Liputan6.com, Bandung - Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Jalan Indramayu, Kelurahan Antapani Kidul, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, diklaim akan segera bertransformasi menjadi pusat pengelolaan sampah terpadu.
Mulai awal Juli 2025, TPS ini ditargetkan dapat mulai beroperasi penuh dengan mengandalkan teknologi insinerator berkapasitas 20 ton per hari.
"TPS ini sebenarnya hanya untuk penampungan dan pengangkutan. Namun insyaallah, mulai dua minggu lagi, kita sudah bisa mulai operasional penuh," ujar Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam keterangan pers di Bandung.
Advertisement
Salah satu komponen utama yang akan dipasang adalah insinerator dengan kapasitas 20 ton per hari. Alat ini berfungsi untuk membakar sampah residu yang tidak dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Insinerator ini akan diintegrasikan dengan sistem pemilahan sampah terlebih dahulu, guna memisahkan antara sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Area TPS ini telah dibersihkan dan siap untuk pemasangan fasilitas tambahan. Jalur masuk kendaraan akan tetap melalui pintu utama yang sama, dengan rencana pembangunan jembatan timbang di sisi area masuk.
Jembatan timbang ini akan menjadi titik awal kontrol sebelum kendaraan memasuki drop zone. Setelah sampah diturunkan, akan dilakukan pemilahan awal di conveyor dan gearbox sebelum diproses lebih lanjut.
Bahan organik yang bisa dimanfaatkan akan dialirkan ke rumah maggot di RW 14. Sedangkan sampah anorganik akan dipilah dan disalurkan ke jalur daur ulang, seperti plastik dan kardus.
TPS ini dirancang untuk melayani setidaknya 26 RW di wilayah Kecamatan Antapani. Kawasan tersebut meliputi mayoritas RW di Kelurahan Antapani Kidul dan Antapani Tengah, serta satu RW dari wilayah sekitar yang ikut serta dalam program ini.
“Jadi ada 26 RW yang akan menyuplai sampah ke sini. Nantinya sampah itu akan dipilah, dikelola, lalu dimusnahkan sebagian dengan insinerator,” jelas Farhan.
Simak Video Pilihan Ini:
Kolaborasi Seskoad untuk Zona Bebas Sampah
Di tengah meningkatnya urgensi pengelolaan sampah di Kota Bandung, kawasan Komplek Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Jalan Gatot Subroto, digadang jadi percontohan pengolahan sampah terpadu.
Diprakarsai oleh Brigjen TNI Masduki sebagai Direktur Lembaga Seskoad, kawasan menjadi zona zero waste yang mengintegrasikan teknologi pengolahan sampah dengan pendekatan ketahanan pangan.
Menurut Masduki, pembenahan lingkungan menjadi salah satu tugas utama Lembaga Seskoad. Salah satu bentuk nyata dari komitmen itu adalah pendirian sistem pengolahan sampah mandiri di dalam kompleks.
“Kami ingin lingkungan di Seskoad ini bersih, tertib, aman, dan sehat. Salah satu langkahnya adalah mengelola sampah secara terpadu. Mulai dari pemilahan, pemrosesan organik dan anorganik, hingga daur ulang menjadi kompos, pupuk cair, pakan ternak, dan paving block,” ungkap Masduki, Selasa, 17 Juni 2025m lewat siaran pers.
Sistem ini tidak hanya ditujukan untuk internal kompleks, tetapi juga melibatkan kontribusi dari hotel-hotel sekitar yang turut mengirimkan sampah terpilah.
Penanggung jawab teknis di lapangan, Sersan Mayor (Serma), Ifnu Dwi Cahyono, menjelaskan bahwa pengolahan sampah di kompleks ini dilakukan oleh tim khusus beranggotakan enam orang.
Setiap hari, mereka memulai kegiatan sejak pukul 05.00 WIB dengan pengumpulan dan pemilahan sampah dari rumah-rumah dinas dan hotel sekitar.
Rata-rata, mereka memproses 3–3,5 ton sampah per hari. Sampah-sampah ini kemudian dipilah:• Sampah organik dapur dan daun diolah menjadi kompos dan pupuk cair.• Sisa makanan dimanfaatkan sebagai pakan ternak bebek.• Sampah residu seperti plastik atau non-organik non-recycle diolah melalui pembakaran terkontrol dan abunya diolah menjadi paving block.
“Kami punya pabrik kecil untuk produksi paving block. Kualitasnya sudah kami uji di laboratorium, dan memiliki daya tahan hingga 12 N atau mampu menahan beban setara 30 ton, melebihi rata-rata paving di pasaran,” tutur Ifnu.
Paving block tersebut dijual seharga Rp1.500 per buah, lebih murah dari harga pasaran karena diproduksi mandiri dengan bahan baku sendiri.
Sementara itu, Lurah Lingkar Selatan Kecamatan Lengkong, Asep Achmad Arifin, yang menaungi wilayah RW 7 (lokasi Seskoad) menyatakan, kolaborasi antara institusinya dengan Seskoad berlangsung sangat intens.
“Saya mendampingi sejak awal. Kami bantu mesin pencacah, kontainer, bahkan bibit ternak. Komplek ini sudah menjadi kawasan terintegrasi. Ada pengelolaan sampah, rumah kompos, bahkan ketahanan pangan seperti ternak bebek dan buruan saian di sepanjang jalan,” jelas Asep.
Ia juga menyebutkan, Seskoad menjadi contoh keberhasilan penerapan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) yang terus didorong oleh Pemerintah Kota Bandung.
Asep menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat secara konsisten.
“Kalau kita komit dan konsisten, insyaallah Bandung bisa menuju kota zero waste,” pungkasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304320/original/074308900_1784712554-cek_fakta_lowongan_SKK_Migas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2365270/original/068589700_1537681835-20180923-Pawai-Kampanye-Damai-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304429/original/014311000_1784714561-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5258299/original/050917800_1750355871-WhatsApp_Image_2025-06-19_at_09.13.15.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3210944/original/096752400_1597631196-Bandara_Husein.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974820/original/069920300_1782983461-WhatsApp_Image_2026-07-02_at_14.16.05.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297482/original/011710100_1784094767-WhatsApp_Image_2026-07-15_at_12.26.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295485/original/092604800_1783931295-WhatsApp_Image_2026-07-13_at_14.48.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723723/original/038352000_1705983003-gantunmg_diri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294092/original/079672400_1783785034-2f6f6d83-bc05-4f66-ae73-21e5369298d4.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292131/original/017836900_1783586490-Wisata_di_Bandung_Timur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292538/original/064506300_1783604530-Bandara_Husen_Sastranegara-9_Juli_2026a.jpg)