Sukses

Erick Tohir Puji Langkah BUMN Buka Keran Bibit Unggul Sawit untuk Petani

Liputan6.com, Pekanbaru - Koperasi Unit Desa (KUD) Mojopahit Jaya, Desa Sari Galuh, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, menaman bibit sawit unggul di lahan seluas 879 hektare. Ini merupakan bagian program peremajaan sawit rakyat (PSR) mitra PT Perkebunan Nusantara V.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyaksikan langsung penanaman perdana ini. Erick menyatakan adanya bibit unggul sawit kepada petani merupakan terobosan yang harus dipertahankan direksi PTPN V.

"Ini kebijakan luar biasa ketika banyak perusahaan mengontrol bibit sawit unggul kepada petani, kita (PTPN) malah buka," kata Erick, Jum'at petang, 26 November 2021.

Menurut Erick, kebijakan anak perusahaan PTPN III ini sangat tepat karena memberikan kontribusi positif dan nyata kepada para petani. Petani juga diminta membuka diri agar kemitraan yang terjalin saling menguntungkan.

Petani yang tergabung di KUD diminta tak segan-segan mengutarakan persoalan. Dia pun menjamin perusahaan akan merespons karena manajemen PTPN yang sekarang sangat berbeda karena fokus melayani rakyat dan mendengarkan petani.

"Di tengah berbagai kekurangan, PTPN telah menuju ke arah yang lebih baik, buka diri dengan transformasi pola kemitraan saat ini," kata Erick.

Erick mengakui masih cukup banyak petani sawit di Riau belum berkeinginan mengikuti program PSR PTPN. Hal itu tak lepas dari sejarah panjang dan dinamika yang terjadi di masa lampau sehingga meminta petani untuk melihat manajemen saat ini.

"Kita akui banyak kekurangan, saya mohon percayakan kembali, sampaikan ke petani bahwa kita ini sudah berubah, kita saling untung," tegas Erick.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 3 halaman

Merasa Untung

Di sela-sela penanaman, Erick sempat berdialog dengan sejumlah petani, salah satunya Tukimin. Anggota KUD mengaku memiliki tingkat ekonomi yang baik dengan menjadi petani sawit mitra PTPN V sejak 1989 silam.

"Selama bergabung di PTPN kami semua bisa sekolahkan anak, bangun rumah, dan lain sebagainya pak," kata Tukimin.

Sementara itu, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) Mohammad Abdul Ghani menjelaskan, PSR harus dipercepat mengingat tingginya disparitas produktivitas antara petani dan korporasi.

Sebagai perbandingan, produktivitas CPO (Crude Palm Oil) petani hanya berkisah 3 ton CPO/Ha/tahun. Sementara di perusahaan itu mencapai 5-7 ton CPO/Ha/tahun.

"Ini yang menjadi pertimbangan kita agar proses peremajaan perlu diakselerasi," ujar Ghani.

Ghani mengatakan, 212.396 hektare perkebunan sawit rakyat atau plasma mitra di Indonesia menghadapi persoalan serupa. Oleh karena itu, dirinya mendorong perusahaan aktif melakukan peremajaan sawit rakyat hingga 2022 mendatang dengan target 42.182 hektare.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer PTPN V Jatmiko K Santosa mengucapkan terima kasih kepada Erick Thohir dan Ghani yang mendukung penuh program PSR PTPN V.

"Kami bersama seluruh petani sangat berbangga hati dengan kehadiran Bapak Menteri," buka Jatmiko.

3 dari 3 halaman

Empat Program

Jatmiko menjelaskan, peremajaan kebun KUD Mojopahit merupakan milik 439 kepala keluarga petani. Mereka bersedia mengganti sawit usia renta dengan tanaman baru menggunakan bibit unggul bersertifikasi.

Peremajaan sejak September ini menggunakan 126 ribu bibit unggul varietas PPKS 540 NG. Potensi produksinya diprediksi mencapai 28 ton per tahun per hektare serta memiliki masa panen enam bulan lebih cepat atau hanya 2,5 tahun menuju tanaman menghasilkan satu (TM1).

"Selain potensi produktivitas tinggi, bibit ini juga tahan penyakit ganoderma yang banyak menyerang tanaman sawit di desa," katanya.

Jatmiko mengakui cukup banyak tantangan selama proses peremajaan sawit rakyat. Untuk itu, PTPN V pun menyiapkan empat program percepatan peremajaan sawit rakyat.

Pertama adalah pola single manajemen, kedua penyediaan bibit unggul bersertifikat, ketiga kemitraan swadaya yang siap sebagai off taker, dan terakhir pemberdayaan KUD untuk menjadi calon mitra teknis para petani.

"Semua langkah itu kita tempuh dengan satu tujuan, menyejahterakan petani sawit," kata Jatmiko.