Gamolan Pekhing, Warisan Musik Tradisional Lampung Menggetarkan Jiwa

Alat ini biasanya terdiri dari delapan hingga dua belas bilah bambu yang disusun sejajar dan ditopang oleh rangka kayu atau bambu lainnya.

Diterbitkan 09 Juli 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di balik megahnya kekayaan budaya Nusantara, Provinsi Lampung menyimpan sebuah pusaka musik tradisional yang unik dan sarat makna. Gamolan Pekhing alat musik ini merupakan gambaran harmonis antara kreativitas, kepekaan terhadap alam, dan rasa cinta terhadap tradisi leluhur.

Terbuat dari bambu pilihan, Gamolan Pekhing dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus, menghasilkan suara yang kaya resonansi, lembut sekaligus tajam, mengalun dalam pola ritme yang membangkitkan nuansa mistis sekaligus penuh semangat.

Masyarakat Lampung tidak sekadar melihat Gamolan Pekhing sebagai instrumen hiburan semata, melainkan juga sebagai medium spiritual dan simbol identitas budaya yang menghubungkan mereka dengan sejarah panjang nenek moyang.

Gamolan Pekhing sering dianggap sebagai cikal bakal dari alat musik gamelan yang lebih dikenal di Jawa, namun memiliki karakteristik bunyi dan struktur yang berbeda.

Alat ini biasanya terdiri dari delapan hingga dua belas bilah bambu yang disusun sejajar dan ditopang oleh rangka kayu atau bambu lainnya. Masing-masing bilah telah dilubangi dan ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan nada-nada tertentu.

Dalam pertunjukannya, Gamolan Pekhing tidak hanya berdiri sendiri, tetapi bisa menjadi bagian dari ansambel musik tradisional yang mengiringi tarian, upacara adat, hingga pertunjukan teater rakyat. Tak jarang, suara gamolan digunakan dalam ritual penyambutan tamu penting sebagai simbol penghormatan dan keramahan yang dalam.

Asal-usul Gamolan Pekhing sendiri dipercaya telah ada sejak zaman prasejarah, bahkan beberapa peneliti meyakini bahwa alat musik ini telah eksis sebelum berkembangnya sistem penulisan aksara di wilayah Lampung.

Momen Sakral

Dalam kebudayaan masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin, Gamolan Pekhing dulunya hanya boleh dimainkan dalam momen-momen sakral atau peristiwa penting seperti pernikahan adat, penyambutan pahlawan perang, hingga ritual tolak bala.

Tradisi ini menunjukkan bahwa Gamolan Pekhing bukan sekadar alat musik, melainkan juga medium komunikasi spiritual antara manusia dan kekuatan alam semesta. Di balik dentingan nada-nadanya, tersimpan nilai-nilai filosofi lokal tentang keseimbangan, keselarasan, dan keterikatan manusia dengan alam.

Kini, keberadaan Gamolan Pekhing mulai kembali digali dan diangkat ke permukaan sebagai bagian dari gerakan pelestarian budaya Lampung. Pemerintah daerah, komunitas seniman, hingga lembaga pendidikan seni mulai menjadikan alat musik ini sebagai bahan ajar, bahkan menampilkannya dalam festival musik tradisional nasional maupun internasional.

Generasi muda Lampung pun perlahan mulai mengenal dan mencintai kembali Gamolan Pekhing, menjadikannya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari identitas masa kini yang terus hidup dan berkembang.

Meskipun zaman terus berubah, suara bambu Gamolan Pekhing tetap memantul di ruang-ruang budaya, menyuarakan kisah-kisah lama dalam irama yang tak pernah pudar.

Penulis: Belvana Fasya Saad

Â