Siswa SD Dapat Pelajaran Coding dan AI, Pakar UGM Singgung Penguatan Literasi Digital

Pendidikan kecerdasan buatan (AI) dan coding akan segera diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026 sebagai mata pelajaran (mapel) pilihan untuk anak kelas 5 Sekolah Dasar.

Diterbitkan 24 Mei 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Pemerintah akan menerapkan mata pelajaran pilihan kepada anak kelas 5 sekolah dasar soal pembelajaran coding dan AI atau kecerdasan buatan. Merespon ini Iradat Wirid, peneliti transformasi digital dari Center for Digital Society (CfDS) UGM, mengatakan jika pemerintah tak perlu terburu-buru memberikan pendidikan AI dan Coding bagi siswa SD.

Menurut Iradat pemerintah saat ini seolah latah dalam menanggapi tren teknologi AI. Padahal penyampaian mata pelajaran itu dapat berdampak negatif bagi anak kalau tidak diperkuat dengan literasi digital yang cukup. "Dalam pelaksanaannya, kita perlu penyampaian materi yang berjenjang. Jangan sampai kita langsung mengajarkan aplikasi AI ke anak SD, itu akan jadi bencana. Kita harus membekali anak dengan logika, etika, dan literasi digital terlebih dahulu," tegasnya, Senin 19 Mei 2025.

Iradat menyebut tiga fondasi penting yang harus melekat dalam kurikulum Pembelajaran Coding dan AI untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Pertama adalah etika, pengenalan AI kepada pelajar tidak boleh semata-mata menonjolkan kecanggihan aplikasi, tapi harus disertai pemahaman soal hak, dampak, dan batasan penggunaannya. "Jangan sampai hanya sebatas mengajarkan penggunaan aplikasinya saja. Apalagi mengajarkan cara pakai ChatGPT ke anak SD karena kita akan melahirkan generasi yang instan," paparnya.

Kedua, literasi digital pelajar perlu ditata ulang secara mendasar dengan mencakup kemampuan memilah informasi yang layak, memahami aturan. Selain itu pelajar harus mengetahui mana yang etis serta legal dalam konteks penggunaan teknologi. "Teknologi harus dikendalikan manusia, bukan kita yang terombang-ambing. Pendekatan berbasis kemanusiaan salah satunya melalui literasi digital yang terus ditingkatkan harus menjadi dasar,” ungkapnya

Ketiga, berpikir kritis. Sebab kehadiran teknologi baru harus menumbuhkan nalar kritis pelajar, bukan malah membuat mereka pasif. "Kalau AI hanya jadi alat yang meninabobokan, itu akan sia-sia. Anak-anak harus diajak mempertanyakan, mengkritisi, dan memahami dampak teknologi," ujarnya.

Iradat mengatakan Indonesia harus belajar dari pengalaman baik di negara global, tetapi disesuaikan dengan konteks budaya dan kesiapan lokal. Tiongkok, misalnya, membangun pendidikan AI terintegrasi dari Bawah untuk mendukung industri teknologi mereka. Selain itu, India juga fokus membentuk sumber daya manusia digital sejak tingkat menengah, sementara Brasil mendorong pendidikan AI terapan di level vokasi. "Pun di Swedia, siswa kelas 1-3 sudah dikenalkan pada matematika dasar yang dikaitkan dengan teknologi, juga studi sosial agar mereka paham dampak sosial teknologi. Ini penting, supaya coder masa depan tetap punya kepekaan manusiawi, bukan cuma asal bisa pakai aplikasi," jelasnya.

Iradat menekankan Pembelajaran Coding dan AI harus butuh kesinambungan lintas kurikulum yang menurutnya, Indonesia sudah termasuk tertinggal melaksanakan ini, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tetapi program ini selalu dikawal dengan konsisten dan kurikulumnya tidak bergonta-ganti. “Asal jangan sampai tidak diteruskan lagi setelah 5 tahun berlalu," tambahnya.

Iradat mengatakan dalam konteks implementasi, ia optimistis guru-guru Indonesia mampu mengajarkan logika penerapan dan pemahaman dasar tentang AI, asalkan didukung kebijakan yang serius dan fasilitasi pemerintah daerah. "Sebenarnya guru-guru kita mampu karena itu basic pengajaran. Dananya juga kita lihat ada. Tinggal mau atau tidak mencerdaskan bangsa ini sepenuh hati,” ujarnya.