Ikut Daftarkan Anak ke Sekolah Rakyat, Sejumlah Keluarga Mampu Gagal Lolos Verifikasi

Mereka tak lolos verifikasi lantaran saat disurvei ternyata mereka memiliki rumah yang bagus.

OlehFauzan
Diperbarui 11 Juli 2025, 20:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Program Sekolah Rakyat berbasis asrama yang segera dibuka di Makassar disambut antusias. Namun, dalam proses seleksi, sejumlah pendaftar dari keluarga mampu ditemukan mencoba masuk. Setelah diverifikasi melalui kunjungan lapangan, mereka dinyatakan gugur karena tidak sesuai sasaran program.

Kepala Sentra Wirajaya Makassar, Nur Alam, mengungkapkan bahwa program Sekolah Rakyat memang dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Oleh karena itu, seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan tepat sasaran.

"Jadi pada saat pendaftaran siswa Sekolah Rakyat itu, ternyata ada dari keluarga mampu. Pas di-screening dan dicek rumahnya, ternyata rumah bagus. Tentu saja itu tidak lolos seleksi," ujar Alam, Jumat (11/7/2025).

Selain temuan pendaftar dari keluarga mampu, tim seleksi juga menjumpai kasus orang tua yang enggan mengizinkan anaknya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Rakyat. Beberapa di antaranya lebih memilih anaknya membantu mencari nafkah.

"Memang kami menemukan juga beberapa kasus seperti itu. Tapi dengan pendekatan yang persuasif dan memberi pemahaman bahwa pendidikan ini demi masa depan anak, para orang tua akhirnya mengerti," jelas Alam.

Sekolah Rakyat merupakan program nasional dari Kementerian Sosial RI yang bertujuan memberikan akses pendidikan gratis dan setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Salah satu lokasi pelaksanaan program ini berada di Sentra Wirajaya, kawasan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Tallo, Makassar.

“Total di Sulawesi Selatan saat ini ada 15 titik Sekolah Rakyat. Kami di Sentra Wirajaya ditargetkan menampung 150 siswa tingkat SMP,” tambahnya.

Alam menyebutkan bahwa seleksi peserta dilakukan tanpa tes akademik. Sebagai gantinya, tim dari Kemensos, BPS, PUPR, dan pemerintah daerah melakukan asesmen lapangan dengan merujuk pada Data Tunggal Kesejahteraan Sosial (DTKS) serta kondisi faktual di lapangan.

“Tujuan program ini adalah memutus mata rantai kemiskinan. Karena itu, seleksi difokuskan hanya kepada mereka yang benar-benar layak dan membutuhkan,” tegasnya.

Anak-anak yang terpilih akan menjalani pendidikan berbasis asrama. Mereka akan mendapatkan fasilitas lengkap, seperti makan tiga kali sehari, dua kali camilan, seragam, alat tulis, dan pembinaan karakter. Pembelajaran akan didukung oleh 13 guru profesional lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang juga bertugas sebagai pendamping siswa.

"Nanti juga akan ada wali murid untuk setiap 10 siswa, serta wali asrama yang bertugas melakukan pembinaan karakter di luar pengajaran akademik," pungkas Nur Alam.

Simak juga video pilihan berikut ini;: