Sukses

Asal Mula Malam Jumat dan Selasa Kliwon Dicap Keramat

Liputan6.com, Yogyakarta - Rupanya kemistisan malam Jumat Kliwon sudah dipercaya masyarakat secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Meskipun belum ada dokumen maupun cerita yang dapat dipastikan kebenarannya mengenai hal ini, ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Terutama, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Anggapan masyarakat mengenai kemistisan Jumat Kliwon semakin diperkuat dengan banyaknya film horor yang menggambarkan malam Jumat Kliwon sebagai malam yang keramat bahkan angker. Sehingga, tidak heran apabila anggapan keangkeran Jumat Kliwon semakin mendarah daging.

Dikutip dari berbagai sumber, mulanya Jumat Kliwon dianggap merupakan puncak tradisi puasa selama 40 hari. Menurut kepercayaan leluhur yang berkembang di Yogyakarta, mengamalkan puasa 40 hari dapat menolak bahaya. Sehingga, peringatan Jumat Kliwon dilakukan bertujuan untuk mengingatkan amalan puasa ini.

Alih-alih merayakan Jumat Kliwon setelah berhasil menjalani puasa selama 40 hari. Kepercayaan masyarakat lambat laun berubah, seiring banyaknya masyarakat Jawa yang melakukan ritual khusus seperti memasang sajen, ruwatan, dan tradisi lainnya.

Biasanya, masyarakat Jawa akan begadang hingga pagi dan mengisi waktu dengan ritual khusus. Hal inilah yang membuat tidak banyak orang keluar rumah saat malam Jumat Kliwon tiba. Mereka memilih melakukan berbagai ritual khusus yang tidak jarang bersinggungan dengan hal-hal gaib.

Ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa malam Jumat Kliwon menjadi waktu turunnya makhluk mistis genderuwo untuk mencari mangsa. Sehingga, pada malam hari, banyak orang tidak berani untuk keluar rumah.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Malam Selasa Kliwon

Tetapi, malam Jumat Kliwon bukan satu-satunya malam yang dianggap angker dan mistis oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Malam Selasa Kliwon juga dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Alasannya, pada malam itu, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya melakukan ritual di Sela Sengker di kawasan Cepuri. Pelaku ritual mempercayai ada penunggu di kawasan itu yang harus diberi sajen. Mereka adalah Nyi Roro Kidul yang dipercaya merupakan wakil dari Ratu Kidul atau Gusti Kanjeng Ratu Kidul, sebagai penguasa laut selatan.

Orang yang melakukan ritual biasanya berharap keinginannya terkabul. Setiap ritual berlangsung, kawasan tersebut menjadi sangat kental dengan aroma mistis.

Maka tidak heran jika malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon selalu dianggap keramat. Saat ritual berlangsung, peziarah melakukan doa di Batu Sengker kemudian menaruh seluruh sajen yang akan dipersembahkan untuk Ratu Kidul. Setelah itu, sajen dihanyutkan di Pantai Parangkusumo Yogyakarta yang jaraknya 300 meter di sebelah selatan Cepuri.

Penulis: Tifani