Banjir Musiman Hantui Warga Tegalbuleud Sukabumi, Rumah dan Ratusan Hektar Sawah Terendam

Hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam (11/08/2025) memicu bencana banjir di dua desa di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi.

Diperbarui 12 Agustus 2025, 15:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam (11/08/2025) memicu bencana banjir di dua desa di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Desa Buniasih dan Desa Tegalbuleud menjadi wilayah terdampak luapan Sungai Ciparanje.

Bencana ini bukan kali pertama terjadi, melainkan fenomena musiman yang terus berulang setiap tahun. Kejadian ini menimbulkan kerugian besar, baik bagi properti maupun sektor pertanian warga.

Kepala Desa Tegalbuleud, Ramdan Arif Firmansyah, menjelaskan bahwa bencana kali ini berdampak pada ribuan rumah dan ratusan hektar lahan pertanian. Hingga Selasa (12/8), banjir merendam ribuan rumah serta ratusan hektar sawah.

"Diperkirakan ada 5.000 rumah dari dua desa yang terdampak. Total kerugian lahan pertanian mencapai 500 hektar," ungkapnya.

Data ini menunjukkan skala kerugian yang signifikan bagi masyarakat setempat.Kondisi sawah yang terendam juga bervariasi. Menurut Ramdan, ada yang sudah berhasil dipanen, ada yang baru saja ditanam, bahkan ada pula yang siap untuk dipanen.

Situasi ini membuat para petani menghadapi kesulitan besar, karena hasil panen yang diharapkan lenyap diterjang banjir.

 

Pendangkalan Sungai

Ramdan menambahkan bahwa banjir ini adalah bencana musiman yang sudah sering terjadi. Ia menekankan perlunya solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini. "Banjir musiman seharusnya ada solusinya," katanya.

Ia mengusulkan adanya pengerukan untuk mengatasi pendangkalan sungai Ciparanje, dari perbatasan Desa Tegalbuleud-Buniasih hingga Muara Cibuni.

Terkait solusi yang diusulkan, Ramdan mengakui hingga saat ini belum ada realisasi.

"Saya sudah mengirimkan proposal ke kabupaten, lalu ada kementerian pertanian juga, kemarin saya sudah ngobrol, tapi sampai saat ini belum ada realisasi," tuturnya.

Ketiadaan tindak lanjut ini membuat warga khawatir bencana serupa akan terus berulang, terutama saat hujan intensitas tinggi mulai mengguyur.

 

Dampak Banjir

Noris, Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Tegalbuleud, membenarkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab banjir.

Ia menjelaskan bahwa air merendam jalan-jalan desa, namun tidak sampai masuk ke dalam pemukiman warga, hanya di depan rumah dengan ketinggian air setinggi betis.

Tak hanya itu, banjir juga merendam fasilitas publik. Noris melaporkan bahwa SMK Tegalbuleud yang berada di pinggir Sungai Ciparanje juga terdampak. "Lapangan upacara SMK terendam sampai lutut," jelasnya.

Ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya dirasakan oleh warga, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan di desa tersebut.

Saat ini, kondisi air dilaporkan mulai surut dengan ketinggian sekitar 15 hingga 30 cm. Meskipun demikian, ancaman banjir musiman akibat pendangkalan Sungai Ciparanje masih menjadi persoalan serius.