Sukses

Salah Kaprah Tes Kepribadian MBTI, Ini Kata Psikiater

Liputan6.com, Yogyakarta - The Myers Briggs Type Indicator atau yang biasa disingkat MBTI merupakan metode pengukuran yang digunakan untuk membaca kepribadian seseorang. MBTI biasanya digunakan untuk memahami bagaimana seseorang menilai sesuatu dan membuat keputusan.

MBTI mengklasifikasikan kepribadian menjadi empat dimensi, yakni extrovert (E) vs introvert (I), sensing (S) vs intuition (N), thinking (T) vs feeling (F), serta judging (J) vs perceiving (P). Tes ini bahkan bisa dilakukan secara online melalui beberapa situs.

Berdasarkan pembagian dimensi tersebut, terdapat 16 tipe kepribadian yang ada dalam MBTI, mulai dari INFP, INTJ, INFJ, INTP, ENTJ, ENTP, ENFJ, ENFP, ISFJ, ISFP, ISTJ, ISTP, ESFJ, ESFP, ESTJ, hingga ESTP. Namun, ternyata  sistem MBTI tidak dipakai para psikolog dalam mengategorikan kepribadian seseorang.

Psikiater sekaligus guru mindfulness internasional dan penulis buku, dr. Jiemi Ardian SpKJ mengatakan, MBTI disebut sebagai alat ukur kepribadian yang tidak sepenuhnya valid. Meski tak valid, banyak orang yang menyukainya karena merasa berkaitan dan cocok dengan kategori yang dipakai oleh MBTI.

Melalui akun Instagramnya @jiemiardian, ia memaparkan beberapa alasan yang membuat seseorang menyukai tes kepribadian tersebut. Apa saja?

1. Manusia menyukai penjelasan tentang dirinya

Alasan pertama yakni karena umumnya manusia suka dijelaskan tentang dirinya. Ada kebutuhan dalam diri manusia untuk memahami diri sendiri.

Oleh sebab itu, ketika ada kategori-kategori yang mencoba menjelaskan tentang dirinya, manusia akan terasa lebih berkaitan. MBTI membuat seseorang memiliki gambaran peta bayangan tentang dirinya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Butuh Cara Sederhana

2. Manusia membutuhkan cara sederhana untuk memahami diri sendiri dan orang lain

Alasan kedua yang dipaparkan dr Jiemi adalah karena manusia selalu ingin bisa memahami diri sendiri dan orang lain. Kehadiran MBTI seolah menjadi cara sederhana untuk dapat memenuhi keinginan tersebut.

Pasalnya, kategori MBTI terbilang sangat sederhana. Misalnya, thinking vs feeling, yang akan mengategorikan seseorang ke dalam tipe pemikir atau parasa.

Namun, pada kenyataannya manusia terlalu kompleks atau rumit untuk dikategorikan sesederhana itu. Kerumitan itu bisa berkutat pada pikiran yang memengaruhi perasaan, perasaan yang memengaruhi pikiran, atau justru masa lalu yang memengaruhi pikiran dan perasaan.

3. MBTI membuat seseorang merasa lebih baik dari kenyataannya

Bisa dikatakan bahwa kategori-kategori dalam MBTI bisa membuat seseorang merasa memiliki kepribadian yang baik. Dalam anagram tipe-tipe MBTI hanya disebutkan kategori-kategori baik, seperti helper, achiever, hingga peace maker.

Dengan kata lain, tak ada kategori buruk yang tertulis di MBTI. Padahal, alat ukur skala yang sebenarnya terdapat kategori baik maupun buruk.

Lebih lanjut dr Jiemi mengatakan bahwa pada skala pengukur kepribadian akan selalu ada masalah dan kekurangan. Sementara MBTI hanya memaparkan kesan baik saja.

 

Penulis: Resla Aknaita Chak

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS