Cublak-Cublak Suweng, Media Dakwah Sunan Giri dalam Permainan Tradisional Jawa

Gerakan dan syair dalam permainan tersebut mengandung simbol-simbol kehidupan yang berkaitan dengan ajaran Islam. Syair cublak-cublak suweng memiliki kandungan filosofis yang mendalam di balik kesederhanaan liriknya.

Diterbitkan 08 Juni 2025, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Lagu permainan Jawa cublak-cublak suweng mengandung makna filosofis dan nilai-nilai Islam. Karya Sunan Giri tersebut merupakan salah satu bentuk dakwah yang disampaikan melalui syair sederhana dan permainan interaktif.

Mengutip dari berbagai sumber, cublak-cublak suweng muncul pada masa penyebaran Islam di Jawa, khususnya pada era walisanga. Sunan Giri, salah satu anggota walisanga, dikenal sebagai tokoh yang menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan ajaran agama.

Lagu ini diciptakan sebagai sarana pendidikan moral bagi anak-anak sekaligus sebagai bagian dari strategi dakwah yang tidak bersifat konfrontatif. Permainan ini umumnya dimainkan oleh sekelompok anak dengan satu anak berperan sebagai pencari suweng (anting-anting) yang disembunyikan.

Gerakan dan syair dalam permainan tersebut mengandung simbol-simbol kehidupan yang berkaitan dengan ajaran Islam. Syair cublak-cublak suweng memiliki kandungan filosofis yang mendalam di balik kesederhanaan liriknya.

Baris pembuka cublak-cublak suweng menggambarkan pencarian manusia terhadap harta duniawi, di mana suweng (anting-anting) menjadi simbol kekayaan material. Pencarian ini dilanjutkan dalam baris suwenge ting gelenter yang menunjukkan bahwa harta tersebut berserakan dan tidak mudah ditemukan, mengisyaratkan bahwa kekayaan sejati dalam hidup tidak selalu tampak di permukaan.

 

Makna Filosofis

Makna filosofis pada baris mambu ketundhung gudel, di mana kata gudel (anak kerbau) melambangkan kebodohan atau nafsu duniawi yang perlu dikendalikan manusia. Hal ini mengingatkan bahwa dalam pencarian harta dan kebahagiaan.

Pada baris pak empo lera-lere yang menggambarkan tangan yang terus bergerak, melambangkan usaha dan kerja keras manusia dalam mencari rezeki dan kehidupan yang lebih baik. Pesan filosofis puncak terdapat pada baris terakhir sapa ngguyu ndhelikake yang mengandung makna bahwa siapa yang tertawa dengan bangga atau sombong justru akan menyembunyikan harta sejati berupa kebaikan dan kebijaksanaan.

Meskipun berasal dari abad ke-15, cublak-cublak suweng masih dikenal di kalangan masyarakat Jawa, khususnya dalam lingkungan pendidikan dan kegiatan budaya. Sunan Giri dan walisanga lainnya menggunakan pendekatan serupa, seperti melalui wayang, tembang, dan permainan, untuk menyebarkan Islam secara damai.

Penulis: Ade Yofi Faidzun