Liputan6.com, Jakarta Jepara sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah, tidak hanya dikenal melalui keindahan ukiran kayu yang telah mendunia. Namun Bumi Kartini ini juga memiliki kerajinan lokal khas, yakni tenun troso.
Kerajinan kain ikat ini termasuk wastra tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Troso Kecamatan Pecangaan Jepara.
Kini secara perlahan, kerajinan tenun ikat dari sebuah desa di pelosok Jepara ini dikenal luas di Indonesia. Bahkan, ada sebagian kain tenun yang sudah di ekspor ke luar negeri, meski masih dalam jumlah yang terbatas.
Advertisement
Tak heran jika banyak artis, desainer, pejabat dan tokoh nasional penasaran terkait keunikan kain Troso khas Jepara. Rasa kekaguman itu salah satunya diungkapkan oleh publik figur dunia hiburan tanah air, Alya Rohali.
“Senang sekali bisa berkesempatan melihat langsung kerajinan dari Kabupaten Jepara. Ternyata, selain ukiran kayu, ada tenun Troso yang luar biasa indah, saya juga baru tahu kalau itu berasal dari Jepara. Produknya beragam dan kualitasnya sangat baik,” kata Alya di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jepara, Senin (22/09/2025).
Potensi produk kain ikat Troso juga memantik harapan besar Ditjen Asia Pasifik dan Afrika di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, agar produk kain tenun ikat itu berpeluang menembus pasar Asia Pasifik serta wilayah strategis lainnya. Karena itu, peluang tersebut harus bisa dimanfaatkan.
Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI, Trisari Dyah Paramita, mengaku mendukung peningkatan ekspor kain Tenun Troso.
"Ini salah satu komoditas unggulan. Kalau ekspor naik, akan berdampak pada ekspor daerah secara keseluruhan,” ujar Trisari saat berkunjung ke Pendapa RA Kartini Jepara beberapa waktu lalu.
Trisari menyebut bahwa upaya awal penjajakan ekspor dilakukan dengan Filipina, disusul Korea, Malaysia, Uni Emirat Arab, India, dan Afrika Selatan.
"Kain (Tenun Troso) ini sudah banyak digunakan desainer ternama. Sesuai arahan Pak Bupati, kita akan perkuat lagi eksistensi Jepara di pasar internasional,” tukasnya.
Asal Usul Kain Tenun Troso
Kerajinan tenun ikat dari sebuah desa di Jepara ini dikenal luas di Indonesia. Perkembangan kain Tenun Troso di Jepara cukup baik. Kain tenun Troso berasal dari nama desa yang sama di Jepara.
Kain tenun ikat di daerah ini tentunya tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Ada nilai sejarah dan asal usul di balik perkembangan tenun Troso di Jepara.
Kain Troso dibuat secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Kain ini ditenun oleh para pengrajin yang berasal dari Desa Troso. Kehadiran kain Tenun Troso dimulai pada saat masuknya agama Islam ke daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, tepatnya pada saat berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Konon, sejarah tenun Troso dimulai saat pertama kali dipakai oleh Mbah Senu dan Nyi Senu dalam pertemuan dengan ulama besar, yaitu Mbah Datuk Guanardi Singorejo saat berdakwah di Desa Troso.
Kala itu, kain tenun ikat ini dibuat khusus sebagai pelengkap pakaian tokoh terkenal dan terpandang di masyarakat. Pun dari penuturan masyarakat Desa Troso, mereka mengenal kain tenun ikat ini sejak zaman kolonial Belanda.
Pada tahun 1935, masyarakat Desa Troso masih menggunakan teknik sederhana saat membuat kain tenun, teknik tersebut dinamakan teknik tenun gedhong.
Selanjutnya di kala keahlian mereka mulai berkembang yakni sekitar tahun 1943, warga Desa Troso mulai membuat kerajinan tenun dengan teknik pancal yang kemudian dinamakan tenun Pancal.
Kemudian seiring berjalannya waktu, warga Desa Troso beralih menggunakan alat yang lebih mudah dan efisien.
Sejarah kain tenun Troso dan perkembangan hingga kondisi terkini, dapat dibagi dalam beberapa fase. Rentang tahun 1935, masyarakat Desa Troso sudah mengenal kain tenun yang dibuat adalah kain tenun Gedhong.
Dalam masa itu, kain tenun hasil tenunan pengrajin lokal hanya dipakai untuk menemui ulama-ulama besar yang berada di Desa Troso. Kemudian setelah tahun 1935, kain tenun mulai dijual secara masaal dan penggunaannya pun semakin beragam.
Menginjak akhir tahun 1970-an, kondisi keberadaan Kain Tenun Troso mengalami kelesuan. Sekitar tahun 1980-an, warga Desa Troso berhasil bangkit kembali, namun ternyata kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Tahun 1985 hingga 1998, kondisi keberadaan Kain Tenun Troso mengalami kelesuan kembali. Kelesuan tersebut karena Indonesia saat itu mengalami inflasi atau naiknya nilai mata uang terhadap dolar.
Inflasi tersebut tentu berdampak pada produksi kain tenun Troso. Harga bahan baku semakin naik, pemasaran kain tenun pun semakin sulit. Tentu dampak harga jualnya tentu turut mengalami kenaikan.
Praktis saat itu, konsumen yang membeli kain tenun Troso jumlahnya menurun. Kelesuan tersebut diperlihatkan juga dari beberapa pengusaha kerajinan tenun yang mulai gulung tikar.
Pada tahun 1998 hingga 2020, sejumlah peristiwa nasional turut mempengaruhi kondisi keberadaan industri Kain Tenun Troso.
Mulai dari peristiwa krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997, peristiwa bom Bali I dan II yang terjadi pada tahun 2001 dan 2002, pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Indonesia pada tahun 2006, serta pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya dunia.
Semua peristiwa tersebut memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan industri Kain Tenun Troso, baik itu berpengaruh secara positif maupun negatif.
Selanjutnya dalam rentang tahun tahun tersebut, jumlah industri Kain Tenun Troso terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 ada sekitar 238 unit usaha Kain Tenun Troso.
Memasuki tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 241 unit usaha, tahun 2008 meningkat menjadi 250 unit usaha, dan tahun 2009 meningkat menjadi sejumlah 257 unit usaha.
Iklim pertumbuhan usaha kain tenun Troso pun menunjukkan grafik menggembirakan di era tahun 2010 hingga 2014. Saat itu performa industri Kain Tenun Troso makin berkembang, salah satunya dari segi kreativitas.
Kondisi tersebut dapat dilihat dari semakin beragamnya variasi motif dan warna kain yang dibuat. Peningkatan kreativitas dan kemampuan dalam membuat inovasi inilah yang membuat kain tenun daerah ini mampu bertahan dan tidak hilang ditelan zaman.
Ciri khas visual tenun Troso ada pada motif kainnya. Beragam motif yang muncul pada Kain Troso mayoritas adalah motif geometris, motif non geometris (flora, fauna dan makhluk hidup), dan kontemporer termasuk motif abstrak.
Salah satu motif asli yang kemudian dijadikan identitast Tenun Troso adalah motif Nagasari. Nama Nagasari diambil dari nama makam sesepuh Desa Troso yaitu Nyi Senu dan Ki Senu.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5357832/original/029328900_1758547838-IMG-20250920-WA0210.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884477/original/ACg8ocJREsAsdQaP_nhdAJL-16rqd-zqi89ZLO-R1BdRN3rTTbRJxRA%3Ds200.png)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258037/original/028342400_1781299407-000_B6XD8QZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1541481/original/029951000_1489915850-2022-World-Cup-006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)