Keluarga Ungkap Keinginan Siswi Berprestasi di Sukabumi Sebelum Meninggal

Korban berulang kali mengungkapkan suatu keinginan kepada keluarga. Namun keinginan itu belum terwujud sampai korban meninggal.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 21:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisial AK (14) yang dikenal berprestasi di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, ditemukan meninggal dunia dengan posisi tergantung di rumahnya, Selasa (28/10/2025). Sebelum kejadian tragis itu, korban diketahui sempat berulang kali meminta untuk pindah sekolah.

Pihak keluarga menduga kematian AK disebabkan oleh tindakan perundungan (bullying). Dugaan ini dikuatkan dengan surat wasiat yang ditulis korban.

Salah satu keluarga korban, Topick Walhidayat (35) menjelaskan, meskipun korban tidak pernah mengeluhkan adanya bullying secara spesifik kepada keluarga, mereka meyakini hal tersebut setelah ditemukan sepucuk surat wasiat yang mengarah pada isu perundungan.

"Kalau untuk kronologis memang korban tidak ada keluhan ke keluarga. Apakah ada bullying dan sebagainya itu tidak ada. Cuma pihak keluarga meyakini karena di situ ada surat wasiat mengarah ke bullying," kata Topick Walhidayat, Kamis (30/10/2025).

Topick mengungkapkan bahwa AK sering meminta pindah sekolah kepada orang tua. Meskipun tidak menceritakan alasan bullying secara langsung, keluhan itu mengindikasikan rasa tidak nyamannya berada di lingkungan sekolah.

"Yang dikeluhkan sama beliau itu inginnya pindah sekolah. Kalau dia mengeluh kepada saya (adanya bully), saya mungkin sudah menanganinya," ungkapnya.

Keluhan ketidaknyamanan tersebut sempat disampaikan korban kepada ibunya. Sang ibu kemudian menyampaikan hal ini kepada wali kelas.

Namun, wali kelas meminta korban langsung yang berbicara. Ironisnya, saat wali kelas menyampaikan keluhan adanya ketidaknyamanan kepada terduga pelaku perundungan, terduga pelaku justru membalas dengan amarah.

Seraya mengeluarkan kata-kata yang dinilai keluarga sebagai perundungan psikis (verbal), salah satunya dengan melontarkan bahasa "anak mama". Kejadian ini terjadi sekitar dua minggu sebelum insiden meninggalnya AK.

"Dan wali kelasnya pun menyampaikan kepada orang yang diduga perundung, dan orang itu terduga pelaku itu jadi balik marah sampai mengeluarkan bahasa anak mama gitu. Itupun sudah salah satu perundungan yang masuk ke psikis, makanya korban itu sudah merasa eggak nyaman," tambah dia.

Keluarga Tolak Damai

Pihak keluarga telah membuat laporan polisi (LP) di Polres Sukabumi, Rabu (29/10/2025). Kasus ini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sukabumi mengingat korban adalah anak di bawah umur.

Keluarga juga menyerahkan ponsel korban sebagai barang bukti untuk pengembangan kasus.

Keluarga korban berharap penuh agar kasus dugaan bullying ini dapat diselesaikan secepatnya, dan keadilan dapat ditegakkan. Pihak keluarga juga dengan tegas menolak adanya mediasi damai.

"Kalau mau damai ini kasus menyangkut nyawa manusia. Jadi jangan sampai sekarang damai, kita enggak tahu hari esok yang akan datang ada pembulian lagi. Mohon maaf saya tidak bisa, ini harus diproses hukum karena minta keadilan dan minta jangan sampai ada korban berikutnya," tegasnya.

Mengingat temuan dugaan bullying sebagai latar belakang, keluarga meminta agar pihak sekolah bersikap kooperatif dengan kepolisian dalam proses penyelidikan.

"Saya minta kepada pihak sekolah jangan sampai mempersulit untuk menyelesaikan masalah ini. Tolong kooperatif sama pihak Kepolisian karena ini harus ditegakkan keadilan jadi jangan sampai anak kalian yang menjadi korban berikutnya," tutupnya.

AK merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Semasa hidup, ia dikenal aktif dan berprestasi sebagai siswi peringkat pertama dan kedua dalam nilai akademis sebagai siswa kelas VIII.