Buntut 695 Siswa Keracunan di Gunungkidul, BGN Akui Lengah dan Janji Evaluasi Total

BGN menyampaikan permintaan maaf atas insiden keracunan massal yang menimpa 695 siswa di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul.

Diterbitkan 01 November 2025, 18:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kepala Kantor Pelaksana Program Gizi (KPPG) Wilayah Jawa Tengah–DIY, Harsono Budi Waluyo, menyampaikan permintaan maaf atas insiden keracunan massal yang menimpa 695 siswa di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, beberapa waktu lalu.

Harsono menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi pukulan berat bagi seluruh jajaran pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan memastikan agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Tidak ada satu pun dari kami yang menginginkan hal seperti ini terjadi, apalagi menimpa anak-anak kita,” ujar Harsono.

Menurutnya, BGN saat ini tengah melakukan penguatan di berbagai aspek pelaksanaan program MBG. Langkah-langkah tersebut meliputi pemilihan bahan baku yang lebih ketat, peningkatan pengawasan proses pengolahan makanan, serta pelatihan bagi para penjamah makanan agar memahami standar kebersihan dan sanitasi.

Selain itu, Harsono juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan uji laboratorium terhadap sumber air, serta mendorong seluruh dapur sehat untuk memperoleh sertifikasi laik higiene sanitasi (SLHS). Tujuannya adalah agar seluruh dapur program MBG memiliki standar keamanan pangan yang seragam dan terukur.

“Kami menargetkan pada November nanti seluruh dapur sehat di wilayah utama Kabupaten Gunungkidul sudah mengantongi sertifikat SLHS. Saat ini dari 27 dapur yang beroperasi, semuanya telah melalui proses pengujian air dan pengolahan limbah (IPAL), tinggal menunggu proses sertifikasi,” jelasnya.

Dapur SPPG Pemicu Keracunan Disetop

Sebagai langkah konkret, BGN juga menonaktifkan sementara dapur SPPG Planjan, lokasi yang terkait dengan kasus keracunan di Saptosari. Selama masa penghentian operasi, dapur tersebut akan menjalani evaluasi mendalam untuk memastikan seluruh prosedur keamanan pangan berjalan sebagaimana mestinya.

“Kami tidak ingin ada satu pun siswa yang kembali menjadi korban. Presiden menekankan bahwa keselamatan anak-anak penerima manfaat adalah prioritas utama. Kami berkomitmen memperbaiki segala kekurangan yang ada,” tegas Harsono.

Ia juga mengakui bahwa keberhasilan program MBG tidak bisa hanya bergantung pada BGN semata. Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, hingga masyarakat luas agar program ini dapat berjalan dengan aman dan berkelanjutan.

Kasus keracunan di Saptosari menjadi catatan penting bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Gunungkidul. Ke depan, BGN berjanji memperketat pengawasan di seluruh dapur sehat agar setiap hidangan yang sampai di meja makan siswa benar-benar aman, bergizi, dan layak konsumsi.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat dan orang tua siswa, sangat kami harapkan. Kami berkomitmen menjadikan program ini benar-benar memberi manfaat terbaik bagi anak-anak Indonesia,” tutup Harsono.