Sukses

Makna Halal Bihalal yang Jadi Tradisi Setelah Lebaran Idul Fitri di Berbagai Negara

Liputan6.com, Denpasar - Momen hari raya Idul Fitri hingga kini masih terasa hangat. Meskipun hari raya sudah lewat satu pekan, namun acara halal bihalal masih marak dilakukan. Bagi pekerja kantoran biasanya halal bihalal dilakukan saat hari pertama kerja usai lebaran.

Halal bihalal berasal dari bahasa Arab “halal” yang artinya melepas. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, halal memiliki makna saling melegakan atau melepaskan. Lawannya adalah haram yang berarti tertutup.

Meski halal berasal dari bahasa Arab, namun tidak diketahui maknanya oleh orang Arab. Menurut Nasaruddin, halal bihalal adalah budaya Islam di Indonesia yang menjadi tradisi setiap tahunnya saat hari raya Idul Fitri tiba.

“Meskipun demikian, tradisi halal bihalal ini sudah menjadi tradisi internasional. Di mana ada kedutaan-kedutaan Indonesia di situ menjadikan halal bihalal itu sebagai suatu tradisi di kedutaan,” tuturnya dikutip dari YouTube Qolbu Quran, Senin (9/5/2022).

Seiring berjalannya waktu, istilah halal bihalal pun mendunia. Nasaruddin menyebut Malaysia dan Brunei Darussalam sudah memperkenalkan halal bihalal di negerinya.

**Pantau arus mudik dan balik Lebaran 2022 melalui CCTV Kemenhub dari berbagai titik secara realtime di tautan ini

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 2 halaman

Makna Halal Bihalal

Nasaruddin Umar memaknai bahwa halal bihalal adalah upaya untuk saling membebaskan kesalahan sesama manusia. Sebab, Allah SWT tidak berkenan memaafkan orang yang terkait dosa dengan sesama manusia.

“Dosa untuk dirinya sendiri Insyaallah, Allah maha pengampun. Maka itu apa artinya kita sudah dimaafkan oleh Allah tapi dosa horizontal kita sesama umat manusia ini tidak dimaafkan, itu menjadi kendala kita. Amalan-amalan kita tidak sampai ke langit selama silaturahim kita ini belum terselesaikan dengan baik,” katanya.

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia 2011-2014 ini mengingatkan agar segera meminta maaf kepada sesama manusia, terutama kedua orangtua. Jika tidak bisa bertemu dengan orangtua, dapat melalui sambungan telepon. Syukur-syukur bisa langsung bertemu dan meminta maaf kepada orangtua secara langsung.

“Kalau enggak ziarahi makam orangtua. Kalau tidak sempat minimum membaca surat Al-Fatihah kepada almarhum-almarhumah orangtuanya yang sudah mendahuluinya atau siapapun yang berjasa,” ujarnya.

“Maka ini adalah silaturahim. Kematian tidak boleh menjadi penghalang untuk melakukan silaturahim,” sambung dia.