Peternak di Sukabumi Mengeluh, Ikan Nila Sulit Dilirik Jadi Menu MBG

Peternak ikan nila di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengeluhkan sulitnya menyalurkan hasil panen ke program MBG, yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 19:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Peternak ikan nila di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengeluhkan sulitnya menyalurkan hasil panen ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Keluhan ini muncul meskipun produksi ikan mereka melonjak drastis berkat bantuan teknologi digital, saat saat Panen Raya Tech-Enabled Fisheries di Kampung Cipancur, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Rabu (15/10/2025).

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Telaga Ikan Abdul Agus Salim menyatakan, bantuan teknologi Mikrobubble Aerator dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah meningkatkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen atau DO) kolam hingga 3 ppm dalam waktu semalam.

"Kalau tanpa teknologi, DO kolam sangat kecil, sampai nol koma. Dengan bantuan Mikrobubble Aerator, produksi nila terus meningkat. Dalam satu siklus (3 bulan) di kelompok saya saja, kami bisa panen 40 ton per hektare," ujar Abdul Agus Salim.

Meskipun hasil panen melimpah, Pokdakan Telaga Ikan menghadapi tantangan besar dalam pemasaran.

Mereka telah mencoba menyuplai hasil panen ke program MBG di Kabupaten Sukabumi dengan mem-fillet ikan nila berukuran 300-500 gram.

"Kami baru menyuplai satu dapur MBG. Dalam satu minggu, dapur itu hanya mampu menyerap 400 kilogram ikan nila hidup. Ketika sudah di-fillet, ini hanya 3 persen dari total produksi kami yang bisa diserap oleh dapur tersebut," keluhnya.

Di Kabupaten Sukabumi terdapat lebih dari 250 dapur yang melayani program MBG. Abdul Agus Salim berharap ikan nila dapat menjadi menu wajib dalam program tersebut.

"Kami sudah mencoba negosiasi ke dapur-dapur lain, tetapi masih terkendala persetujuan,” ungkapnya.

Menurutnya, jika satu dapur dapat menyerap 400 kilogram, maka 100 dapur akan membutuhkan 40 ton.

“Ini adalah angka yang luar biasa, sehingga hasil kami bisa diserap oleh dapur MBG di daerah kami sendiri," tambah dia.

Pihaknya optimistis ketika budidaya terus dikembangkan dan hasilnya melimpah, pasarnya pun ada.

“Kami ingin dari pemerintah ada dorongan agar ikan nila menjadi menu wajib, walau hanya sebulan sekali," ungkapnya.

Respons KKP dan Komdigi

Menanggapi keluhan ini, Direktur Ikan Air Tawar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Gemi Triastutik, membenarkan bahwa sebagian hasil budidaya ikan akan diserap oleh MBG sebagai sumber protein.

"Kami juga dari KKP menargetkan 80 ton per hektare. Kami hari ini sudah sampai 40 ton per hektare," kata Gemi.

Ia menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan fillet dapur MBG, peternak harus menaikkan ukuran ikan menjadi 800 gram ke atas.

"Dengan ukuran yang lebih besar ini, kami pun akan mencapai target 80 ton per hari ketika ukurannya sudah 1 kg per ekor," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid menyatakan, bantuan teknologi ini adalah bentuk pemanfaatan digitalisasi paling tepat.

Meutya menjelaskan, program ini adalah bentuk pemanfaatan digitalisasi yang paling tepat karena digunakan langsung untuk bisnis di lapangan oleh pembudidaya ikan nila.

“Kami ingin memastikan digitalisasi di Tanah Air turun sampai ke tingkat pengguna langsung, jangan hanya di perkotaan, tetapi masuk ke desa-desa yang menjadi fokus sektor ketahanan pangan Presiden," jelas Meutya.

Mikrobubble Aerator diberikan kepada 60 pembudidaya di 8 desa dan 4 kecamatan. Bantuan ini juga disertai pelatihan untuk mendukung kapasitas pembudidaya ikan.

Yakni meliputi kemampuan untuk dalam membaca data, memonitor oksigen air dan suhu, yang diharapkan dapat menghemat listrik hingga 40 persen dan menekan angka kegagalan panen hingga 60 persen.