Perjuangan Hasna Angkat Pendidikan Dasar Sukabumi Hingga Panggung UNESCO

Seorang mahasiswa di Universitas Nusa Putra menjadi sorotan setelah terpilih sebagai salah satu Young Teacher Advocate dalam program prestisius UNESCO Education Youth Advocate - Young Teacher Network.

Diterbitkan 29 Juni 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sukabumi - Upaya meningkatkan dunia pendidikan di kancah globa terus menjadi sorotan, adalah Hasna Iftikhar S, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nusa Putra angkatan 2022, menjadi sorotan setelah terpilih sebagai salah satu Young Teacher Advocate dalam program prestisius UNESCO Education Youth Advocate - Young Teacher Network. 

Namun, di balik pencapaian gemilang ini, tersimpan motivasi mendalam yang berakar dari pengalaman pahitnya di lapangan. Program hybrid yang dihelat oleh UNESCO Regional Office Jakarta sejak 12 Juni 2025 ini mempertemukan Hasna dengan perwakilan dari Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor-Leste. 

Selama enam bulan ke depan, ia tidak hanya akan membangun jaringan dengan praktisi pendidikan se-Asia, tetapi juga secara khusus akan menyuarakan isu-isu pendidikan dasar di Sukabumi. Perjalanan mahasiswa Sukabumi ini menuju program UNESCO bukanlah tanpa hambatan. Awalnya, pada Januari, ia sempat mendaftar program Youth Activist Incubator yang diadakan oleh UN Women Indonesia, namun tidak berhasil lolos. 

"Saya tidak merasa berkecil hati karena saya memiliki kesempatan untuk memiliki jaringan pada kegiatan yang diadakan oleh UN Women, United Nations, UNESCO, dan yang lainnya," ujar Hasna, dikonfirmasi pada Senin (23/6/2025). 

Pada April, sebuah peluang baru muncul dari kanal sosial media UNESCO, pada program Education Advocate Young Teachers Network 2025. "Tentunya saya sangat tertarik untuk mengikuti peluang pada program tersebut, karena program ini sangat sejalan dengan jurusan saya di kuliah yaitu PGSD," jelasnya. 

Setelah mendaftar, pada 23 Mei 2025, Hasna mendapatkan kabar gembira, ia terpilih sebagai salah satu dari 20 calon guru muda dari Indonesia.

Realita Pendidikan di Pelosok Sukabumi

Pada kesempatan ini, Hasna membawa isu terkait krisis pendidik di tingkat pendidikan dasar yang semakin marak. Fenomena itu didapat dari pengalaman saat dirinya menjalankan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di dua sekolah dasar berbeda di Sukabumi. "Singkat cerita, ketika saya sedang menjalankan kegiatan PPL dan KKN di salah satu SD yang berbeda mengalami krisis pendidik dan ada beberapa siswa yang mempunyai keterbelakangan mental," ungkap Hasna. 

Salah satu SD KKN-nya terletak di Sukaraja, sebuah daerah terpencil yang minim perhatian pemerintah. Di sana, ia bahkan menemukan siswa dengan masalah mental dan disleksia yang membuat guru kewalahan. Situasi serupa ditemuinya saat PPL, meskipun lokasinya lebih strategis. "Dilihat dari segi fasilitas yang kurang baik, karena bangunannya yang sudah terlihat tua dan hanya terdapat beberapa ruangan dan itupun satu ruangan dipakai untuk 2 kelas. Guru di sana hanya ada kurang lebih 8 orang," kenangnya. 

Ia menggambarkan betapa minimnya jumlah tenaga pengajar. Pengalaman-pengalaman inilah yang membulatkan tekad Hasna. "Ini adalah suatu hal yang perlu kita khawatirkan sebagai generasi muda yang harus melakukan perubahan yang lebih baik, kita jangan hanya diam dan melihat apa yang terjadi sekarang tetapi harus bergerak dan mencari solusi untuk masa depan yang lebih baik," tegasnya.

Aksi Nyata di Sukabumi

Dari program UNESCO ini, Hasna menargetkan tiga luaran utama yaitu mengadvokasi isu-isu pendidikan, menguatkan suara generasi muda, dan bergabung dalam jaringan untuk para pendidik muda. Secara spesifik untuk Sukabumi, ia ingin mengimplementasikan dorongan partisipasi masyarakat dalam pendekatan yang fokus pada akses dan kualitas pendidikan. "Melibatkan pemangku kepentingan, terutama pemuda dan siswa, untuk mengubah pendidikan secara bermakna," ungkapnya. 

Menurutnya, pengalaman ini menunjukkan komitmennya untuk membawa perubahan nyata, dimulai dari tanah kelahirannya, Sukabumi, hingga panggung pendidikan global.