitar 80 persen masyarakat sudah kembali ke rumah, tetapi kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, kelambu, dan perlengkapan lainnya masih banyak yang kurang," tambahnya.

 

Respons Pemkab

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, memastikan bahwa akses transportasi antarwilayah kini telah kembali terhubung, meski beberapa daerah terpencil masih hanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua.

"Alhamdulillah, seluruh warga Tamiang sudah bisa kita antar bantuan makanan. Tidak ada yang terisolir, walaupun belum sempurna. Kami terus berupaya agar rakyat tidak lapar," katanya.

Ia menegaskan bahwa prioritas pemerintah daerah saat ini adalah memastikan ketahanan pangan serta menjaga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

"Ada pengungsi yang mengalami batuk dan gatal, namun sudah tertangani berkat relawan dan tim medis. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu," tuturnya.

Corporate Secretary MIND ID Pria Utama menyampaikan bahwa masyarakat kini mulai menemukan asa untuk kembali bangkit dari bencana.

Menurutnya, hal ini merupakan perkembangan yang baik, karena semangat dari masyarakat Adalah modal utama yang perlu dijaga untuk dapat melanjutkan proses pemulihan dan bahkan bangkit dari bencana.

"Kami bersama seluruh anggota akan berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan yang dibutuhkan, bukan hanya untuk evakuasi, tetapi juga bantuan yang mendukung Kesehatan masyarakat agar terus bertahan di masa sulit ini," sebutnya.

Asa masyarakat Aceh dan Sumatra perlahan menyala kembali. Kini saatnya kita bergandengan tangan, memastikan setiap bantuan menjadi harapan nyata agar mereka dapat membangun kembali rumah, kehidupan, dan masa depan yang lebih baik.

Polda NTB Kirim 100 Personel ke Aceh Tamiang

Sementara itu, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat mengirim satu satuan setingkat kompi atau setara 100 personel Brimob untuk membantu pemulihan pascabencana banjir bandang di Aceh Tamiang.

Kepala Polda NTB Irjen Pol. Hadi Gunawan usai melepas tugas satu SSK personel Brimob melalui upacara pemberangkatan di Mako Satbrimobda NTB, Mataram, Jumat sore, mengatakan giat ini merupakan tindak lanjut perintah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk melaksanakan kegiatan Operasi Aman Nusa Bencana Alam yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatra Utara.

"Tujuan 100 orang ini di Aceh Tamiang," katanya.

Menurut dia, Kapolri mengeluarkan perintah tugas kemanusiaan ini kepada Polda NTB karena melihat pengalaman personel Satbrimobda NTB.

"Jadi, mereka diperintahkan karena Kapolri sudah mengetahui kegiatan Satbrimobda NTB untuk membatu masyarakat, baik dalam bencana maupun tidak," ucapnya.

Hadi Gunawan berharap kepercayaan yang telah diberikan kepada Polda NTB dalam mengerahkan personel Brimob ini dapat mempercepat proses pemulihan di Aceh Tamiang yang menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang.

"Mudahan-mudahan ini berjalan dengan baik sehingga mereka (personel Brimob) dapat menyatu dengan masyarakat di sana," ujarnya.

Â