Momen Guru dan Pelajar Korban Erupsi Bencana Gunung Lewotobi Rayakan Hardiknas di Pengungsian

Hardiknas dalam suasana bencana erupsi Lewotobi Laki-laki memberi kesan mendalam bagi pelajar dan guru

Diperbarui 05 Mei 2025, 06:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Flores Timur - Ratusan siswa dan guru TK hingga SMA merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2025 di tempat pengungsian Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, Jumat 2 Mei 2025 pagi.

Mereka merayakan di lima titik, yakni dua titik di sekitar Poslap Desa Konga dan satu di lapangan Desa Konga, satu di Poslap Desa Kobasoma, serta satu di Poslap Desa Bokang Wolomatang.

Para guru maupun siswa penyintas merayakan Hardiknas 2025 dengan beragam makna. Pada momentum bersejarah itu, mereka mengenang sang pelopor Hardiknas, Ki Hajar Dewantara.

Hardiknas dalam suasana bencana erupsi Lewotobi Laki-laki memberi kesan mendalam bagi pelajar dan guru.

"Di manapun kalian berada, kalian adalah orang-orang kuat yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, sekalipun bencana," pesan Wakil Kepala Sekolah Kurikulum SMA PGRI Gelekat Lewo Boru, Yosef Jati, dalam amanatnya sebagai pembina upacara di camp darurat Pos Lapangan (Poslap) Konga.

Bangunan SMA PGRI Gelekat Lewo terpaut jarak kurang dari 5 kilometer dengan Gunung Lewotobi Laki-laki sudah porak-poranda pasca erupsi melanda wilayah itu beberapa waktu lalu.

Simak Video Pilihan Ini:

Sekolah Darurat

Mereka kini melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah darurat di Desa Konga, Kecamatan Titehena.

Meski demikian, semangat guru dan siswa penyintas tetap membara. Mereka menggelar apel di tengah ribuan pengungsi yang tinggal di camp-camp darurat.

Sementara itu, di Poslap Kobasoma, sejumlah anak Taman Kanak-kanak (TKK) tampak sibuk mewarnai. Mereka duduk lesehan pada terpal biru usang. Didampingi sejumlah guru, bocah di bawah enam tahun itu membubuhkan warna di atas gambar bertema pendidikan, seperti ruang kelas, bangunan sekolah, dan lingkungan.

Ruang Refleksi di Tengah Bencana

Salah seorang guru, Eril Ladjar, mengatakan anak-anak tetap ceria selama berada di camp pengungsian.

Hardiknas, ungkapnya, sebagai ruang refleksi tentang sejauh mana pendidikan membawa perubahan di tengah bencana.

"Kami tetap semangat sekalipun menjadi korban bencana. Anak-anak dididik dan dilatih menjadi pribadi yang tangguh," ujarnya.