Ini Alasan SMA Kolese De Britto Tolak Konvoi Kelulusan yang Ganggu Ketertiban

Tradisi ini hanya dilakukan jika seluruh angkatan lulus 100%. Jika ada yang tidak lulus, kegiatan long march ditiadakan sebagai bentuk solidaritas.

Diperbarui 12 Mei 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - SMA Kolese De Britto Yogyakarta memilih tradisi longmars dan bakti sosial sebagai bentuk perayaan kelulusan. Aksi ini merupakan bentuk tolak praktik konvoi dan corat-coret yang kerap menimbulkan gangguan ketertiban.

Konvoi kelulusan dengan sepeda motor dan corat-coret seragam telah lama menjadi sorotan karena menimbulkan masalah seperti kemacetan dan pelanggaran lalu lintas. Fenomena ini sering mengganggu aktivitas warga, terutama di kawasan pusat kota seperti Tugu Jogja.

Mengutip dari berbagai sumber, sejak 2009 SMA Kolese De Britto secara tegas menghindari praktik tersebut dengan menggantinya melalui long march sejauh 5,5 km dari sekolah ke Tugu Jogja. Kegiatan long march tidak sekadar berjalan kaki.

Selama perjalanan siswa membersihkan sampah di jalan, membagikan makanan kepada tukang becak, pedagang kaki lima, dan warga kurang mampu. Aksi ini merupakan implementasi dari nilai sekolah yang berlandaskan slogan ad maiorem dei gloriam (demi kemuliaan Allah yang lebih besar).

Tradisi ini hanya dilakukan jika seluruh angkatan lulus 100%. Jika ada yang tidak lulus, kegiatan longmars ditiadakan sebagai bentuk solidaritas.

Pandemi COVID-19 juga sempat menghentikan tradisi pada 2020–2021. Langkah ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan karena mengurangi dampak negatif perayaan kelulusan. Warga tidak lagi resah dengan keributan atau sampah akibat konvoi.

 

Disumbangkan

Bahkan, aksi bersih-bersih dan bakti sosial siswa kerap viral di media sosial. Alih-alih dicoret, seragam mereka disumbangkan kepada siswa kurang mampu.

Kebijakan SMA Kolese De Britto tidak muncul tiba-tiba. Guru dan pihak sekolah aktif mengedukasi siswa tentang tanggung jawab sosial serta dampak negatif konvoi.

Salah seorang guru menjelaskan bahwa long march dirancang untuk menunjukkan bahwa kelulusan bisa dirayakan tanpa merusak atau mengganggu. Masyarakat, termasuk warganet, kerap memuji tradisi ini.

Banyak komentar di media sosial berharap sekolah lain mencontoh metode serupa. Beberapa sekolah di Yogyakarta mulai mengadopsi konsep serupa, meski belum seintensif SMA Kolese De Britto.

Penulis: Ade Yofi Faidzun